Kisah Nabi Isa a.s
KISAH NABI ISA a.s.
Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi di sekitar pepohonan.
Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab
dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusyuk dalam solat
tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahawa udara dipenuhi
dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan solatnya dengan
khusyuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.
Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan
mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan
mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat bahawa
beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua
batu yang tumbuh di luar masjid. Maryam menyelesaikan solatnya lalu ia keluar dari
mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:
"Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan
melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." (QS.Ali 'Imran: 42)
Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu
dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam
merasa bahawa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana rohaninya
dan fiziknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat
perubahan itu. Tetapi ia merasa bahawa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai
meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih
banyak. Beliau menyedari bahawa ia sedang gugup. Beliau merasakan kelemahan
manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan
kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam rohnya. Perasaan yang demikian ini
justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahawa ia akan
memikul tanggung jawab besar.
"Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita
di dunia (yong semasa dengan kamu)." (QS. Ali 'Imran: 42)
Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahawa Allah SWT
telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia.
Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:
"Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang
yang ruku." (QS. Ali 'Imran: 43)
Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan
kekhusyukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap
pohon mawar dan beliau kembali solat. Maryam merasakan bahawa sesuatu yang
besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi
perasaan itu semakin menguat saat ini.
Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit sedangkan
bulan duduk di atas singgahsananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan
yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih
sibuk dalam solatnya. Beliau menyelesaikan solatnya dan teringat pohon mawar itu lalu
beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.
Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari masjid yang
hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia
sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang
khusus bagi Maryam untuk melakukan solat di dalamnya atau beribadah. Maryam
mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana,
kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.
Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang menggoncang bumi. Beliau tidak
mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi beliau mendengar suara kaki yang menetap
di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahawa ia tidak
sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian
kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di
sana. Maryam gementar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata
dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada
wajah orang asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di
mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya
memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan
kerendahan hati yang mengagumkan.
Pandangan pertama yang di lihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan,
bahawa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah
SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini?
Kemudian seakan- akan orang asing itu membaca fikiran Maryam dan berkata: "Salam
kepadamu wahai Maryam." Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia
di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:
"Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,
jika kamu seorang yang bertakwa." (QS. Maryam: 18)
Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya,
"Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?"
Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:
"Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu
seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam: 19)
Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi
cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan,
cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat
jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: "Aku adalah seorang utusan
Tuhanmu." Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang
telah berubah wujud menjadi manusia.
Maryam mengangkat kepalanya dengan gementar menahan luapan cinta. Jibril berdiri
di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan
kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahawa Jibril memiliki kemuliaan yang
diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam
mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan
bahawa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam
seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahawa dirinya adalah seorang
perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar
oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan.
Fikiran- fikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:
"Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang
tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang
penzina!" (QS. Maryam: 20)
Jibril berkata:
"Demikianlah Tuhanmu berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat
Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan
hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."' (QS. Maryam: 21)
Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahawa ini
adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan
terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh
seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang
ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada lelaki dan wanita.
Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.
Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia
memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk
terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:
"Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera
yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari- Nya, namanya al-Masih Isa
putera Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk
orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia
dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang
yang soleh." (QS. Ali 'Imran: 45-46)
Kehairanan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu
di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia mengetahui bahawa anaknya itu
akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakkan
lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan
mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang
bercahaya yang belum pernah di lihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut
ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan
yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.
Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera
kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam solat yang
khusyuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan
kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak
Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahawa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan
tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam
perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan roh-
Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang
rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.
Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama
ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi
dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu.
Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kelmarin, yaitu bagaimana kejadian
saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril,
bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke
mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil
melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan
ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: "Engkau tidak lagi sendirian wahai
Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.
Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeza dengan kandungan
umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan
sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya
wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik.
Datanglah bulan yang ke sembilan. Ada sebahagian ulama yang mengatakan bahawa
Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.
Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahawa sesuatu
akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya
membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu
tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun kerana saking jauhnya; tempat yang tidak
diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.
Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahawa sedang hamil dan ia akan
melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang
mengetahui bahawa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang
mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan
tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin
terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:
"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal
pohon kurma, ia berkata: 'Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku
menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS. Maryam: 23)
Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-
penderitaan lain yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut
anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui
bahawa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan
bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak
itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan
keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berfikir bagaimana reaksi manusia kepadanya
dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan
kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan
dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:
"Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak
sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, nescaya
pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum
dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka
katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha
Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.'" (QS. Maryam: 24-26)
Maryam melihat al-Masih yang tampan wajahnya. Wajahnya tidak kemerah-merahan
dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir di saat itu, tetapi ia berkulit
lembut dan putih. Anak itu diselimuti dengan kesucian dan kasih sayang; anak itu
berbicara kepada Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya
agar menggoyangkan batang-batang pohon kurma supaya jatuh darinya sebahagian
buahnya yang lazat dan Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga
hatinya pun penuh dengan kedamaian serta kegembiraan dan tidak berfikir tentang
sesuatu pun. Jika Maryam melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata
kepada mereka bahawa ia bernazar kepada Allah SWT untuk berpuasa dan tidak
berbicara kepada seseorang pun.
Maryam melihat al-Masih dengan penuh kecintaan. Anak itu baru dilahirkan beberapa
saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab ibunya di atas pundaknya.
Selanjutnya, ia akan memikul penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahawa
wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu tanda yang mengisyaratkan
bahawa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi untuk
memberinya segala sesuatu. Maryam menghulurkan tangannya ke pohon kurma yang
besar. Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah darinya buah kurma yang
masih muda dan lazat. Maryam makan dan minum dan kemudian ia memangku
anaknya dengan penuh kasih sayang.
Saat itu, Maryam merasakan kegoncangan yang hebat. Silih-berganti ketenangan dan
kegelisahan menghampirinya. Segala fikirannya tertuju pada satu hal, yaitu Isa. Ia
bertanya-tanya dalam dirinya: Bagaimana orang-orang Yahudi akan menyambutnya,
apa yang akan mereka katakan tentangnya, apa yang akan mereka katakan terhadap
Maryam, apakah para pendeta dan para pembesar Yahudi percaya bahawa Maryam
melahirkan seorang anak tanpa disentuh oleh seseorang pun? Bukankah mereka
terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan penipuan? Apakah seseorang di antara
mereka akan percaya - padahal ia jauh dari langit - bahawa langit telah memberinya seseorang anak.
Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke
kaumnya. Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di
jalan yang dilalui Maryam menuju masjid dipenuhi dengan manusia. Mereka sibuk
dengan jual-beli. Mereka duduk berbincang-bincang sambil minum anggur. Belum lama
Maryam melewati pasar itu sehingga manusia melihatnya membawa seorang anak kecil
yang didakapnya. Salah seorang bertanya: "Bukankah ini Maryam yang masih
perawan? Lalu, anak siapa yang dibawanya itu?" Seorang yang mabuk berkata: "Itu
adalah anaknya." Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya. Akhirnya,
orang-orang Yahudi mulai "mengepung" dengan berbagai macam pertanyaan: "Anak
siapa ini wahai Maryam, mengapa engkau tidak mengembalikannya, apakah itu
memang anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak
sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?"
"Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat
dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina." (QS. Maryam: 28)
Maryam dituduh melakukan pelacuran. Mereka menyerang Maryam tanpa terlebih
dahulu mendengarkan sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan
bahawa perkataan mereka memang benar. Maryam dicerca sana-sini dan ia diingatkan,
bahawa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah
ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua
tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya
dipenuhi dengan cahaya keyakinan. Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan
keadaan semakin sulit, maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia
menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya. Maryam menunjuk Isa.
Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan. Mereka memahami bahawa
Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada
anak itu. Para pembesar Yahudi bertanya: "Bagaimana mereka akan melontarkan
pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu
akan berbicara di buaiannya" Mereka berkata kepada Maryam:
"Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?"
(QS. Maryam: 29)
Berkata Isa:
"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (injil) dan Dia
menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di
mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) solat dan
(menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak
menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga
dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan
pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. " (QS. Maryam: 30-33)
Belum sampai Isa menuntaskan pembicaraannya sehingga wajah-wajah para pendeta
dari kalangan Yahudi dan para uskup tampak pucat. Mereka menyaksikan mukjizat
terjadi di depan mereka secara langsung. Anak kecil itu berbicara di buaiannya; anak
kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak kecil yang mengatakan bahawa Allah SWT
telah memberinya al-Kitab dan menjadikannya seorang Nabi. Ini berarti bahawa
kekuasaan mereka sebentar lagi akan hancur. Setiap orang dari mereka akan menjadi
tidak berarti ketika anak kecil itu dewasa. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat
"menjual pengampunan" kepada manusia atau menghakimi mereka melalui penyataan
bahawa ia adalah wakil dari langit yang turun di bumi. Atau pernyataan, bahawa hanya
dia yang mengetahui syariat.
Para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi keperibadian yang akan datang
kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini. Kedatangan al-Masih berarti
mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah SWT. Ini
berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang mereka yakini. Perbezaan antara
ajaran- ajaran Musa dan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi menyerupai perbezaan
antara bintang-bintang di langit dan lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi
menyembunyikan kisah kelahiran Isa dan bagaimana ia berbicara di masa buaian.
Mereka justru menuduh Maryam yang masih perawan dengan kebohongan yang besar.
Mereka menuduh Maryam melakukan pelacuran, padahal mereka menyaksikan sendiri
mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.
Mula-mula cerita tentang itu mereka sembunyikan untuk beberapa saat. Meskipun
demikian, berita tentang kelahiran Isa sampai ke Hakim Romawi, yaitu Heradus. Ia
memimpin orang-orang Palestina dan orang- orang Yahudi dengan kekuatan pedang.
Ia menakut-nakuti mereka dengan menumpahkan darah serta banyaknya mata-mata
yang dimilikinya. Pada suatu hari, ia duduk di istananya dan meminum anggur. Lalu ia
mendengar berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa ayah; seorang
anak yang dikatakan ia mampu berbicara saat masih di buaian, lalu ia menyampaikan
pembicaraan yang menjurus pada ancaman terhadap kekuasaan Romawi. Kemudian
bergetarlah kursi yang ada di bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan
suatu pertemuan mendadak yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para mata-
matanya. Pertemuan itu pun terlaksana. Heradus duduk dengan wajahnya yang hitam
mengkilat, lalu ia memutarkan pandangannya ke arah mata-matanya dan bertanya:
"Bagaimana berita anak kecil yang berbicara di buaiannya?"
Salah seorang kepala mata-mata berkata: "Tampak bahawa masalahnya tidak benar.
Kami telah mendengar isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahawa ia
membuat mukjizat dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak
buahku untuk mencari kebenaran berita itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas
bagi kami, bahawa berita itu dilebih-lebihkan." Kemudian salah satu anggota mata-mata
raja berkata: "Aku telah mendapatkan bukti yang terpercaya bahawa tiga orang dari
orang-orang Majusi datang di balik suatu bintang yang mereka lihat menyala di suatu
langit dan bintang tersebut mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa
mukjizat, yaitu anak kecil yang akan menyelamatkan kaumnya." Hakim berkata:
"Bagaimana ia dapat menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang
diselamatkannya?" Salah seorang mata-mata berkata: "Anak buahku tidak
mengetahuinya kerana orang-orang pandai dari Majusi itu pergi dan tak seorang pun menemukan mereka."
Hakim berkata: "Bagaimana mereka dapat pergi dan bersembunyi lalu bagaimana
cerita anak kecil ini? Apakah di sana ada persekongkolan untuk menentang Romawi?"
Hakim melompat dari tempat duduknya ketika ia menyebut Romawi, dan ia mulai
berbicara dengan keadaan emosi: "Aku menginginkan kepala tiga orang yang cerdik itu
dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan aku menginginkan informasi
yang lengkap. Sungguh masalah ini semakin samar hai orang-orang yang bodoh." Lalu
kepala mata-mata berkata: "Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang
Yahudi bahawa mereka melihatnya." Hakim berkata: "Sungguh kepala-kepala kalian
semua akan terbang lebih cepat dari merpati jika kalian tidak mendatangkan cerita
secara lengkap tentang anak ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari sini."
Anak buah Heradus dan para mata-mata pergi, sedangkan ia masih duduk memikirkan
masalah tersebut. Tampaknya masalah itu sangat menggelisahkannya. Ia tidak peduli
dengan kedatangan agama baru kepada manusia tetapi yang difikirkannya adalah
kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya. Kemudian Heradus menetapkan untuk
memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang masalah ini. Para
pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu. Tidak beberapa lama orang
Yahudi itu ada di depan hakim. Heradus berkata: "Aku ingin berbicara kepadamu
tentang suatu masalah yang sangat menggelisahkanku." Pendeta Yahudi itu berkata:
"Aku ingin mengabdi kepadamu."
Heradus berkata: "Aku mendengar berita-berita yang saling berlawanan tentang anak
kecil yang bisa berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahawa ia akan
menyelamatkan kaumnya. Maka bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?"
Pendeta itu berkata - dan ia merasa bahawa pertanyaan itu sepertinya berupa jebakan
yang tidak diketahuinya secara pasti: "Apakah tuan yang mulia peduli dengan agama
Yahudi?" Heradus berkata dalam keadaan emosi: "Aku tidak peduli sedikit pun selain
kekuasaan Romawi. Jawablah pertanyaanku wahai pendeta." Pendeta Yahudi itu telah
melihat Isa berbicara di buaiannya. Ia memahami bahawa seandainya ia mengatakan
itu, maka ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih sedikit
berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahawa ia mendengar cerita itu tetapi ia meragukannya.
Heradus berkata: "Apakah benar agama kalian berbicara tentang kedatangan seorang
penyelamat bagi rakyat kalian?" Pendeta berkata: "Ini benar wahai tuan yang mulai."
Heradus berkata: "Apakah kalian mengetahui ini adalah persekongkolan menentang
keamanan kerajaan Romawi? Apakah kalian menyedari ini adalah bentuk
pengkhianatan?" Pendeta berkata: "Aku harap tuan membiarkan aku meluruskan suatu
pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal itu adalah berita yang kuno. Berita ini
diyakini ketika rakyat menjadi tawanan di Bebel sejak ratusan tahun."
Heradus berkata: "Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini?
Sekarang, apakah kamu secara peribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat
anak kecil itu yang mereka katakan bahawa ia dilahirkan tanpa seorang ayah?"
Pendeta itu berkata: "Apakah ada seorang yang percaya wahai tuan yang mulia jika
dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Ini adalah mimpi rakyat biasa."
Heradus berkata: "Tidak ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa
selain mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-
berita, maka sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada isterimu."
Belum lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berfikir, bagaimana seandainya
pendeta itu berbohong. Ia menangkap benang kebohongan pada kedua matanya. Ia
mengetahui kebohongan ini kerana ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian
bagaimana cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang? Apakah di sana
terdapat persekongkolan menentang Romawi yang tidak diketahuinya?
Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk
menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau ia akan melihat akibatnya.
Mula-mula dia memerintahkan untuk mencari gadis perawan yang melahirkan anak itu
dan membunuh setiap anak yang lahir di saat itu. Sementara itu, Maryam keluar dari
Palestina menuju ke Mesir. Sebelumnya, pada suatu malam, datanglah kepadanya
seseorang yang belum pernah dilihatnya dan orang itu menyampaikan salam
kepadanya serta menyerukannya dan sambil berkata: "Bawalah anakmu wahai Maryam
dan keluarlah menuju Mesir." Dengan nada ketakutan Maryam bertanya, "Mengapa?
Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir; dan bagaimana aku bisa mengenali jalan?"
Orang asing itu menjawab, "Keluarlah engkau nescaya Allah SWT akan melindungimu.
Sesungguhnya Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu."
Maryam bertanya: "Kapan aku keluar?" Orang asing itu menjawab: "Sekarang juga.
Janganlah engkau khawatir sedikit pun kerana engkau keluar bersama seorang Nabi
yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan rumah mereka.
Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan
kebaikan tetapi pada akhirnya, kebaikan akan kembali menduduki singgahsananya.
Keluarlah wahai Maryam." Akhirnya, Maryam pun pergi menuju ke Mesir. Maryam
melalui gurun Saina' bersama suatu kafilah yang menuju Mesir. Maryam berjalan
membawa Isa di jalan yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa di mana ditampakkan
kepada Nabi Musa api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi thur al-Aiman. Setelah
melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Maryam sampai di Mesir. Mesir yang
dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan, kebudayaan klasik serta cuacanya yang stabil
mempakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa as.
Al-Masih tumbuh dan berkembang serta menjalani masa kecilnya di Mesir. Kemudian
datanglah kepada Maryam orang asing yang telah memerintahkannya untuk
meninggalkan Palestina. Kali ini, ia memerintahkannya untuk kembali ke Palestina.
Orang asing itu berkata kepadanya: "Raja yang lalim telah mati, maka kembalilah
bersama anakmu wahai Maryam. Telah datang kesempatan emas bagi Isa untuk
menduduki singgahsananya. Isa akan menjadi penyayang orang-orang fakir dan orang-
orang yang benar. Kembalilah wahai Maryam." Maryam pun kembali. Dalam perjalanan
Maryam melalui banyak mata air di sungai Jordania.
Isa pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa keluar dari
rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu bertepatan dengan
hari Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat
menyalakan api atau memadamkannya pada hari Sabtu, atau mengambil buah di hari
itu. Dilarang bagi seorang wanita untuk membikin adunan roti atau seseorang anak
kecil mencuci anjingnya. Nabi Musa telah memerintahkan untuk menghormati hari
Sabtu dan hanya mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu sehingga hari Sabtu menjadi hari
yang sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi. Mereka melaksanakannya
dengan berbagai macam tradisi dan mereka mencurahkan segala konsentrasi mereka
untuk menjaga hari Sabtu dan tidak meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahawa
hari Sabtu adalah hari yang dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia
sebagaimana mereka percaya bahawa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu
jalur saja, yaitu menjaga hari Sabtu. Mereka bangga kerana mereka dapat menjaganya
meskipun hal itu menyebabkan mereka kalah di kancah peperangan atau mereka
tertawan di tangan musuh. Bahkan saking ketatnya mereka mempertahankan
kehormatan hari Sabtu sampai- sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam
larangan di hari Sabtu. Majlis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak
boleh dilakukan di hari Sabtu, seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari
Sabtu. Seorang yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di
tempat yang sakit pada hari Sabtu atau memanggil doktor. Dilarang pula di hari Sabtu
untuk menulis dua huruf abjad; dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari
Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian, berpergian di hari
Sabtu diharuskan untuk tidak lebih dari dua ribu ela. Dilarang juga di hari Sabtu untuk
membawa sesuatu ke luar rumah.
Jadi, banyaknya syariat, hukum serta larangan-larangan biasanya diikuti dengan
banyaknya keburukan atau paling tidak membantu terciptanya keburukan. Setiap timbul
suatu larangan, maka timbul bersamanya cara untuk menghindar darinya. Demikianlah,
kehidupan kaum Yahudi dipenuhi dengan kemunafikan yang luar biasa di mana secara
lahiriah mereka menampakkan penghormatan terhadap hari Sabtu, tetapi secara
batiniah mereka berusaha menodai kehormatan dengan berbagai macam cara.
Meskipun kelompok Farisiun bertanggungjawab terhadap tugas pelaksanaan syariat
dan mengawasinya dengan banyak mendapatkan jaminan-jaminan, maka kita akan
melihat bahawa mereka siap untuk menciptakan berbagai rekayasa dan tipu daya yang
memungkinkan mereka untuk menghindar dari hukum-hukum syariat di saat yang tepat.
Saat yang tepat adalah saat di mana syariat-syariat tersebut bertentangan dengan
kepentingan peribadi mereka atau dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk
mendapatkan mata pencarian yang haram yang sudah siap masuk pada kantung
mereka. Misalnya, terdapat kaedah syariat yang menetapkan perjalanan pada hari
Sabtu tidak boleh melebihi dua ribu ela. Namun orang-orang Farisiun mengadakan
walimah di mana mereka mengundang orang-orang untuk menghadiri acara tersebut
pada hari Sabtu, padahal tempat diadakannya acara itu berjarak lebih dari dua ribu ela
dari rumah mereka. Lalu, bagaimana mereka dapat melaksanakan hal tersebut? Sangat
mudah sekali. Mereka meletakkan pada sore hari Sabtu sebahagian makanan yang
berjarak dua ribu ela dari rumah mereka lalu setelah itu mereka mendirikan suatu
tempat tinggal di mana mereka dapat berjalan setelahnya dan menempuh dua ribu ela
yang lain. Dari sini mereka dapat menambah jarak yang mereka inginkan. Begitu juga
agar mereka menghindar dari larangan membawa sesuatu ke luar rumah pada hari
Sabtu, maka mereka membuat tipu daya yang lain. Yaitu mereka mendirikan gerbang-
gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan sehingga seluruh kota seperti rumah besar
yang dimungkinkan bagi mereka untuk membawa segala sesuatu dan bergerak di dalamnya.
Contoh lain yang menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi mempermainkan
syariat sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah, bahawa syariat Musa
menetapkan agar seorang anak menginfaki kedua orang tuanya saat mereka menginjak
usia tua dan memerlukannya. Tetapi kaum Farisiun memberikan kesempatan kepada
anak-anak untuk lari dan menghindar dari tanggung jawab ini dengan suatu tipu daya
yang sederhana. Ketika seorang anak dituntut oleh kedua orang tuanya untuk memberi
nafkah, maka ia pergi ke para pendeta dan bersepakat kepada mereka untuk
mewakafkan semua hartanya dan kekayaannya kepada haikal, yaitu tempat sembahan
kaum Yahudi. Saat itu kedua orang tuanya tidak mampu mengambil sesuatu pun
darinya. Ketika mereka berdua telah putus asa dan tidak lagi menuntut padanya untuk
memberi nafkah, maka semua harta kekayaannya akan dikembalikan kepadanya oleh
para pendeta, dengan catatan hendaklah ia memberikan bahagian tertentu dari
hartanya kepada para pendeta itu. Demikianlah yang terdapat dalam Injil Mata.
Di tengah-tengah suasana kebodohan pemikiran yang luar biasa ini, juga terdapat sikap
keras kepala dan kejumudan berfikir yang mengelilingi kaum Yahudi. Terdapat tujuh
tingkat kesucian dan dua puluh enam solat yang harus mereka lakukan saat mereka
membasuh tangan sebelum memakan makanan, namun mereka menganggap bahawa
meniadakan pembacaan solat-solat sebagai bentuk pembunuhan terhadap jiwa dengan
cara bunuh diri dan tercegah dari kehidupan abadi. Demikianlah kekerasan sikap
masyarakat Yahudi yang menunjukkan bahawa moral mereka telah rosak dan dipenuhi
dengan kemunafikan yang tiada taranya.
Sementara itu, Isa berjalan menuju tempat beribadah. Orang-orang berjalan di
sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan pakaian- pakaian yang berwarna dan
berharga sedangkan Isa berjalan dengan memakai baju putih dan menampakkan
kezuhudannya. Rambut Isa tampak lembut yang mencapai kedua bahunya dan tampak
ia basah terkena air awan yang menurunkan gerimis. Kemudian kedua kakinya berjalan
di atas tanah sehingga tanah itu dipenuhi dengan bau harum yang tidak diketahui
sumbernya. Baju yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana
dan kasar. Meskipun hari itu hari Sabtu, Isa memetik buah di suatu kebun dan
mengambil dua buah yang beliau berikan kepada anak kecil yang fakir dan lapar.
Tindakan semacam ini menurut kepercayaan Yahudi dianggap sebagai tindakan yang
menentang agama Yahudi.
Isa mengetahui bahawa menjalankan agama yang hakiki bukan terletak pada ketaatan
luaran sementara hati jauh dari sikap rendah diri. Oleh kerana itu, Isa mencabut buah
dan memberikan makan kepada manusia pada hari Sabtu. Beliau menyalakan api
untuk wanita-wanita tua sehingga mereka tidak mati kedinginan.
Isa sering mengunjungi tempat sesembahan orang Yahudi. Isa berdiri di dalamnya dan
mengamati para pendeta dan manusia yang hilir mudik di sekitarnya. Sesampainya Isa
di tempat sembahan, ia berdiri di dalamnya. Isa mengamat-amati apa yang ada di
dalamnya. Dinding-dinding tempat beribadah itu terbuat dari kayu gaharu yang memiliki
bau yang harum. Di samping itu, terdapat kelambu-kelambu yang terbuat dari kain-kain
yang mengagumkan yang dicampur dengan emas. Juga terdapat lampu-lampu yang
terhulur dari atap dan juga ada lilin-lilin yang memenuhi ruangan dengan cahaya.
Meskipun demikian, kegelapan menyelimuti hati orang- orang yang ada di situ.
Nabi Isa berdiri cukup lama di tempat penyembahan itu. Setiap kali ia memutarkan
wajahnya, ia mendapati para pendeta di sana. Terdapat dua puluh ribu pendeta. Nama-
nama mereka tercatat dalam haikal. Mereka adalah kaum Waliyun yang memakai saku-
saku yang besar yang di dalamnya ada kitab-kitab syariat. Sedangkan kaum Farisiun,
mereka memakai pakaian yang lebar yang sisi-sisinya tertenun dengan emas. Mereka
adalah pembantu haikal yang resmi dengan memakai baju-baju mereka yang putih.
Adapun kaum Shaduqiyun adalah kelompok para pendeta aristokrat yang bersekutu
dengan penguasa di mana mereka memperoleh kekayaan melalui persekutuan ini. Nabi
Isa memperhatikan bahawa jumlah pengunjung haikalita lebih sedikit daripada jumlah
para pendeta dan para tokoh agama. Tempat penyembahan itu dipenuhi dengan
kambing dan merpati yang dibeli oleh para pengunjung tempat penyembahan itu.
Mereka menyerahkannya sebagai korban kepada Allah. Yaitu korban yang disembelih
di dalam tempat persembahan di atas tempat penyembelihan. Alhasil setiap langkah
yang diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan itu akan menghasilkan wang.
Di tempat penyembahan Yahudi itulah tersingkap hakikat kehidupan kaum Yahudi. Nilai
satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman itu adalah wang. Jadi, kemewahan
materi atau kekayaan adalah nilai satu-satunya yang kerananya manusia akan bergulat
satu sama lain. Dalam hal itu, tidak ada perbezaan antara tokoh-tokoh pembawa ajaran
syariat dengan manusia-manusia biasa. Kaum Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja
sama di antara mereka di dalam haikal itu seakan-akan mereka di dalam suatu pasar di
mana mereka memanfaatkannya untuk diri mereka dengan terus mencari korban-
korban di dalamnya. Sering kali kaum Shaduqiyun dan Farisiun berseteru dalam
persoalan syariat dan hukum. Demikian juga, mereka berseteru dalam menentukan
korban yang harus mereka raih di haikal itu. Kaum Farisiun berpendapat bahawa
haiwan-haiwan korban itu harus dibeli dari harta haikal sedangkan kaum Shaduqiyun
menganggap bahawa harta dari haikal adalah hak mereka. Oleh kerana itu, mereka
menganggap bahawa haiwan korban itu harus dibeli dengan jumlah tersendiri. Begitu
juga kaum Farisiun mewajibkan untuk membakar haiwan yang disembelih di atas
tempat penyembahan, sedangkan kaum Shaduqiyun mereka mengambil haiwan
sembelihan ini untuk diri mereka sendiri.
Di dalam Talmud disebutkan bahawa kaum Shaduqiyun menjual merpati di toko-toko
mereka yang mereka miliki. Mereka sengaja memperbanyak kesempatan-kesempatan
yang diharuskan di dalamnya untuk mengorbankan burung-burung merpati sehingga
harga seekor burung merpati saja mencapai beberapa Dinar. Melihat hal itu, salah satu
tokoh Farisiun yaitu Sam'an bin Amlail mengeluarkan fatwa yang intinya mengurangi
kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya seseorang menyerahkan
merpati sebagai korban. Setelah itu, harga burung cuma mencapai seperempat Dinar.
Pergelutan antara kedua kelompok itu mendatangkan pukulan berat bagi pemilik toko
yang menyimpan burung merpati terutama anak-anak dari kepala pendeta.
Nabi Isa memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya; Nabi Isa melihat kaum fakir
yang tidak mampu membeli haiwan korban sehingga mereka tidak mampu berkorban;
Nabi Isa melihat bagaimana para pendeta memperlakukan mereka dan memangsa
mereka seperti serigala yang buas. Nabi Isa berfikir di dalam dirinya, mengapa
binatang-binatang itu mereka bakar lalu dagingnya menjadi asap di udara, padahal di
sana terdapat ribuan kaum fakir yang mati kelaparan? Mengapa mereka mengira
bahawa Allah SWT redha ketika tempat penyembelihan dilumuri dengan darah, lalu
haiwan korban itu dibawa ke rumah-rumah para pendeta dan toko-toko mereka untuk
dijual? Mengapa orang-orang fakir banyak berhutang dan mengeluarkan banyak wang
untuk membeli binatang-binatang korban? Mengapa binatang-binatang korban itu harus
dimiliki dan hanya dirawat oleh para pendeta lalu apa yang mereka lakukan dengan
wang-wang ini? Lalu, di manakah tempat orang-orang fakir di haikal itu? Bukankah hal
yang aneh ketika seseorang memasuki rumah dengan keharusan membawa wang?
Nabi Isa pergi dari tempat penyembahan itu dan ia meninggalkan kota menuju gunung.
Dada Nabi Isa dipenuhi dengan kecemburuan yang suci terhadap yang Maha Benar.
Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat berbagai macam kejahatan memenuhi
dunia. Nabi Isa berdiri di atas sebuah bukit dan beliau mulai melakukan solat. Titisan-
titisan air mata mulai berlinang dari pipinya dan jatuh ke bumi. Nabi Isa mulai merenung
dan menangis. Di sana terdapat bunga yang nyaris mati kerana kehausan lalu ketika ia
mendapatkan titisan air mata al-Masih, maka bunga itu mekar kembali dan
mendapatkan kehidupan. Titisan air mata al-Masih menyelamatkannya, sebagaimana
beliau akan menyelamatkan manusia dengan dakwahnya. Di malam yang penuh
berkah ini pula, dua orang Nabi yang mulia meninggalkan bumi, yaitu Nabi Yahya dan
Nabi Zakaria. Kedua Nabi itu dibunuh oleh penguasa. Sejak kepergian mereka berdua,
bumi kehilangan banyak dari kebaikan. Pada malam itu juga, turunlah wahyu kepada
Isa bin Maryam. Allah SWT memutuskan perintah- Nya agar ia memulai dakwahnya.
Nabi Isa menutup lembaran halus dari kehidupannya yaitu lembaran yang penuh
dengan tafakur dan ibadah. Beliau memulai perjalanannya yang berat dan penuh
tantangan serta penderitaan: beliau mulai berdakwah di jalan Allah SWT; beliau mulai
membangun kerajaan yang tegak berdasarkan kerendahan hati dan cinta. Kerajaan
yang penguasanya bertujuan untuk membebaskan dan menyucikan roh. Kerajaan yang
memancarkan sikap rendah diri dan cinta. Nabi Isa ingin menyelamatkan rohani. Ajaran
Nabi Isa berdasarkan keimanan terhadap hari kiamat dan kebangkitan. Nilai-nilai dan
pemikiran tersebut tidak ditemukan dalam kehidupan orang-orang Yahudi.
Syariat Musa menetapkan pemberlakuan hukum qisas: barang siapa yang memukulmu
di pipi sebelah kananmu, maka pukullah pipi sebelah kanannya. Lalu bagaimanakah
orang-orang Yahudi menerapkan hukum qisas tersebut? Jika yang dipukul mampu
untuk menghancurkan rumah orang yang memukul, maka ia tidak perlu merasa puas
hanya sekadar memukul pipi sebelah kanannya, mamun jika ia tidak mampu, maka
hendaklah ia memukul pipi sebelah kanannya. Namun boleh jadi hatinya dipenuhi
dengan dendam kerana ia tidak dapat menghancurkan rumahnya.
Jadi, kebencian adalah pelabuhan tempat bersinggahnya syariat Musa. Meskipun
beliau adalah seorang Nabi yang merupakan cermin cinta Ilahi yang besar namun
syariatnya kini berada di bawah kekuasaan hati-hati yang mati, yaitu hati-hati yang
penuh dengan dendam dan kebencian. Lalu, apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap
semua ini? Allah SWT telah mengutusnya dan memperkuat Taurat yang dibawa oleh
Musa sebagaimana Allah SWT menurunkannya kepada Musa. Jadi, seorang nabi tidak
menghancurkan tugas nabi sebelumnya. Para nabi bagaikan satu mata rantai yang
tujuannya adalah satu, yaitu menciptakan kesucian dan mempertahankan kebenaran
serta mengesakan Allah SWT.
Kemudian apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap syariat qisas tersebut? Yang jelas,
tindakan yang dilakukan oleh Nabi Isa murni dari ilham yang didapatinya dari Allah
SWT. Nabi Isa mengembalikan kaum kepada tujuan asli dari syariat. Nabi Isa
mengembalikan mereka kepada hikmah syariat yang asli. Nabi Isa mengembalikan
mereka kepada cinta. Nabi Isa tidak mengatakan sesuatu pun kepada orang yang
memukul pipi sebelah kanannya. Nabi Isa tidak berusaha untuk memukul pipi sebelah
kanannya. Al-Masih justru akan membalikkan pipi sebelah kirinya. Inilah syariat Nabi
Isa yang tidak berbeza sedikit pun dengan syariat Nabi Musa. Ia merupakan kedalaman
yang mengagumkan dari kedalaman syariat Nabi Musa. Nabi Isa ingin menetapkan
kepada kaum di sekelilinginya tentang sesuatu yang penting. Nabi Isa ingin
memberitahu mereka bahawa syariat bukan mengajari kalian untuk meletakkan
dendam pada diri kalian lalu kalian memukul lawan kalian. Syariat yang hakiki adalah,
hendaklah kalian menebar kasih sayang, pemaaf, dan cinta.
Terdapat banyak binatang-binatang buas di hutan. Binatang-binatang itu mencintai diri
mereka sendiri. Mereka bermusuhan dan saling membunuh demi makanan dan
minuman. Mereka memberikan makan kepada anak- anaknya. Perbezaan antara
manusia dan binatang adalah perbezaan pada tingkat cinta. Haiwan tidak akan mampu
melampaui darjat cintanya kepada makhluk yang lain. Atau dengan kata lain, haiwan
tidak dapat membagi cintanya kepada jenis yang lain. Sedangkan manusia mampu
melakukan hal itu. Di situlah manusia mampu dapat mencapai kemuliaannya dan
kemanusiaannya. Al-Masih memberitahu kaumnya bahawa manusia tidak akan menjadi
manusia sempurna kecuali setelah ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
"Aku mendengar bahawa dikatakan, hendaklah engkau mencintai orang yang dekat
denganmu dan membenci musuhmu, sedangkan aku berkata kepada kalian, cintailah
musuh kalian dan doakanlah orang yang melaknati kalian. Berbuat baiklah kepada
pembenci kalian dan solatlah untuk orang-orang berbuat buruk kepada kalian." (Injil Mata).
Dakwah Nabi Isa datang dan menghapus syariat Nabi Musa dalam bentuk luaran. Jika
kita berusaha membandingkan dua syariat tersebut dalam bentuk yang sederhana,
maka pada hakikat-nya dakwah Nabi Isa bertujuan untuk menghapus bidaah yang
dilakukan oleh kaum Farisiun dan Shaduqiun terhadap syariat Nabi Musa dan
menunjukkan hakikat syariat ini dan tujuan-tujuannya yang tinggi. Di tengah-tengah
masa materialisme yang sangat luar biasa dan dunia dipenuhi dengan penyembahan
terhadap emas dan tersebarnya berbagai macam kejahatan, muncullah dakwah al-
Masih sebagai reaksi ideal yang menunjukkan ketinggian dan kesucian. Al-Masih
mengetahui bahawa ia mengajak manusia untuk menciptakan perilaku ideal dalam
kehidupan; Al-Masih menyedari bahawa dakwahnya penuh dengan idealisme tetapi
idealisme ini sendiri pada saat yang sama merupakan solusi satu-satunya untuk
mengubati kehidupan dari kesengsaraan dan penyakit-penyakit menular; Al-Masih
mengetahui bahawa tidak semua manusia tidak mampu untuk mencapai puncak yang
diisyaratkannya. Tetapi paling tidak, hendaklah setiap orang berusaha sedikit mendaki sehingga ia selamat.
Dakwah Nabi Isa terdiri dari kesudian yang mengagumkan; dakwah Nabi Isa bertujuan
untuk menyelamatkan roh atau dakwah yang dapat dianggap sebagai pedoman
perilaku individu, bukan suatu sistem perincian-perincian tersebut dan hanya
memfokuskan kepada sumber utama, yaitu roh. Isa ingin menghidupkan rohani
manusia dan membimbingnya untuk mencapai cahaya Sang Pencipta. Oleh kerana itu,
Isa datang dengan didukung oleh Ruhul kudus. Ruhul kudus adalah Jibril. Kita tidak
mengetahui bagaimana Allah SWT memperkuat Isa dengan Roh Kudus: apakah Jibril
menemaninya dan menyertainya sepanjang pengutusannya? Jibril turun kepada nabi
untuk menyampaikan risalah atau membawa mukjizat atau justru mendatangkan
hukuman atas kaumnya, tetapi ia tidak bersama mereka sepanjang waktu. Oleh kerana
itu, apakah memang Jibril menemani Isa sehingga beliau diangkat ke langit?
Hampir saja hati menjadi tenang dengan tafsiran ini kerana dalam kehidupan Nabi Isa
terdapat sisi-sisi malaikat di mana beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa yang
berupa mukjizat-mukjizat. Bahkan kemampuan beliau sampai pada batas
menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah SWT. Begitu juga, beliau memiliki
kemampuan yang luar biasa di mana beliau dengan hanya meniupkan pada suatu
tanah, maka tanah itu terbentuk menjadi burung dan ia terbang dengan izin Allah SWT.
Selain itu, Nabi Isa sama sekali tidak mendekati wanita sepanjang hidupnya sehingga
beliau diangkat oleh Allah SWT. Beliau tidak menikah. Ini juga sifat malaikat di mana
kita saksikan bahawa sebahagian para nabi yang diutus oleh Allah SWT dan memiliki
beberapa wanita bahkan kitab-kitab Yahudi menyebutkan bahawa jumlah isteri- isteri
nabi mereka Sulaiman misalnya, mencapai seribu wanita.
Isa hidup dalam keadaan tenggelam dalam ibadah seperti anak dari bibinya, yaitu
Yahya. Jika Yahya khusyuk beribadah dan tinggal di gunung dan gurun bahkan dia
menginap di gua, maka hal itu adalah hal yang alami baginya, sedangkan Isa hidup
justru di tengah-tengah masyarakat kota. Persoalannya adalah, bukan hanya Isa tidak
terkait hubungan dengan seorang wanita dan bukan hanya mukjizat-mukjizat yang
diperolehnya yang luar biasa yang berhubungan dengan roh, tetapi yang lebih dari itu
adalah, bahawa beliau didukung oleh Ruhul kudus sepanjang masa dakwahnya. Tentu
itu adalah nikmat yang tak seorang pun dari para nabi sebelumnya diberi. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: 'Hai Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan roh kudus.
Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan
sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah,
Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu
bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya,
lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan
(ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan
ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka
membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-
keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: 'Ini tidak
lain hanya sihir yang nyata.' Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut
Isa yang setia: 'Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.' Mereka menjawab:
'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahawa sesungguhnya kami
adalah orang- orang yang patuh (kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 110-111)
Ayat-ayat tersebut menyebutkan lima mukjizat Nabi Isa. Pertama, bahawa beliau
mampu berbicara dengan manusia saat beliau masih di buaian. Kedua, beliau diajari
Taurat dan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa telah tersembunyi dan telah
mengalami perubahan yang dilakukan oleh orang-orang cerdik dari kaum Yahudi.
Ketiga, beliau membentuk tanah seperti burung kemudian meniupkannya lalu tanah itu
menjadi burung. Keempat, beliau mampu menghidupkan orang-orang yang mati.
Kelima, beliau mampu menyembuhkan orang yang buta dan orang yang belang.
Terdapat mukjizat yang keenam yang disebutkan dalam Al-Quran al-Karim:
"(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: 'Hai Isa putera Maryam,
bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa
menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul- betul kamu orang yang beriman.'
Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami, dan
kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putera Maryam
berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari
langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-
orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda
bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang
Paling Utama.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan
itu kepadamu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu,
maka sesungguhnya Aku akan menyeksanya dengan seksaan yang tidak pernah
Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'" (QS. al-Maidah: 112-115)
Mukjizat yang keenam itu adalah turunnya makanan dari langit kerana permintaan
Hawariyin. Juga terdapat mukjizat yang ke tujuh yang terdapat surah Ali 'Imran yaitu
beliau diberi kemampuan melihat hal-hal yang ghaib melalui panca inderanya meskipun
beliau tidak menyaksikannya secara langsung. Oleh kerana itu, beliau memberitahu
kepada sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya apa yang mereka makan dan apa
yang mereka simpan di rumah-rumah mereka:
"Dan aku khabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu
simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda
(kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu benar-benar beriman. " (QS. Ali'Imran:: 49)
Inilah mukjizat Nabi Isa yang ke tujuh yang didahului oleh mukjizat kelahirannya yang
sangat mengagumkan. Beliau lahir tanpa seorang ayah, lalu diikuti mukjizat berikutnya
di mana beliau diangkat dari bumi ke langit ketika penguasa yang lalim berusaha
menyalibnya. Barangkali pembaca akan bertanya-tanya: mengapa mukjizat-mukjizat
seperti ini diperoleh oleh Nabi Isa? Kita mengetahui bahawa mukjizat adalah hal yang
luar biasa yang Allah SWT berikan kepada nabi-Nya. Tetapi pemberian itu menjadi
sempurna jika mukjizat itu disesuaikan dengan keadaan zaman diutusnya nabi tersebut
sehingga mukjizat itu sangat berpengaruh dalam jiwa kaum dan mampu
menggoncangkan hati mereka dan menjadikan mereka beriman kepada pemilik
mukjizat ini. Jadi, mukjizat menjadi suatu hal yang luar biasa. Oleh kerana itu, Allah
SWT berkehendak agar mukjizat ini sesuai dengan zaman diutusnya nabi tersebut.
Jadi, setiap mukjizat yang dibawa oleh rasul selalu berlain-lainan. Nabi Saleh diutus di
tengah-tengah kaum yang melihat bagaimana seekor unta yang melahirkan dari
gunung atau mampu membelah batu-batuan gunung. Sedangkan Nabi Musa diutus di
tengah-tengah kaum yang gemar memainkan sihir sehingga sihir mendapat tempat
istimewa. Oleh kerana itu, mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa bentuk lahirnya
seakan-akan menyerupai sihir, tetapi pada hakikatnya ia justru menjatuhkan sihir.
Mukjizat itu berupa tongkat yang menjadi ular dan kemudian ular itu memakan tongkat- tongkat para tukang sihir.
Lain halnya dengan Nabi Isa, beliau diutus di tengah-tengah kaum materialis yang
mengingkari roh dan hari kebangkitan. Mereka menduga bahawa manusia hanya
sekadar tubuh tanpa roh. Mereka adalah kaum yang meyakini bahawa darah makhluk
adalah rohnya atau jiwanya. Taurat yang ada di tangan Yahudi menyebutkan bahawa
tafsir an-Nafst adalah darah. Disebutkan di dalamnya: "Janganlah engkau memakan
darah dari tubuh manusia kerana jiwa setiap tubuh adalah darahnya. "
Nabi Isa diutus di tengah-tengah kaum yang mereka disesatkan oleh falsafah yang
dasarnya mengatakan bahawa penciptaan alam memiliki sumber pertama, seperti
sebab dari akibat. Jadi, alam memiliki wujud yang mendahuluinya. Di tengah-tengah
masa yang materialis ini, di mana roh diingkari, maka secara logik mukjizat Nabi Isa
terkait dengan usaha menunjukkan alam rohani. Demikianlah Isa dilahirkan tanpa
seorang ayah. Mukjizat ini cukup untuk membungkam kaum yang mengatakan bahawa
alam memiliki sumber pertama. Jelas bahawa alam tidak memiliki wujud yang
mendahuluinya.
Kita berada di hadapan Sang Pencipta yang mengadakan sistem bagi
segala sesuatu dan menjadikan sebab bagi segala sesuatu. Dia menjadikan proses
kelahiran anak berasal dari hubungan laki-laki dan wanita, tetapi Pencipta ini sendiri
menciptakan sebab-sebab dan sebab-sebab itu tunduk kepadanya sedangkan Dia tidak
tunduk kepada sebab-sebab itu. Dengan kehendak- Nya yang bebas, Dia mampu
memerintahkan kelahiran anak tanpa melalui ayah sehingga anak itu lahir. Dan,
kelahiran Isa pun terjadi tanpa seorang ayah. Cukup ditiupkan roh kepadanya:
"Lalu Kami tiupkan ke dalamnya (tubuhnya) roh dari Kami dan Kami jadikan dia
dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. " (QS. al-Anbiya': 91)
Kelahiran Isa membawa mukjizat yang luar biasa yang menegaskan dua hal: pertama,
kebebasan kehendak Ilahi dan ketidak terkaitannya dengan sebab kerana Dia adalah
Pencipta sebab-sebab, kedua pentingnya roh dan menjelaskan kedudukannya serta
nilainya di antara kaum yang hanya mementingkan fizik sehingga mereka mengingkari
roh. Seandainya kita mengamati sebahagian besar mukjizat Nabi Isa, maka kita akan
melihatnya dan mendukung pandangan tersebut. Misalnya, mukjizat Nabi Isa yang
mampu membentuk tanah seperti burung lalu beliau meniupkannya sehingga tanah itu
menjadi burung. Mukjizat ini pun menguatkan adanya roh. Semula ia berupa tanah
yang bersifat fizik yang tidak dapat disifati dengan kehidupan tetapi ketika Nabi Isa
meniupnya, maka segenggam tanah itu menjadi burung yang memiliki kehidupan,
Sungguh sesuatu yang bukan fizik masuk ke dalamnya. Sesuatu itu adalah roh. Roh itu
masuk ke dalam tanah sehingga ia menjadi burung. Jadi, roh adalah nilai yang hakiki,
bukan jasad atau fizik. Di samping itu, juga ada mukjizat menghidupkan orang-orang
yang mati. Bukankah ini juga menunjukkan adanya roh dan adanya hari akhir atau hari
kebangkitan. Orang yang mati telah ditelan oleh bumi di mana anggota tubuhnya telah
hancur berantakan sehingga ia hampir menjadi tulang-belulang yang hancur lalu al-
Masih memanggilnya dan tiba-tiba dia hidup kembali dan bangkit dari kematiannya.
Seandainya orang yang mati hanya berupa fizik sebagaimana dikatakan orang-orang
Yahudi, maka ia tidak akan mampu bangkit dari kematiannya kerana fiziknya telah
hancur tetapi mayat itu mampu bangkit dari kematian. Jayanya kembali hidup dan ia
bangkit dari kuburannya serta berbicara. Jadi, roh adalah nilai yang hakiki. bukan fizik
atau jasad. Kalau begitu, di sana terdapat hari kebangkitan dan hari kiamat. Hal ini
bukanlah mustahil sebagaimana yang dikatakan orang-orang Yahudi, kerana setelah
kematian jasad menjadi tanah yang berterbangan di udara. Itu bukan mustahil tetapi
mungkin-mungkin saja. Dalil dari hal itu adalah, kebangkitan orang-orang yang telah
mati di hadapan mata kepala mereka sendiri. Nabi Isa telah menghidupkan mereka
agar kaumnya yakin bahawa kiamat fizik akan terjadi dari kematian dan itu adalah
benar dan bahawa hari akhir adalah benar.
Juga terdapat mukjizat yang lain, yaitu beliau mampu memberi tahu kaumnya tentang
apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka, tanpa terlebih dahulu beliau masuk
ke rumah mereka atau dapat bocoran dari seseorang. Mukjizat ini menetapkan bahawa
panca indera bukanlah nilai yang hakiki. Nabi Isa tidak melihat apa yang ada di rumah
mereka tetapi rohnya mampu untuk melihat dan berbicara atau memberitahu mereka.
Jadi, rohani adalah nilai yang hakiki, bukan fizik. Demikianlah mukjizat-mukjizat Isa
datang untuk memberitahukan pentingnya roh dan kebebasan kehendak Ilahi. Mukjizat-
mukjizat Nabi Isa - sebagaimana dikatakan oleh guru kami Muhammad Abu Zahra' -
termasuk dari jenis propagandanya dan sesuai dengan tujuan risalahnya, yaitu dakwah
untuk mendidik rohani dan keimanan kepada hari kebangkitan dan hari kemudian, dan
di sana ada kehidupan lain di mana seseorang yang berbuat baik akan dibalas
kebaikannya dan orang yang berbuat buruk akan dibalas keburukannya.
Lalu, apakah mukjizat menghidupkan orang-orang yang mati masih memberikan celah
kepada para pengingkaran akhirat untuk terus mengingkarinya atau memberikan
ruangan kepada penentang hari kebangkitan untuk meneruskan penentangannya?
Kami telah mengatakan bahawa orang-orang Yahudi telah diracuni dengan fikiran
ketidakpercayaan atau penentangan pada hari akhirat serta tidak beriman kepada hari
akhir, maka menghidupkan orang-orang yang mati yang dibawa atau dikuasai oleh Isa
menjadi suatu pukulan telak bagi mereka yang membuat mereka beriman, tetapi
mereka masih menentang tanda-tanda kebesaran Allah.
Nabi Isa menutup lembaran kehidupannya yang lembut dan ia mulai berdakwah di jalan
Allah. Beliau didukung oleh Ruhul kudus dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Al-
Quran al-Karim menceritakan kepada kita bahawa esensi dakwah al-Masih tidak
banyak berubah dari esensi dakwah para nabi sebelumnya, yaitu menyuarakan Islam
yang intinya adalah menebarkan tauhid yang sempurna hanya serta menyerahkan diri
kepada Allah: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian."
Al-Quran memberitahu kita bahawa yang mengatakan kalimat tersebut adalah Isa.
Kalimat tersebut adalah kalimat yang sama yang pernah disampaikan seluruh nabi,
meskipun nama mereka, sifat mereka, mukjizat mereka, baju mereka, bahasa mereka,
usia mereka, bentuk mereka, dan warna kulit mereka tidak sama. Mereka semua
bersepakat untuk menyuarakan Islam dan hanya menyerahkan diri kepada Allah SWT
serta beriman bahawa Allah SWT adalah Tuhan mereka dan Tuhan alam semesta.
Tiada sekutu bagi-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya. Dia Maha Esa yang tidak
beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Isa tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak atau lebih sedikit dari apa yang
pernah disampaikan oleh para nabi. Al-Quran datang kira- kira setelah lima ratus tahun
dari pengangkatan Nabi Isa. Allah SWT, melalui ilmu-Nya yang azali mengetahui apa
yang terjadi di tengah- tengah kaum Masehi di mana mereka berselisih tentang hakikat
Isa. Oleh kerana itu, Al-Quran al-Karim berusaha menyingkap dialog mereka yang
belum terjadi. Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain
Allah?' Isa menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka
tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada
diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya)
yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap
mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku,
Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas
segala sesuatu.'" (QS. al-Maidah: 116-117)
Al-Quran secara tegas mengatakan bahawa dakwah al-Masih adalah dakwah tauhid.
Al-Quran ingin mengatakan bahawa al-Masih terlepas dari segala tuduhan yang
dialamatkan kepadanya, yaitu tuduhan bahawa ia anak Tuhan atau ia justru tuhan itu
sendiri. "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau
perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu."
Nabi Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti dakwahnya adalah, bahawa tidak ada
perantara antara Pencipta dan makhluk; tidak ada perantara antara seorang
penyembah dan yang disembah. Allah SWT menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa. Ia
adalah kitab suci yang datang untuk membenarkan Taurat dan berusaha
menghidupkan syariatnya yang pertama. Injil adalah cahaya, petunjuk, dan peringatan
bagi orang-orang yang bertakwa. Nabi Isa ingin meluruskan tafsiran orang-orang
Yahudi terhadap syariat di mana mereka menyampaikan tafsir dari syariat itu secara
harfiah dan sesuai dengan kepentingan mereka. Nabi Isa menenangkan orang-orang
yang menjaga syariat bahawa ia tidak datang untuk menghilangkan syariat, tetapi ia
datang untuk menyempurnakannya dan menyelesaikan tugas para nabi. Namun Isa
lebih menekankan pada penafsiran esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya.
Nabi Isa memberi pengertian kepada orang-orang Yahudi bahawa sepuluh wasiat yang
dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih dalam dari apa yang mereka
bayangkan. Wasiat yang keenam bukan hanya melarang pembunuhan materi,
sebagaimana yang mereka fahami tetapi juga menyangkut penindasan dan usaha
mencelakakan orang lain. Sedangkan wasiat yang ke tujuh bukan hanya melarang zina
(dalam pengertian terjadinya hubungan antara laki-laki dengan perempuan melalui
cara-cara yang tidak sah), tetapi zina berarti segala bentuk perbuatan yang menjurus
kepada dosa. Misalnya, ketika mata diarahkan kepada lawan jenis disertai syahwat dan
hasrat seksual, maka itu pun berarti zina. Nabi Isa berkata: "Sesungguhnya lebih baik
bagi manusia untuk menghindarkan matanya dari sesuatu yang dapat
menghancurkannya daripada ia harus hancur dengan mata itu sendiri. Syariat yang
dibawa oleh Isa melarang untuk melanggar sumpah dan janji Nabi Isa memberi
pengertian kepada kaumnya bahawa hendaklah mereka tidak melakukan sumpah palsu
kerana merupakan "kesalahan besar jika nama Allah dibuat main-main di atas
mulut-mulut manusia." (Injil Mata 21 sampai 48).
Dakwah Nabi Isa juga berbenturan dengan arus materialisme yang sangat
mendominasi masyarakat saat itu. Oleh kerana itu, beliau mengingatkan manusia dari
perbuatan munafik, pamrih, tamak, dan gila pujian. Begitu juga beliau mengingatkan
mereka dari sifat rakus terhadap kekayaan dunia; beliau mengingatkan agar jangan
sampai mereka menimbun harta di dunia. Yakni, hendak lah mereka tidak
memfokuskan perhatian mereka pada urusan-urusan duniawi semata yang sifatnya
tidak abadi. Tetapi hendaklah mereka memfokuskan perhatian mereka pada hal-hal
yang bersifat samawi (ukhrawi) kerana itu bersifat abadi.
Nabi Isa memberitahu kepada masyarakatnya agar mereka menjadi orang-orang yang
teliti saat memilih gaya hidup mereka kerana pada gilirannya akal mereka akan menjadi
cermin darinya. Kecenderungan manusia itu terkait kuat dengan hatinya. Jika hati
tertuju kepada cahaya langit, maka kehidupan manusia akan tampak bersinar tetapi jika
hati tertuju pada kegelapan dunia, maka kehidupannya pun tampak gelap. Nabi Isa
mengingatkan kaumnya dari sikap pamrih dan cinta dunia. Beliau mengajak mereka
untuk teliti dalam memilih majikan yang mereka mengabdi kepadanya kerana manusia
tidak dapat mengabdi kepada dua majikan dalam satu waktu. Boleh jadi ia akan
menjadikan harta sebagai majikannya, atau boleh jadi ia akan menjadikan Allah SWT
sebagai tuannya. Jika ia menyembah harta, maka berarti ia jauh dari penyembahan
terhadap Tuhannya. Oleh kerana itu, hendaklah manusia menjauhi dunia, seperti
makanan dan pakaian di mana mereka akan dikuasai oleh kegelisahan dan
ketidaktenangan serta keraguan tentang penjagaan Allah SWT kepada mereka. Allah
SWT telah berjanji untuk memenuhi kebutuhan hamba-hamba-Nya dalam kehidupan.
Ketika timbul kegelisahan dan keraguan pada diri mereka, maka itu dikeranakan
keraguan mereka terhadap penjagaan Allah SWT dan ketidakpercayaan mereka
kepada janji-janjinya dan rahmat-Nya serta bimbingan-Nya. Allah SWT lah yang
menciptakan mereka dan Dia pula yang menjamin kehidupan mereka dan melindungi
mereka. Bahkan Dia juga melindungi makhluk yang paling kecil urusannya seperti
burung di langit dan kumbang-kumbang di kebun.
Nabi Isa memberitahu kaumnya bahawa hanya memperhatikan dunia adalah hal yang
salah, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Itu adalah sikap
para penyembah berhala kerana penyembah berhala tidak mengetahui apa yang lebih
baik darinya, sedangkan orang- orang yang beragama mengetahui bahawa di sana
terdapat bimbingan Ilahi yang mengajak mereka untuk percaya kepada Allah SWT dan
tidak begitu peduli dengan dunia. Allah SWT mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka
lebih daripada apa yang mereka ketahui; Allah SWT akan melindungi mereka dan akan
menjamin kehidupan mereka. kerana itu, yang layak bagi mereka adalah, hendaklah
mereka memohon agar diberi kekuasaan Allah SWT dan kebaikan dari-Nya. Yakni
kehidupan rohani dan apa yang dikandungnya dari kebahagiaan abadi.
Di samping itu, Nabi Isa menasihati mereka agar jangan terlalu pusing dengan
kejadian-kejadian yang akan datang dan persoalan-persoalan esok hari kerana esok
hari sudah berjalan sebagaimana mestinya. Jika kebutuhan dan penderitaan datang
silih berganti, maka bantuan dan perlindungan Ilahi pun terus datang silih berganti.
Dakwah Nabi Isa juga berbenturan dengan dualisme yang tumbuh di tengah-tengah
masyarakat. Kita saksikan sebagaimana mereka suka mendapatkan kebaikan yang
ditujukan kepada diri mereka, maka mereka pun biasa untuk melakukan kejahatan
kepada orang-orang lain. Demikianlah, kehidupan orang-orang Yahudi dicemari sikap
dualisme ini. Nabi Isa mewasiatkan kepada manusia agar mereka memperlakukan
sesama mereka sesuai dengan akidah yang mengatakan: "Perlakukanlah orang lain
sebagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri"
Nabi Isa terus melangsungkan dakwahnya dan mengajak manusia untuk menyembah
Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya, sebagaimana beliau juga mengajak manusia
untuk membersihkan rohani serta hati dan berusaha memasuki kerajaan langit. Dakwah
Nabi Isa itu sangat memukul kalangan para pendeta Yahudi. Kalimat-kalimat yang
dilontarkan Nabi Isa bagaikan senjata yang siap menerpa wajah mereka dan
menyatakan peperangan terhadap mereka serta menyingkap kedok kemunafikan
mereka. Mula-mula pemerintahan Romawi tidak turut campur dalam masalah tersebut
kerana mereka melihat bahawa itu hanya sekadar perselisihan dalaman antara
kelompok-kelompok Yahudi. Bagi mereka, selama orang-orang Yahudi sibuk dengan
masalah mereka sendiri dan tidak peduli dengan kekuasaan, mereka pun tidak turut campur.
Kemudian para pendeta Yahudi mulai merancang suatu persekongkolan untuk
menyingkirkan Isa. Mereka ingin mengusir Isa dan membuktikan bahawa Isa datang
untuk menghancurkan syariat Musa. Syariat Musa memutuskan untuk merejam wanita
yang berzina. Para pendeta Yahudi menghadirkan wanita yang salah yang berhak
direjam. Mereka berkumpul di sekeliling Isa dan bertanya kepadanya: "Tidakkah syariat
menetapkan untuk merejam wanita yang bersalah?" Isa menjawab: "Benar," Mereka
berkata: "Ini adalah wanita yang bersalah." Isa memandang wanita itu dan ia pun
melihat para pendeta Yahudi. Isa mengetahui bahawa para pendeta Yahudi lebih
banyak kesalahannya daripada wanita tersebut. Para pendeta itu menunggu jawapan
Isa. Jika ia mengatakan bahawa wanita itu tidak berhak dibunuh, maka berarti ia
menentang syariat Musa, dan jika ia mengatakan bahawa ia berhak dibunuh, maka ia
justru menghancurkan dirinya sendiri yang membawa syariat cinta dan toleransi. Nabi
Isa memahami bahawa ini adalah persekongkolan. Beliau tersenyum dan wajahnya
tampak bercahaya. Kemudian beliau melihat para pendeta Yahudi dan wanita itu sambil
berkata: "Barang siapa di antara kalian yang tidak memiliki kesalahan, maka hendaklah
ia merejam wanita itu."
Suara beliau yang keras itu memecahkan keheningan tempat penyembahan. Beliau
menetapkan peraturan baru yang berhubungan dengan hukum yang dijatuhkan kepada
orang yang berbuat salah. Hendaklah orang yang tidak berbuat salah menghukum
orang yang salah dan tidak berhak seseorang pun dari kalangan manusia untuk
menghukum orang yang bersalah jika ia sendiri bersalah, tetapi yang menghukumnya
adalah Allah SWT yang Maha Suci dan Maha Tinggi dan Allah SWT adalah Maha
Pengasih di antara yang mengasihi.
Nabi Isa keluar dari tempat penyembahan itu. Tiba-tiba, wanita itu mengejar dari
belakangnya. Lalu wanita itu mengeluarkan dari pakaiannya satu botol dari minyak
yang berharga. Ia berdiri di depan Isa dan menjatuhkan dirinya di atas kedua kaki Isa
lalu menciumnya dan membasuhnya dengan minyak wangi dan air mata. Setelah itu, ia
mengeringkan kedua kakinya dengan rambutnya. Bagi wanita itu, al- Masih mempakan
harapan terakhir yang dapat menyelamatkannya. Lalu keluarlah dari belakang Isa
seorang tokoh pendeta Yahudi. Ia berdiri menyaksikan pemandangan tersebut dan ia
merasa kagum terhadap kasih sayang Isa. Isa melihat kepadanya dan bertanya;
"Seorang kreditor yang memiliki dua orang debitor, salah satunya berhutang lima ratus
dinar dan yang lain lima puluh dinar." Pendeta itu berkata: "Ya." Isa berkata: "Tak
seorang pun dari mereka berdua yang memiliki wang yang cukup untuk melunasi
wangnya. Lalu si kreditor memaafkan mereka dan membebaskan mereka dari hutang."
Pendeta berkata: "Ya." Kemudian Isa bertanya: "Siapa di antara mereka yang paling
senang kepada kreditor itu?" Pendeta menjawab: "Tentu yang berhutang lebih besar.''
Isa berkata: "Benar apa yang engkau ucapkan. Lihatlah wanita ini. Aku telah masuk ke
rumahmu tetapi engkau tidak memberikan kepadaku air agar aku dapat membasuh
wajahku, tetapi wanita itu membasuh kedua kakiku dengan air mata lalu ia
mengusapnya dengan rambut kepalanya. Begitu juga engkau tidak memberikan ciuman
kepadaku tetapi wanita ini tidak merasa puas dengan hanya mencium kedua kakiku.
Jadi, hatimu sungguh sangat keras tetapi hati wanita itu dipenuhi dengan rasa cinta.
Maka barang siapa yang banyak mencintai nescaya kesalahan-kesalahannya akan
diampun." Kemudian Isa menoleh ke wanita itu dan memerintahkannya untuk bangkit
dari tanah sambil berkata: "Ya Allah, ampunilah wanita ini dan hilangkanlah kesalahan-kesalahannya."
Nabi Isa berusaha menyedarkan para pendeta Yahudi bahawa para dai yang menyeru
di jalan Allah SWT bukanlah algojo yang bengis yang menerapkan hukum syariat tanpa
melihat keadaan masyarakat yang bersalah, tetapi mereka datang dan membawa
ajaran Allah SWT yang merupakan ajaran yang penuh dengan rahmat kepada manusia.
Jadi, rahmat adalah tujuan semua dakwah Ilahi ini. Bahkan diutusnya para nabi itu
sendiri mengandung rahmat Allah SWT terhadap kaum mereka.
Isa terus berdoa kepada Allah SWT agar merahmati kaumnya. Beliau menyuruh
kaumnya agar menyayangi diri mereka sendiri dan beriman kepada Allah SWT.
Kehidupan Nabi Isa menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam ibadah. Mu'tamar
bin Sulaiman berkata, sebagaimana diriwayatkan Ibnu 'Asakir: "Nabi Isa menemui
kaumnya dengan memakai pakaian dari wol. Beliau keluar dalam keadaan tidak beralas
kaki sambil menangis serta wajahnya tampak pucat kerana kelaparan dan bibimya
tampak kering kerana kehausan. Nabi Isa berkata, "salam kepada kalian wahai Bani
Israil. Aku adalah seseorang yang meletakkan dunia di tempatnya sesuai dengan izin
Allah SWT, tanpa bermaksud membanggakan diri. Apakah kalian mengetahui di mana
rumahku?" Mereka menjawab: "Di mana rumahmu wahai Ruhullah?"
Nabi Isa menjawab: "Rumahku adalah masjid, wewangianku adalah air makananku
adalah rasa lapar, pelitaku adalah bulan di waktu malam dan solatku di waktu musim
dingin di saat matahari terletak di timur, bungaku adalah tanaman-tanaman bumi,
pakaianku terbuat dari wol, syiarku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia,
teman-temanku adalah orang-orang yang fakir, orang-orang yang sakit, dan orang-
orang yang miskin. Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak mendapati sesuatu pun di
rumahku begitu juga aku memasuki waktu sore dan aku tidak menemukan sesuatu pun
di rumahku. Aku adalah seseorang yang jiwanya bersih dan tidak tercemar. Maka
siapakah yang lebih kaya daripada aku?"
Isa terus melakukan dakwahnya. Ia didukung oleh mukjizat dari Allah SWT. Nabi Isa
mampu membuat bentuk burung dari tanah kemudian ia meniupnya, maka tanah itu
menjadi burung dengan izin Allah SWT. Selain itu, hujung bajunya yang sederhana jika
tersentuh orang yang sakit, maka orang itu akan sembuh. Bahkan jika Isa meletakkan
tangannya di atas mata orang yang buta atau orang yang terkena sakit belang nescaya
ia akan sembuh. Jadi, Nabi Isa didukung oleh mukjizat yang luar biasa. Bahkan beliau
mampu menghidupkan orang-orang yang mati dari kuburan mereka sehingga mereka
keluar dalam keadaan hidup dengan izin Allah SWT.
Para ahli tafsir mengatakan bahawa Nabi Isa menghidupkan empat orang. Pertama, al-
Azir yaitu temannya. Kemudian dua orang anak laki-laki dari seorang tua, dan seorang
anak perempuan satu-satunya dari seorang ibu. Mereka adalah tiga orang yang mati di
zaman Nabi Isa. Ketika orang- orang Yahudi melihat hal tersebut, mereka berkata:
"Engkau menghidupkan orang-orang yang mati dan kematian mereka tidak lama
.Barangkali mereka tidak mati tapi mereka sekadar mengalami keadaan tidak sedarkan
diri atau mati suri. Lalu mereka meminta kepada Nabi Isa untuk membangkitkan Sam bin Nuh dari kematiannya.
Para ahli tafsir mengatakan bahawa Nabi Isa bertanya kepada mereka, "Di manakah
kaum kuburan Sam bin Nuh?" Mereka keluar bersama Isa sehingga mereka mencapai
kuburan. Lalu Nabi Isa berdoa kepada Allah SWT agar menghidupkan orang yang mati
di situ. Sam bin Nuh keluar dari kuburannya, dan rambut dikepala-nya tampak beruban.
Isa berkata kepadanya: "Bagaimana rambut di kepalamu bisa beruban, sementara di
zamanmu kau tidak. ada uban," Sam berkata: "Ya Ruhullah, aku mendengar engkau
berdoa untukku lalu aku mendengar suara yang mengatakan, aku akan mengabulkan
wahai Ruhullah. Aku mengira bahawa kiamat telah tiba. kerana takutnya kepada hal itu
sehingga rambut di kepalaku beruban."
Apa pun yang dikatakan berkaitan dengan cerita itu yang menyebutkan tentang
bagaimana Nabi Isa menghidupkan orang-orang yang mati, namun kita tidak
mengetahui konteks Al-Qu'ran serta perincian-perincian yang menjelaskan hal tersebut.
Allah SWT hanya menyebutkan bahawa Isa menghidupkan orang-orang yang mati
dengan izin-Nya. Kita percaya bahawa Nabi Isa mampu menghidupkan mereka tetapi
kita tidak mengetahui apakah mereka mati kembali setelah dihidupkan atau mereka
sempat menjalani kehidupan selama beberapa saat. Nabi Isa terus berjalan di jalan
Allah SWT. Beliau membuat bagi mereka apa yang disebut dengan hukum roh. Beliau
menaiki gunung dan para sahabat- sahabatnya berdiri di sekitarnya. Nabi Isa melihat
orang-orang yang beriman kepadanya yang terdiri dari orang-orang yang fakir, orang-
orang yang menderita, dan orang- orang yang sedih. Jumlah mereka sedikit
sebagaimana lazimnya jumlah para pengikut nabi.
Gunung diliputi dengan awan tipis dan turunlah hujan gerimis. Isa mulai berbicara:
"Sungguh beruntung bagi orang-orang miskin kerana mereka memiliki kerajaan langit.
Beruntunglah orang-orang yang sedih kerana mereka akan menjadi orang-orang yang
mulia. Beruntunglah yang diserahi amanat kerana mereka akan mewarisi bumi.
Beruntunglah orang- orang yang lapar dan haus kerana mereka akan dikenyangkan.
Beruntunglah orang-orang yang menyayangi kerana mereka akan disayangi.
Beruntunglah orang-orang yang bersih hatinya kerana mereka akan melihat Allah SWT.
Beruntunglah orang-orang yang tertindas demi mempertahankan kebenaran kerana
mereka akan mendapatkan kerajaan langit. Kalian adalah garam bumi jika garam telah
rosak, maka siapa gerangan yang dapat mengembalikannya menjadi garam kembali."
Renungkanlah kedalaman ungkapan dari Nabi Isa, "kalian adalah garam bumi."
Garam adalah sesuatu yang memberikan rasa yang khusus dan tanpa garam makanan
akan menjadi hambar. Yakni, tanpa orang-orang mukmin, maka cita rasa kehidupan
terasa tidak bermakna; tanpa kehadiran orang-orang Muslim dan perbuatan mereka
yang ikhlas terhadap Allah SWT akan tampak kehidupan sangat berat dan tidak berarti.
Di samping itu, kehadiran manusia sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi pun sia-
sia, dan keagungan manusia sebagai hamba Allah SWT pun tidak bermakna, dan pada
gilirannya kehidupan akan dipenuhi dengan kejahatan dan keburukan.
Allah SWT teiah mewahyukan kepada "garam bumi" agar mereka beriman kepada Nabi Isa. Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia:
'Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.' Mereka menjawab: 'Kami
telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahawa sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 111)
Al-Hawariyin mengakui kebenaran ajaran Nabi Isa dan mereka menyatakan keislaman
kepadanya, sebagaimana ratu Saba' mengakui kebenaran ajaran Nabi Sulaiman dan
menyatakan keislaman padanya, dan sebagaimana semua para nabi menyatakan
keislaman. Hakikat ajaran para nabi terbatas kepada pernyataan keislaman dan semua
nabi menyeru kepada jalan tauhid dan jalan Islam. Islam dalam pandangan kami
memiliki makna yang lebih dalam daripada tauhid. Pengakuan seseorang terhadap
Allah SWT dan keimanan akan keesaan-Nya dalam menciptakan makhluk tidak
mencegah orang itu untuk berbuat dosa, sedangkan keislaman atau penyerahan hati
dan anggota badan serta pemikiran kepada Allah SWT merupakan suatu tingkatan
sedikit lebih tinggi. Ini adalah tingkat kepatuhan orang-orang yang patuh dan puncak
ketauhidan orang-orang yang bertauhid. Itu adalah keserasian antara tindakan dengan
fikiran, yaitu usaha manusia untuk menghindari kesalahan dan memurnikan amal hanya
untuk Allah SWT. Al-Quran al- Karim memberitahu kita bahawa Allah SWT
menyampaikan wahyu kepada al-Hawariyin agar mereka beriman kepadanya dan kepada Rasul-Nya Isa.
Marilah kita renungkanlah sejenak tentang wahyu Allah SWT terhadap Hawariyin. Kita
mengetahui bahawa Allah SWT mewahyukan kepada manusia dan kepada makhluk-
makhluk lainnya. Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada lebah..." (QS. an-Nahl: 68)
Yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah memberikan ilham kepada makhluk agar
mereka menuju ke jalan fitrahnya yang telah Allah SWT gariskan di atasnya sehingga
mereka mencapai jalan kesempurnaan. Tidakkah Anda ingat tentang jawapan Nabi
Musa terhadap pertanyaan Fira'un:
"Fir'aun berkata: 'Siapakah Tuhan kamu berdua wahai Musa. " (QS. Thaha: 49)
"Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-
tiap sesuatu bentuk kejadiannya kemudian memberinya petunjuk. " (QS. Thaha:50)
Makna di sana dan di sini sama. Makna yang sama tersebut diterapkan kepada kaum
Hawariyin di mana wahyu Allah SWT terhadap mereka berupa pemberian ilham kepada
mereka demi kebaikan mereka dan kebahagiaan mereka, dan wahyu ini tidak
bertentangan dengan ikhtiar mereka dan usaha mereka serta keinginan mereka,
bahkan tidak bertentangan dengan kebebasan mereka. Allah SWT telah melihat hati
mereka yang dipenuhi dengan kebaikan. Dia melihat mereka sebagai garam bumi,
maka Allah SWT mewahyukan kepada mereka agar beriman kepadanya dan rasul-Nya
sehingga mereka pun beriman dan mereka pun bersaksi bahawa mereka orang-orang
yang berserah diri atau Muslim.
Tampaknya kaum Hawariyin menyembunyikan keimanan mereka sehingga Isa
merasakan kekufuran kaumnya semakin menjadi-jadi lalu Isa memanggil mereka:
"Siapakah di antara kalian yang menolong aku menuju jalan Allah SWT?" Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia:
'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan (agama)
Allah?' Para Hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: 'Kamilah penolong-
penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahawa
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri. Ya Tuhan kami,
kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti
rasul, kerana itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang- orang yang
menjadi saksi.'" (QS. Ali 'Imran: 52-53)
Nas Al-Quran menunjukkan bahawa Nabi Isa mengajak mereka untuk mengikuti Islam
sehingga mereka pun berserah diri; nas Al-Quran menegaskan bahawa Nabi Isa
menyampaikan khabar gembira dengan kedatangan seorang rasul yang datang
setelahnya yang bernama Ahmad. Dikatakan dalam Al-Quran:
"Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: 'Hai Bani Israil, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelumku,
yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul
yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala
rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka
berkata: 'Ini adalah sihir yang nyata.'" (QS. Shaff: 6)
Kita tidak mengetahui secara pasti kapan Nabi Isa menyampaikan khabar berita
tentang kedatangan seorang rasul ini yang datang setelah masanya, yaitu Ahmad saw.
Apakah khabar berita itu beliau sampaikan dipermulaan pengutusannya kepada
manusia, atau apakah beliau menyampaikan khabar itu pada akhir masa dakwahnya
dan sebelum beliau diangkat ke langit? Tetapi melihat konteks Al-Quran tampaknya
khabar berita tersebut itu disampaikan di permulaan dakwahnya, sebagaimana firman-
Nya: "Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang
nyata, mereka berkata: 'lni adalah sihir yang nyata.'"
Kata ganti (dhamir) dalam ayat tersebut kembali kepada Nabi Isa. Ayat tersebut
menunjukkan bahawa Nabi Isa menyampaikan khabar gembira dengan datangnya
Muhammad atau Ahmad ketika Allah SWT mengutus kepada kaumnya. Kemudian
terjadilah di hadapan Nabi Isa berbagai macam mukjizat yang luar biasa seperti
penghidupan orang yang mati, peniupan tanah, dan sebagainya. Ketika Nabi Isa datang
membawa bukti- bukti yang jelas ini, maka mereka menuduhnya bahawa ia membawa
sihir. Nabi Isa mengetahui bahawa tuduhan semacam ini telah dialamatkan kepada
sebahagian besar para nabi sebelumnya. Beliau juga mengetahui bahawa nabi yang
terakhir pun akan mendapatkan tuduhan yang sama. Oleh kerana itu, nabi yang mulia
itu tetap berdakwah di jalan Allah SWT dan tidak peduli dengan tuduhan kaumnya yang
mengatakan bahawa beliau membawa sihir.
Kemudian pertentangan antara Nabi Isa dan Bani Israil semakin meningkat. Mereka
adalah orang-orang yang hatinya keras, yang membeku di hadapan kebenaran. Isa
datang kepada mereka dan menghancurkan segala pemikiran mereka dan kehidupan
mereka serta sistem mereka. Sesungguhnya dakwah Nabi Isa terfokus kepada
kebenaran, kedamaian dan keadilan dan pada saat yang sama mengumumkan
peperangan terhadap kehidupan orang-orang yang lalim yang telah menjauhi
kebenaran. keadilan, dan kedamaian. Injil Mata menyebutkan melalui lisan Isa:
"Janganlah kalian mengira bahawa aku membawa kedamaian ke muka bumi. Aku tidak
datang hanya membawa kedamaian tetapi aku datang membawa pedang."
Kalimat tersebut menyiratkan hakikat yang penting dari hakikat dakwah para nabi. Para
nabi adalah pejuang sejati di mana senjata yang mereka gunakan di medan
peperangan beraneka ragam. tetapi mereka pada hakikatnya adalah pejuang. Mereka
memulai peperangan mereka dengan satu pemikiran yaitu suatu tekad mengatakan
bahawa tiada Tuhan selain Allah SWT. Pemikiran itu tentu berbenturan dengan
kepercayaan akan tuhan-tuhan yang diyakini oleh manusia, baik tuhan-tuhan yang
terbuat dari emas atau batu. Pemikiran itu sangat mengganggu ketenangan orang-
orang yang lalim atau penguasa yang bengis serta sangat melawan kepentingan
mereka, sehingga para raja dan para penguasa seperti biasanya bergerak menentang
nabi kecuali orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Para pembesar dari
kalangan kaum nabi menentang nabi. Al-Mala' adalah para pembesar sebagaimana
telah kami jelaskan dalam kisah Nabi Nuh dan sesudahnya. Kemudian Nabi terus
melangsungkan peperangan mewujudkan tekadnya: Nabi meletakkan dasar
peperangannya dengan menyampaikan ketuhanan Allah SWT.
Setelah meneguhkan dasar yang kuat ini, Nabi menetapkan keadilan. Tak seorang pun
berhak untuk menghinakan seseorang atau menjadikannya sebagai budak kerana
penghambaan hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT. Manusia adalah sama di
antara mereka sehingga tidak berhak seseorang untuk memanfaatkan kekuatan
manusia untuk membangun kejayaan peribadinya atau untuk memperkaya dirinya
dengan merugikan orang lain, atau menghancurkan hak-hak mereka atau berbuat
buruk terhadap mereka dalam berbagai bentuknya. Jadi, inti dakwah para nabi berarti
mengganti dan mengubah sistem yang rosak yang didirikan oleh para pembesar
kaumnya. Kalau begitu, ia adalah dakwah yang menyatakan peperangan dan kerana itu
seseorang nabi harus membawa senjata. Setelah meneguhkan pemikiran tersebut,
dimulailah peperangan. Seorang nabi menggunakan pedang. Ia berlindung di balik
senjata dan senjata yang dimiliki oleh setiap nabi berbeza-beza.
Mula-mula seorang nabi tidak menggunakan senjata apa pun dalam peperangannya
selain berusaha untuk membangkitkan akal. Lalu peperangan semakin meningkat
sehingga nabi terpaksa untuk menggunakan senjata. Para musuh memaksanya untuk
menggunakan senjata sehingga para nabi pun menggunakan senjata. Di sini setiap
nabi mempunyai senjata yang berbeza-beza. Terkadang senjata seorang nabi berupa
mukjizat yang dapat menghentikan langkah dan menghancurkan mereka seperti taufan
(kisah Nabi Nuh) atau angin (kisah Nabi Hud), dan terkadang senjata para nabi adalah
mukjizat yang membantunya untuk mengalahkan musuh-musuhnya secara pasti seperti
ditundukkannya jin dan burung baginya (kisah Nabi Sulaiman) dan senjata nabi berupa
mukjizat yang menyelamatkannya dari tipu daya musuh seperti berubahnya api menjadi
sesuatu yang dingin dan membawa keselamatan (kisah Nabi Ibrahim) dan terkadang
senjata nabi yang luar biasa yang memperkuat dakwahnya seperti menghidupkan
orang-orang yang mati (kisah Nabi Isa) dan terkadang senjata nabi berupa pedang
yang dipegang di tangannya saat ia melangsungkan peperangan dan mempertahankan
dakwahnya (kisah Nabi Muhammad saw).
Jadi, senjata para nabi berbeza-beza, baik dalam bentuk kualiti mahupun kapasitinya.
Allah SWT mengetahui kondisi mereka lebih dari apa yang kita ketahui sehingga Allah
SWT sangat tepat ketika memilihkan senjata untuk setiap nabi. Dan tak seorang nabi
pun yang tinggal di suatu tempat sementara ia tidak berjuang dan tidak bergerak dan
tidak mengalami penderitaan dari kaumnya. Oleh kerana itu, sesuai dengan kadar
kesabaran para nabi dan perjuangan mereka dalam menyampaikan dakwah di jalan
Allah SWT, mereka layak untuk mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah SWT.
Isa bin Maryam telah menyampaikan bahawa beliau adalah seorang pejuang yang
membawa senjata. Kata-katanya sendiri berusaha menghancurkan masyarakat yang
keras, masyarakat yang bodoh. Masyarakat di zaman Nabi Isa berdiri di atas
kesalahan, kesyirikan, kebohongan, kemunafikan, meterialisme, pamrih, kelaliman dan
tidak ada kebebasan. Maka melalui kalimat-kalimatnya, Nabi Isa menghancurkan
semua ini. Nabi Isa memberitahu kaumnya bahawa dakwahnya di jalan Allah SWT
bukan terfokus pada dakwah kedamaian tetapi dalam hal-hal tertentu dakwahnya pun
berisi pernyataan perang. Sesuatu menjadi tidak bernilai ketika tidak berusaha
dipertahankan oleh yang bersangkutan sampai titis darah penghabisan. Timbulnya
pemikiran- pemikiran, nilai-nilai dan prinsip-prinsip tidak hanya bersandar kepada
idealismenya tetapi nilainya justru bersandar kepada usaha keras yang dikerahkan oleh
para pembawanya dalam rangka mempertahankannya. Tanpa peperangan dan
mengangkat senjata dakwah para nabi akan menjadi pemikiran-pemikiran yang sekadar
idealisme yang tidak akan menghentikan seseorang pun dan tidak akan membangkitkan seseorang pun.
Kita mengetahui bahawa sebahagian besar nabi berhadapan dengan kelompok besar
dari masyarakat yang menentangnya dan berusaha memeranginya. Mula-mula mereka
mengejeknya dan pada akhirnya mereka berusaha untuk membunuhnya. Kita
mengetahui bahawa para nabi berusaha mati-matian untuk memperjuangkan
kebenaran yang dibawanya. Melalui kisah para nabi, kita mengetahui bahawa
bagaimana serangan masyarakat, para pembesar, dan para penguasa terhadap para
nabi tetapi pada saat yang sama kita seakan-akan tidak melihat bagaimana serangan
para nabi terhadap mereka. Penjelasan dari hal itu sangat mudah. Peperangan yang
dibangkitkan oleh kebatilan atas para nabi didukung oleh alat-alat yang canggih dan
sangat kuat di mana mereka memiliki berbagai macam sarana untuk menjatuhkan para
nabi, sedangkan para nabi hanya menyandarkan kekuatan dari yang Maha Benar, yaitu
Allah SWT; kekuatan yang tidak berdasarkan pada sebab- sebab tertentu atau tidak
peduli dengan tuduhan-tuduhan atau kegaduhan.
Para nabi hanya terus melangsungkan dakwahnya yang berdasarkan kepada usaha
membangkitkan akal dan hati serta menyucikan roh. Keteguhan sikap para nabi ini bagi
musuh-musuh mereka merupakan masalah yang besar. Dakwah nabi juga menjamah
suatu keluarga di mana seorang ayah dapat beriman sementara seorang anak dapat
menentang atau seorang anak dapat beriman sementara si ayah dapat menentang atau
seorang isteri beriman atau seorang suami kafir atau seorang suami beriman
sementara si isteri kafir. Perbezaan anak laki-laki dengan ayahnya dan seorang isteri
dengan suaminya menimbulkan permusuhan di dalam rumah-rumah. Dengan terjadinya
hal ini, masyarakat bergerak untuk menentang nabi dan semakin meningkatkan
tekanan-tekanan mereka kepadanya sehingga permusuhan dan kebencian mereka
kepada nabi semakin meruncing. Mereka pun berusaha untuk melawan nabi itu yang
bagi mereka telah memisahkan antara ayah dan anaknya atau ia datang untuk
memisahkan seorang anak perempuan dari ibunya.
Kemudian seorang nabi meletakkan suatu undang-undang bagi orang yang
mengikutinya, yaitu undang-undang pokok yang membatalkan undang- undang yang
tidak sesuai dengannya. Undang-undang ini tampak dalam kalimat nabi: "pertama-tama
cinta kepada Allah dan kemudian cinta kepada nabi dan setelah itu cinta kepada
sesama manusia." Makna-makna yang demikian ini tercermin secara jelas dari kalimat-
kalimat Isa yang disampaikan oleh Injil Mata pada pasal ke-10.
Al-Masih berkata: "Janganlah engkau mengira bahawa aku datang membawa
kedamaian di bumi, aku datang bukan hanya membawa kedamaian tetapi pedang. Aku
datang untuk menjadikan seorang anak berbeza dengan ayahnya dan seorang anak
perempuan berbeza dengan ibunya sehingga musuh seseorang justru terdapat pada
keluarganya. Maka barang siapa yang mencintai ibunya dan ayahnya lebih dari
kecintaannya kepadaku, maka ia tidak berhak mencintaiku, dan barang siapa yang
mencintai anak laki-lakinya dan perempuannya lebih dariku, maka ia tidak berhak
mengikutiku. Meskipun kehidupannya tampak beruntung sebenarnya ia telah rugi, dan
barang siapa yang kehidupannya merugi kerana aku, maka sebenarnya ia telah beruntung."
Penjelas Injil mengatakan: "Pemikiran orang-orang Yahudi tentang al- Masih adalah,
ketika al-Masih datang, maka semua pengikutnya akan merampas kekayaan dan
kejayaan di dunia ini lalu ia hanya memberi mereka ketenangan dan kedamaian. Ketika
al-Masih datang, ia menjelaskan kepada para muridnya bahawa hal tersebut tidak
benar, kerana jika ia datang untuk memberikan kedamaian kepada para pengikutnya,
maka mereka akan terancam kelaliman dan mereka akan mati kerana tajamnya
pedang. Maka hendaklah mereka tidak mengharapkan kedamaian tetapi peperangan;
hendaklah mereka tidak mengharapkan keserasian tetapi perpecahan." Demikianlah
masyarakat Yahudi terbagi menjadi dua kelompok: kelompok orang-orang yang fakir,
orang-orang yang lemah dan orang-orang yang bersih hatinya bersama Isa, sedangkan
kelompok majoriti menentang Isa. Bahkan kelompok majoriti kafir itu sering menyakiti Isa.
Injil Mata menceritakan penderitaan al-Masih pada pasal ke-11. Ia menceritakan
bagaimana kemarahan al-Masih terhadap orang-orang yang tidak mengabdi kepada
Yuhana (Yahya) dengan baik atau mengabdi kepadanya secara peribadi dengan baik.
Injil Mata mengutip pernyataan Isa sebagai berikut: "Dengan apa aku menyerupakan
generasi ini, Sesungguhnya mereka menyerupai anak-anak kecil yang duduk di pasar
yang berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: "Kami telah
meniup seruling tetapi kalian tidak menari. Kami mengasihi kalian tetapi kalian tidak
menangis." Yuhana telah datang dan tidak makan dan minum tetapi mereka
mengatakan, sesungguhnya ia terkena syaitan. lalu datanglah seorang anak manusia
yang makan dan minum lalu mereka mengatakan, ia adalah seorang yang ahli makan dan ahli minum khamer."
Dokumen itu menunjukkan penderitaan al-Masih dan menyingkap peperangan yang
akan dihadapinya. Penderitaan yang dialami oleh hati suci al-Masih adalah sebagai
tindakan generasi tersebut di mana beliau diutus di dalamnya sebagai orang yang
memberi petunjuk dan menyampaikan berita gembira tentang kerajaan langit. Beliau
menyerupakan generasi Yahudi itu dengan anak-anak kecil yang duduk- duduk di pasar
sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: "kami telah
meniup seruling tetapi kalian tidak menari. Kami berbelas kasih kepada kalian tetapi
kalian tidak menangis." Al-Masih mengisyaratkan dengan pernyataan itu tentang apa
yang diperbuat anak- anak kecil saat mereka bermain-main, di mana biasanya mereka
meniru orang-orang yang besar saat mereka bergembira dengan menari-nari dan saat
mereka sedih mereka menangis. Demikianlah mereka sangat cepat berubah antara
bergembira dan sedih tanpa melalui pertimbangan dan kesedaran. Demikianlah
keadaan orang-orang Yahudi saat mereka mengabdi kepada Yahya, kemudian saat
mereka mengabdi kepada al- Masih. Yahya telah datang kepada mereka dalam
keadaan menangis, tidak makan dan tidak minum dari apa yang mereka makan dan
yang mereka minum. Ia tidak bergaul dengan sembarangan manusia. Telah datang
kepada mereka seorang nabi yang ahli ibadah tetapi kebanyakan mereka menolaknya
dan mereka mengatakan bahawa ia terkena syaitan. Kemudian datang kepada mereka
al-Masih di mana ia makan dan minum bersama pada acara walimah dan hari raya lalu
mereka pun menolaknya dan mengatakan bahawa ia suka makan dan minum khamer
padahal beliau adalah cermin terbesar dalam menghilangkan syahwat dan kesucian yang sempurna.
Alhasil, generasi itu adalah generasi yang main-main Iayaknya anak kecil. Tidak ada
sesuatu pun yang dapat mempengaruhi mereka dan mereka tidak mau bertaubat.
Meskipun demikian, di sana terdapat kelompok kecil dari manusia yang terpengaruh
dan bertaubat. Dokumen tersebut menunjukkan betapa beratnya penderitaan Isa di
tengah-tengah generasi yang sezaman dengannya. Isa mengalami banyak penderitaan
dalam menyampaikan dakwahnya. Isa banyak menderita di tengah-tengah kaum yang
fikiran mereka belum matang. Mereka tak ubahnya seperti anak- anak kecil yang suka
bermain-main. Kaum yang tak tergugah oleh kalimat-kalimat yang baik dan mereka
tidak bergerak atau tersentuh ketika menyaksikan mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Allah SWT kembali memperkuat Isa dengan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan.
Mukjizat di sini adalah senjata yang diberikan Allah SWT kepada nabi-Nya agar nabi
tersebut menjadi tenteram dan agar menambah keyakinan orang-orang yang beriman
kepadanya, sedangkan bagi orang-orang kafir mukjizat tersebut justru menambah
kekufuran mereka sehingga Allah SWT memberikan pembalasan yang setimpal kepada
kedua kelompok tersebut. Mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Isa bin Maryam
yang lain adalah, Allah SWT mengabulkan doa Hawariyin dengan menurunkan
makanan dari langit. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: 'Hai Isa putera Maryam,
bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa
menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul- betul kamu orang yang beriman.'
Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami, dan
kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putera Maryam
berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari
langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-
orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda
bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang
Paling Utama.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan
itu kepadamu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu,
maka sesungguhnya Aku akan menyeksanya dengan seksaan yang tidak pernah
Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'" (QS. al-Maidah: 112-115)
Barangkali kita terhairan-hairan ketika memperhatikan perkataan Hawariyin, "wahai Isa
bin Maryam, apakah Tuhanmu mampu?" Mungkin pertama-tama yang terlintas dalam
fikiran kita berkenaan dalam ayat tersebut adalah, keraguan Hawariyin terhadap
kekuatan atau kekuasaan Allah SWT. Bagaimana hal itu mampu mereka laku-kan
sedangkan mereka adalah murid-murid Isa yang beriman dan berserah diri kepada
Allah SWT? Berkaitan dengan tafsir ayat tersebut, para ulama berbeza pendapat.
Sebahagian ulama mengatakan, bahawa pertanyaan mereka 'apakah Tuhanmu
mampu?' Yakni, berarti apakah Tuhanmu bisa? Kemudian mereka mencarikan alasan
yang membenarkan perkataan Hawariyin itu dengan mengatakan bahawa pertanyaan
itu dilontarkan saat mereka baru saja mengikuti Isa, sebelum mereka banyak
mengetahui Allah SWT. Oleh kerana itu, Isa berkata dalam jawapannya terhadap
pertanyaan mereka, bertakwalah kepada Allah SWT jika kamu benar-benar orang
mukmin. Yakni, janganlah kalian meragukan kekuasaan atau kekuatan Allah SWT.
Qurthubi menampik tafsir ini. Hawariyin adalah para penolong Allah SWT, sesuai
dengan nas Al-Quran dan tentu tidak boleh bagi penolong Allah SWT untuk tidak
mengetahui kekuatan-Nya, apalagi meragukan kekuasaan-Nya. Sebahagian ulama
mengatakan bahawa perkataan tersebut dikeluarkan orang-orang yang bersama
Hawariyin yang berasal dari Bani Israil dan tidak seorang pun dari Hawariyin yang
mengatakan demikian kecuali mereka hanya sekadar menukil perkataan tersebut. Ada
pendapat lain lagi yang mengatakan bahawa ayat tersebut tidak dibaca 'hal yastathi'
rabbuka' tetapi dibaca 'hal tastathi' rabbaka' sebagaimana bacaan Aisyah dan
sebagaimana dibaca oleh Nabi. Maknanya, "apakah engkau mampu menghadirkan
kekuatan Tuhanmu terhadap apa yang engkau minta." Ada pendapat yang lain
mengatakan ia dibaca 'hal tastathi' rabbaka', yakni "apakah engkau mampu untuk
berdoa kepada Tuhanmu atau meminta-Nya."
Sebahagian kaum sufi berpendapat bahawa kaum Hawariyin bukan tidak mengetahui
kekuasaan Allah SWT tetapi pertanyaan itu justru bersumber dari cinta kepada Allah
SWT dan keinginan menyaksikan kekuasaan Allah SWT. Sikap mereka ini menyerupai
dengan perbezaan tingkatan sikap Nabi Ibrahim as ketika beliau mengatakan:
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-
orang mati?' Allah berfirman: 'Apakah kamu belum percaya?' Ibrahim menjawab:
'Saya telah percaya, tetapi agar bertambah mantap hatiku.'" (QS. al-Baqarah: 260)
Oleh kerana itu, kaum Hawariyin berkata: "Dan hati kami menjadi mantap,"
sebagaimana Nabi Ibrahim berkata: "Agar bertambah mantap hatiku." Inilah tafsir yang
membuat kita puas dan membuat hati kita tenang. Nabi Isa menjawab pertanyaan
mereka: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman.' Yakni,
hati-hatilah kalian dengan banyak bertanya dan menguji Allah SWT kerana kalian tidak
mengetahui apa yang boleh kalian minta untuk didatangkan bukti- bukti kekuasaan
Allah SWT. Perkataan Nabi Isa, jika kalian benar-benar beriman terfokus kepada apa
yang dibawanya yang berupa mukjizat- mukjizat atau tanda-tanda kebesaran Allah
SWT. Nabi Isa bermaksud untuk mengatakan, sesungguhnya apa yang telah aku bawa
dari mukjizat- mukjizat bagi kalian seharusnya sudah cukup membuat hati kalian
mantap. "Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami
menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.'"
Kaum Hawariyin menjelaskan kepada Isa sebab pertanyaan mereka ketika beliau
melarangnya. Jika Nabi Isa keluar, maka beliau diikuti lima ribu orang atau lebih.
Sebahagian mereka dari kalangan Hawariyin dan sebahagian yang lain campuran di
antara pengikutnya dan musuhnya. Dikatakan bahawa mereka berpuasa dan mereka
tidak mempunyai makanan, lalu para pengikut berkata kepada kaum Hawariyin,
"Tanyalah kepada Isa apakah ia mampu berdoa kepada Tuhannya sehingga diturunkan
kepada kita makanan dari langit." Kemudian kaum Hawariyin pergi dengan membawa
surat kaum itu kepada Isa. Ketika Isa meminta mereka untuk merasa cukup dengan
mukjizat-mukjizat sebelumnya, mereka kembali melontarkan kebenaran permintaan
mereka: 'Kami ingin memakan hidangan itu. Mereka adalah orang-orang yang lapar
sementara mereka tidak mempunyai makanan. Dan supaya tenteram hati kami.
Hati kaum Hawariyin menjadi tenang seperti tenangnya hati Ibrahim. Dan para pengikut
pun merasa hatinya tenang dan mengakui bahawa Isa adalah Nabi yang diutus untuk
mereka. Dan hati musuh juga menjadi tenang kerana mereka menyaksikan kebatilan
mereka sehingga pilihan mereka untuk tidak mengikuti Isa berakibat pada suatu saat
mereka akan diminta pertanggungjawaban.
"Dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami. Yakni kami
mengetahui bahawa engkau utusan Allah. Dan kami menjadi orang-orang yang
menyaksikan hidangan itu. Yakni, kami menyaksikan keesaan Allah dan risalah dan
kenabianmu. Dan bagi orang lain yang tidak menyaksikannya, maka kami akan
menceritakan kepada mereka peristiwa yang terjadi."
Isa putera Maryam berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu
hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi
orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda
bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.'
Ketika kaum Hawariyin bertanya kepada Isa bin M aram agar diturunkan makanan dari
langit, maka Nabi Isa berdiri dan meletakkan pakaian dari kulit wol kemudian beliau
melangkahkan kakinya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu
beliau menundukkan kepalanya dalam keadaan khusyuk dan tunduk kepada Ala SWT.
Kemudian beliau membuka matanya dan menangis sehingga air matanya membasahi
janggutnya bahkan mencapai dadanya dan berkata: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah
kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit... Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku
akan menurunkan hidangan itu kepadamu.
Lalu turunlah makanan besar dari celah dua awan: satu awan di atasnya satu awan di
bawahnya. Saat itu manusia melihatnya. Nabi Isa berkata, "Ya Allah jadikanlah
makanan ini sebagai rahmat dan jangan menjadi fitnah." Lalu turunlah di depan Nabi
Isa sapu tangan yang menutupinya kemudian Nabi Isa tersungkur dalam keadaan sujud
yang diikuti oleh kaum Hawariyin. Mereka mendapati suatu bau yang harum yang
belum pernah mereka temukan sebelumnya.
Nabi Isa berkata, "Siapakah di antara kalian yang paling ikhlas dan paling percaya
kepada Allah SWT agar ia membuka makanan itu sehingga kita bisa makan darinya
serta berzikir kepada Allah SWT atasnya serta bersyukur kepadanya." Kaum Hawariyin
berkata: "Wahai Ruhullah sesungguhnya engkau lebih berhak daripada kami dalam hal
itu.", maka Nabi Isa berdiri lalu beliau mengambil wuduk dan solat. Kemudian beliau
banyak berdoa sambil duduk di sisi makanan itu dan membukanya. Tiba- tiba di atas
makanan itu terdapat ikan yang lazat yang tidak ada durinya. Nabi Isa ditanya: "Wahai
Ruhullah, apakah ini makanan dari dunia atau dari syurga?" Nabi Isa menjawab:
"Bukankah Tuhan kalian melarang kalian untuk bertanya pertanyaan semacam ini. Ia
turun dari langit dan tidak ada makanan sepertinya di dunia dan ia bukan berasal dari
syurga tetapi ia adalah sesuatu yang Allah SWT ciptakan dengan kekuasaan yang luar
biasa di mana Dia cukup mengatakan "jadilah, maka jadilah."
Para mufasir berbeza pendapat sekitar bentuk makanan yang diturunkan kepada Isa,
apakah itu ikan atau daging? Apakah roti atau buah-buahan? Kami memandang
bahawa pembahasan-pembahasan ini kurang penting. Sesuatu yang paling penting
yang perlu kita perhatikan adalah apa yang dikatakan oleh Nabi Isa, Sesungguhnya ia
diciptakan oleh Allah SWT dengan kekuasaan yang mengagumkan di mana Dia cukup
mengatakan "Jadilah, maka jadilah ia."
Inilah hakikat makanan tersebut. Ia merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yaitu
suatu tanda yang Allah SWT mengancam bagi siapa yang menentangnya Dia akan
menyeksanya dengan azab yang belum pernah diterima oleh seseorang pun di dunia.
Para ulama berbeza pendapat apakah makanan tersebut memang diturunkan atau
tidak, tetapi menurut pendapat majoriti dan ini yang benar makanan tersebut memang
diturunkan, sesuai dengan firman Allah SWT: "Aku akan menurunkan hidangan itu bagimu. "
Dikatakan bahawa ribuan pengikut Nabi Isa memakannya dan makanan tersebut tidak
habis. Setiap orang yang buta ia sembuh dari butanya dan setiap orang yang belang ia
sembuh dari belangnya akibat memakan hidangan itu. Alhasil, setelah menyantap
makanan itu, orang yang sakit sembuh dari penyakitnya. Maka hari turunnya makan itu
dijadikan hari raya dari hari raya-hari raya kaum Hawariyin dan para pengikut Nabi Isa.
Kemudian berita dan peristiwa turunnya makanan itu mulai hilang dan mulai dilupakan
sehingga kita tidak menemukan beritanya hari ini di Injil- Injil yang mereka akui. Setelah
peristiwa makanan yang Allah SWT ceritakan dalam surah al-Maidah, Allah SWT
menunjukkan kepada kita sikap lain dari Nabi Isa bin Maryam. Allah SWT berkata
setelah menceritakan kepada kita tentang turunnya mukjizat makanan dari langit:
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain
Allah!' Isa menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka
tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada
diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang Engkau beri padaku (mengatakan)nya yaitu:
'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap
mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku,
Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
Jika Engkau menyeksa mereka, maka sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.' Allah
berfirman: 'lni adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar
kebenaran mereka. Bagi mereka syurga yang di bawahnya mengalir sungai-
sungai; mereka kekal di dalamnya selama-selamanya; Allah redha terhadap
mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling
besar.' Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (QS. al-Maidah: 116-120)
Dengan ayat-ayat tersebut, Al-Quran menutup surah al-Maidah. Demikianlah konteks
Al-Quran berpindah secara mengejutkan dari turunnya makanan kepada sikap atau
dialog antara Allah SWT dan Isa bin Maryam pada hari kiamat. Allah SWT bertanya
pada hari kiamat: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:
'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'
Para ahli ilmu sepakat bahawa pertanyaan tersebut bukan bersifat pertanyaan murni
meskipun tampak dalam bentuk pertanyaan kerana Allah SWT mengetahui apa yang
dikatakan oleh Isa. Tentu yang dimaksud dengan pertanyaan itu adalah sesuatu yang
lain. Ada yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud memberitahu Isa bahawa
kaumnya telah mengubah ajarannya sepeninggalannya. Dan mereka telah
mendapatkan fitnah. Ada lagi yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud dari
pertanyaan itu untuk mencela orang-orang yang mengubah akidah Nabi Isa setelah
beliau tidak ada. Kami kira pertanyaan tersebut memuat dua makna dan mencakup makna yang lain.
Allah SWT ingin menyingkap dan memberitahu manusia dalam Kitab-Nya yang terakhir
bahawa Nabi Isa terlepas dari berbagai macam tuduhan, dan apa saja yang dilakukan
kaumnya sepeninggalannya. Konteks Al- Quran menunjukkan tentang peristiwa ghaib
yang belum terjadi meskipun akan terjadi pada hari kiamat. Oleh kerana itu, Al-Quran
menyampaikannya dalam bentuk fi'il madhi (kata kerja bentuk lampau). Al-Quran
menyampaikan berita ghaib ini kepada penduduk dunia agar mereka mengetahui hakikat Isa bin Maryam.
Allah SWT bertanya kepadanya dan Isa bin Maryam menjawab. Sebagai nabi besar,
Isa tidak menjawab kecuali setelah ia mengatakan: 'Maha Suci Engkau ya Allah.'
Sebelum menjawab, Isa memulai dengan tasbih dan menyucikan Allah SWT. Nabi Isa
menampakkan kepatuhan dan ketundukan kepada kemuliaan Allah SWT dan rasa takut
terhadap azab- Nya. Qurthubi menyampaikan dalam tafsirnya:
"Ketika Allah SWT berkata kepada Isa, apakah engkau berkata kepada manusia
jadikanlah aku dan ibuku tuhan selain Allah, maka Isa tampak gementar terhadap
perkataan itu sehingga ia mendengar rintihan dari tulang-tulangnya di dalam jasadnya
lalu ia berkata: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan
hakku (mengatakannya). Tidak mungkin aku memutuskan sesuatu yang tidak aku miliki,
yang diriku tidak dapat melakukannya. Aku hanya seorang hamba, bukan seorang yang
disembah: Jika aku pernah mengatakannya maha tentulah Engkau telah mengetahuinya.
Demikianlah Nabi Isa menyampaikan jawapannya kepada Allah SWT dan ia
mengembalikan sesuatu kepada Allah SWT. Dan Allah SWT Maha Mengetahui
terhadap apa yang dikatakannya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan
aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Yakni, Engkau mengetahui apa
yang aku sembunyikan sedangkan aku tidak mengetahui apa yang engkau
sembunyikan. Engkau mengetahui rahsiaku dan apa yang terlintas dalam hatiku dan
aku tidak mengetahui apa yang Engkau sembunyikan dari ilmu ghaib-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Hanya Engkau yang
tahu terhadap hal-hal yang ghaib. Hanya Engkau yang tahu terhadap apa yang terjadi
di tengah-tengah mereka setelah Engkau angkat aku dari bumi: 'Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau kepadaku (mengatakan)nya
yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu.'
Demikianlah kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Isa bin Maryam. Dia hanya
mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya:
Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.
Sesungguhnya Engkau mengawasi mereka saat aku tinggal di tengah- tengah mereka
dan mengajak mereka ke jalan yang benar. Maka setelah Engkau wafatkan aku,
Engkaulah yang mengawasi mereka. Al-Wafat dalam Kitab Allah mempunyai tiga
bentuk: Pertama, wafat dalam pengertian kematian, sebagaimana firman Allah SWT:
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya." (QS. az-Zumar: 42)
Yakni ketika tercabutnya ajal. Kedua, bahawa wafat adalah tidur, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari. " (QS. al-An'am: 60)
Yakni yang menidurkan kalian. Ketiga, wafat berarti pengangkatan, sebagaimana firman Allah SWT:
"Hai Isa, sesungguhnya Aku yang menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan
mengangkat kamu kepada-Ku. " (QS. Ali 'Imran: 55)
Demikianlah Isa terbebas dari apa yang mereka katakan dan apa yang mereka
nisbatkan kepadanya. Isa mengumumkan bahawa dakwahnya tidak lebih dari sekadar
ajakan untuk bertauhid dan tidak keluar dari kerangka Islam yang diakui oleh
pengikutnya. Kemudian Isa kembali menyampaikan pembicaraannya dan meminta
belas kasihan kepada Allah SWT: Jika Engkau menyeksa mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba-Mu. Tidak seorang pun dari makhluk yang mempunyai
kekuasaan di atas-Mu dan tidak ada Pencipta selain-Mu. Maha Suci Engkau dan tiada
sekutu bagi-Mu dalam kerajaan dan kekuasaan. Pada akhirnya, mereka adalah hamba-
Mu dan seorang hamba tidak memiliki apa-apa di hadapan tuannya kecuali kepatuhan:
Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'
Isa tidak mengatakan jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkau Maha
Pengampun dan Maha Pengasih. Jadi, jawapan Isa terfokus pada penyerahan diri dan
kepatuhan serta tunduk kepada kemuliaan Allah SWT dan kebesaran-Nya. Para
pengikut Nabi Isa adalah hamba-hamba Allah SWT yang patuh. Jika Allah SWT
berkehendak, maka Dia akan menyeksa mereka sesuai dengan seksaan yang layak
mereka terima, dan jika Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni mereka kerana
Dia mengetahui kerana mereka memang layak untuk mendapatkan ampunan. Dengan
penyerahan yang mutlak ini, Isa menyampaikan jawapan atas pertanyaan Allah SWT
dan beliau berlepas diri dari apa yang dikatakan oleh kaumnya sepeninggalannya. Isa
menyampaikan - pada awal pembicaraannya - bahawa hanya Allah SWT yang patut
disembah, dan pada akhir pembicaraannya Isa menyampaikan penyerahan dirinya
kepada Allah SWT. Allah berfirman: 'Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-
orang yang benar kebenaran mereka.
Allah SWT memuji ketulusan Isa, dan kerana dialog tersebut terjadi pada hari kiamat,
Allah SWT berfirman: "Hari ini adalah hari kiamat di mana orang-orang yang benar akan
dapat mengambil manfaat dari kebenaran mereka di dunia. Kebenaran mereka di sana
akan mereka temukan balasannya yang berupa rahmat di sini. "Bagi mereka syurga
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-
selamanya; Allah redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya. "
Demikianlah balasan orang-orang yang benar, syurga. Dan ada balasan yang lebih baik
dari syurga, yaitu kepuasan (redha) seorang hamba terhadap Allah SWT dan
keredhaan Allah SWT terhadap hamba. Pengertian kepuasan seorang hamba adalah
kegembiraannya terhadap penyembahan kepada Allah SWT sedangkan pengertian
keredhaan Allah SWT terhadap hamba-Nya adalah rahmat yang diberikan-Nya kepada
mereka: Itulah keberuntungan yang paling besar.' Setelah itu Allah SWT,
memberitahukan hakikat Isa dan seluruh nabi-Nya: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan
langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu." Allah SWT adalah Penguasa satu-satunya dan Dia Pencipta satu-satunya.
Selain-Nya adalah hamba.
Isa terus melangsungkan dakwahnya sehingga kejahatan dan keburukan mengetahui
bahawa singgasana mereka terancam hancur. Lalu pasukan keburukan bergerak untuk
menangkapnya. Orang-orang Yahudi menyakitinya dan menuduhnya dengan berbagai
macam tuduhan. Isa dikatakan sebagai penyihir dan sebagai orang yang mengubah
syariat dan mereka menisbatkan kekuatannya yang luar biasa kepada kekuatan
syaitan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tipu daya yang dapat melumpuhkan Nabi Isa
dan mereka melihat orang-orang yang lemah dan orang-orang fakir berkumpul di
sekitarnya, maka mereka mulai membikin suatu, makar. Mereka mempengaruhi orang- orang Romawi.
Mula-mula pemerintahan Romawi tidak turut campur kerana menganggap bahawa
perselisihan-perselisihan antara orang-orang Yahudi adalah perselisihan yang terjadi
demi memperebutkan kepentingan sesama mereka. Lalu diadakanlah majlis
Sanhadurim (yaitu majlis undang-undang tertinggi dari kalangan Yahudi). Mereka
berkumpul untuk membuat persekongkolan demi menyingkirkan Isa. Persekongkolan
itu mengambil bentuk yang baru.
Ketika orang-orang Yahudi tidak mampu memerangi Nabi Isa, mereka berfikir untuk
membunuhnya. Mulailah para ketua pendeta Yahudi bermusyawarah untuk membuat
suatu kesimpulan tentang cara yang mereka lakukan untuk menangkap Nabi Isa yang
tidak menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.
Ketika para kepala Yahudi bermusyawarah, maka salah seorang dari murid al-Masih
yang dua belas pergi kepada mereka, yaitu Yahuda al- Iskhriyutha. Ia berkata kepada
mereka, "Apa yang kalian berikan jika aku berhasil menyerahkannya kepada kalian."
"Meja pengkhianatan telah digelar di antara mereka dan dimulailah perundingan.
Orang-orang Yahudi berusaha mencari titik temu dan mereka sepakat untuk
memberinya tiga puluh lempeng dari perak. Ini adalah harga yang biasa mereka
lakukan untuk membeli seorang budak sesuai dengan syariat Yahudi." (penjelasan Injil Mata)
Selesailah konspirasi yang menetapkan untuk menangkap al-Masih dan kemudian
membunuhnya. Dikatakan bahawa kepala pendeta Yahudi merobek-robek bajunya
secara dramatis di suatu pertemuan agama dan ia berteriak, "sungguh Isa telah kafir."
Pero bukan baju dalam tradisi orang-orang Yahudi dilakukan ketika mereka mendengar
atau melihat sesuatu yang mengandung penghinaan terhadap Allah. Para pendeta
Yahudi tidak memiliki kekuasaan untuk menetapkan hukum bunuh pada saat itu.
Semua itu dilakukan oleh kekuasaan penguasa Romawi. Tetapi tampaknya mereka
berhasil meyakinkan kekuasaan Romawi bahawa Isa telah membuat rencana untuk
melengserkan kekuasaan Romawi atau mereka berhasil meyakinkan penguasa
Romawi bahawa masalah yang mereka hadapi murni berkaitan dengan tradisi mereka
dan keyakinan mereka. Kemudian mereka menyarankan agar penguasa tidak turut
campur atas apa yang mereka tetapkan. Demikianlah konspirasi itu telah ditetapkan
dan telah diputuskan bahawa Isa harus ditangkap dan kemudian disalib.
Empat Injil yang diakui oleh kalangan Masehi saat ini membicarakan tentang proses
pembunuhan Isa di mana beliau disalib kemudian beliau bangkit dari kematiannya dan
naik ke langit. Semua Injil ini sepakat tentang proses penyaliban Isa dan kematiannya,
sebagaimana mereka sepakat tentang tabiat Isa yang mengandung ketuhanan yang
bercampur dengan tabiatnya sebagai manusia. Kami akan menyampaikan keyakinan
orang-orang Masehi berkaitan dengan Isa sebagaimana diyakini oleh majoriti kaum
Nasrani saat ini, kemudian kami akan mengemukakan keyakinan Islam tentang Isa
sebagaimana diceritakan oleh Al-Quran al- Karim dan disampaikan oleh para ulama
dan disebutkan dalam hadis. Setelah itu, kita akan membicarakan hal-hal yang perlu
dibicarakan berkaitan hubungan antara kaum Muslim dan kaum Masehi serta kaitannya dengan akidah mereka.
Injil Mata mengatakan, "Isa ditangkap dan majlis Sanhadirum memutuskan bahawa ia
harus dibunuh. Kemudian para anggota majlis itu dari kepala-kepala para pendeta dan
para tokoh mereka menghinanya dan mengejeknya serta berbuat aniaya terhadapnya
bahkan mereka meludahi wajahnya dan menempelengnya. Sambil mengejek mereka
berkata, "beritahukanlah wahai al-Masih siapa yang memukulmu." Setelah itu al-Masih
ditangkap dan ia ditetapkan untuk dibunuh.
Adalah sudah menjadi tradisi di kalangan orang-orang Romawi untuk mencambuk
orang yang ditetapkan untuk dibunuh sebelum pelaksanaan hukum tersebut. Oleh
kerana itu, para penguasa Romawi menetapkan agar al-Masih dicambuk terlebih
dahulu. Sedangkan syariat Musa menetapkan agar cambukan itu tidak melebihi empat
puluh kali, namun orang-orang Romawi tidak berhenti pada batasan ini bahkan mereka
terus mencambuk korban dengan cambukan yang kejam dan terus- menerus sehingga
punggung yang bersangkutan hampir saja patah dan nafasnya nyaris tinggal sedikit.
Setelah itu, mereka mulai melaksanakan hukum bunuh kepadanya. Demikianlah yang
dilakukan oleh tentera terhadap penyelamat kita. (Injil Mata 26)
Selesailah proses pecambukan, lalu penguasa Romawi menyerahkan Isa kepada
tentera agar mereka menyalibnya. Kemudian para tentera membuat sesuatu hal yang
bermaksud untuk menghibur. Mereka mencabut pakaian Isa yang dilumuri dengan
darah yang ada luka di tubuhnya setelah proses pencabukan, lalu mereka memakaikan
pakaian merah dengan maksud untuk mengejeknya. Para raja biasanya memakai
pakaian merah. Mereka terus menghinanya. Mereka memakaikannya mahkota dari duri
dan meletakkannya di atas kepalanya. (Injil Mata 26)
Akhirnya, mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Jaljatsah, yaitu suatu
tempat di luar pagar Ursyilim. Tradisi Yahudi menetapkan untuk memberi satu gelas
khamer yang bercampur dengan minyak wangi bagi orang yang ditetapkan untuk
dihukum mati sebelum pelaksanaan hukum. Ini dimaksudkan sebagai alat pembius
untuk meringankan penderitaannya. Tetapi para tentera menentang tradisi ini dan
mereka memberi al-Masih satu gelas dari cuka yang bercampur dengan sesuatu yang pahit." (Injil Mata 26)
Teks Injil mata mengatakan (cetakan tahun 1972) pada pasal kedua puluh tujuh:
"Sehingga mereka sampai ke suatu tempat yang bernama Jaljatsah lalu mereka
memberinya minuman keras yang bercampur dengan empedu agar ia meminumnya.
Ketika ia merasakannya, ia enggan untuk meminumnya. Kemudian mereka
menyalibnya. Kemudian mereka duduk di sana menjaganya dan meletakkan di atas
kepalanya suatu tuduhan yang tertulis: Ini adalah Yasu', penguasa Yahudi. Mereka
benar-benar menyalibnya bersama Yasim. Salah seorang dari keduanya di sebelah
kanannya dan yang lain di sebelah kirinya. Lalu orang-orang yang lewat di tempat itu
mencelanya dan berkata, "wahai yang menghancurkan tempat sembahan dan yang
membangunnya pada tiga hari, selamatkanlah dirimu dan jika engkau adalah anak
Allah, maka turunlah dari tempat penyaliban itu."
Demikianlah sebahagian riwayat kaum Masehi tentang proses penyaliban serta
penafsiran mereka berkaitan dengannya. Kami telah menukilnya tanpa memperhatikan
tentang catatan yang terdapat dalam Injil Mata yang terbaru, yaitu ia merupakan
catatan yang paling baik dalam bentuknya yang terkumpul dari ulama-ulama mereka
dan tokoh-tokoh agama Masehi sehingga ia lebih mudah untuk difahami dan lebih
sederhana. Kami telah mengemukakan sebahagiannya kepada Anda dalam halaman-halaman ini.
Sementara itu, dalam akidah Islam disebutkan suatu riwayat yang berbeza dengan
riwayat yang ada dalam Injil-Injil yang terdapat sekarang, baik yang berhubungan
dengan kehidupan akhir yang dialami oleh Isa mahupun tabiat Isa yang merupakan
sumber perselisihan setelah pengangkatannya. Al-Quran al-Karim menceritakan
bahawa Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa atau
menyalibnya tetapi Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka lalu
mengangkatnya di sisi-Nya. Mereka tidak berhasil membunuhnya dan tidak berhasil
menyalibnya tetapi ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah SWT berfirman:
"Dan kerana ucapan mereka: 'Sesungguhnya kami telah membunuh al- Masih, Isa
putera Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula
menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) Isa,
benar- benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai
keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka,
mereka tidak pula yakin bahawa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang
sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadanya." (QS. an-Nisa': 157-158)
Dan Allah SWT juga berfirman:
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan
menyampaikan kamu pada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta
membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. " (QS. Ali 'Imran: 55)
Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal itu dan mereka berselisih pendapat tentang
cara beragumentasi terhadap apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Sebahagian
mereka meyakini nas-nas Al-Quran saja yang menyebut tentang Isa al-Masih dan
mereka tidak mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain Al-
Quran. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang
berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahawa Nabi melarang
untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Bagi kaum itu
agama mereka dan bagi kita agama kita dan hanya Allah SWT yang akan memutuskan
segala perselisihan di antara kita pada hari kiamat.
Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua mengatakan
bahawa larangan Nabi tersebut terjadi pada permulaan masa Islam di mana kaum
Muslim sangat dekat dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak
disibukkan dengan kitab-kitab lain selain kitab mereka, yakni Al-Quran. Yang demikian
ini dimaksudkan agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan mereka benar-
benar tertanam dalam diri mereka, Tetapi ilmu dan pandangan ilmiah menetapkan
bahawa seorang yang alim harus banyak menggali kitab- kitab kuno dalam rangka
mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati sesuatu yang sesuai dengan apa yang
didapatinya dengan kebenaran, maka hatinya akan lebih merasa tenang dan damai.
Berkaitan dengan kelompok yang pertama yang merasa cukup dengan Al-Quran, kita
tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha
penangkapan Isa, bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana Isa
diserupakan dengan salah seorang di antara mereka, bagaimana dia diserupakan
dengan salah seorang di antara mereka. Allah SWT telah menyerupakannya dengan
salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit. Demikianlah
penjelasan singkat mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang
kedua, mereka melontarkan kisah secara lengkap. Mereka mengatakan bahawa Allah
SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah Yahuda al- Askhariyutha
yang menurut Injil ia menjualnya kepada musuh-musuhnya dan menunjukkan kepada
mereka tentang keberadaannya. Ia adalah seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini
sesuai dengan Injil Barnabas di mana disebutkan di dalamnya: "Ketika para tentera
mendekat bersama Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu', maka Yasu'
mendengar kedatangan segerombolan orang yang menuju tempatnya. Oleh kerana itu,
ia segera pergi ke rumah dalam keadaan takut. Di dalam rumah itu terdapat sebelas
orang yang tidur. Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya, maka Dia
memerintahkan Jibril, Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang mereka semua
adalah para utusan- Nya untuk mengambil Yasu' dari dunia. Lalu datanglah malaikat-
malaikat yang suci di mana mereka mengambil Yasu' dari pintu yang dekat dengan
arah selatan. Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang ketiga dengan
disertai para malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah selama-lamanya. Yahuda
masuk secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu' diangkat ke langit. Saat itu murid-
murid sedang tidur semuanya, lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di
mana Yahuda berubah cara berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali
dengan Yasu' sehingga kami mengiranya Yasu'. Adapun ia (Yahuda) setelah
membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada. Oleh kerana itu, kami
merasa heran dan kami menjawab, "bukankah engkau wahai tuanku guru kami, apakah
sekarang engkau telah melupakan kami?" Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil
Barnabas. Allah SWT berfirman:
"Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang Sesungguhnya telah
berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar,
kedua-duanya biasa memakan makanan." (QS. al-Maidah: 75)
Para ulama berkata, "Al-Masih dinamakan al-Masih kerana ia mengusap bumi dan
membersihkannya serta usahanya untuk menyelamatkan agama dari fitnah di zaman
itu kerana saking hebatnya kebohongan orang-orang Yahudi kepadanya dan
bagaimana usaha mereka untuk menciptakan dusta padanya dan kepada ibunya as."
Banyak ulama yang meriwayatkan tentang kesucian spirituil dari Nabi Isa. Abu Hurairah
meriwayatkan dari Nabi bahawa beliau menceritakan tentang al-Masih sebagai berikut:
"Isa melihat seorang lelaki yang mencuri lalu ia berkata: "Wahai si fulan apakah engkau
mencuri?" Orang itu berkata: "Tidak, demi Allah aku tidak mencuri," Isa berkata: "Aku
beriman kepada Allah SWT dan penglihatanku telah berbohong." Ini menunjukkan
kesucian rohani Isa di mana ia lebih memilih sumpah orang itu atas apa yang
disaksikannya. Ia membayangkan bahawa orang tersebut tidak akan bersumpah dan
membawa nama Allah SWT yang Maha Besar lalu ia berdusta sehingga ia menerima
penyataannya dan ia kembali kepada dirinya sendiri sambil berkata: "Aku beriman
kepada Allah SWT, yakni aku mempercayaimu dan mataku telah berbohong kerana
engkau telah bersumpah." Ada riwayat lagi yang mengatakan bahawa suatu hari Nabi
Isa berjalan bersama sahabatnya dan mereka melewati bangkai anjing yang busuk
baunya, lalu sahabat-sahabat Isa sangat terpukul dan sangat menderita dengan bau
anjing itu. Melihat sikap mereka, Isa berkata: "Lihatlah betapa putih giginya."
Isa ingin mengajari manusia bagaimana mereka menghadapi keburukan di mana Nabi
Isa menekankan agar mereka lebih melihat kepada keindahan dan kebaikan. Dakwah
Nabi Isa merupakan puncak dari ketinggian rohani dan idealisme yang mengagumkan
di mana Beliau lebih menekankan kebaikan daripada keburukan. Rasulullah berkata:
"Semua para nabi adalah saudara, agama mereka satu sedangkan mereka dilahirkan
dari berbagai macam ibu dan aku adalah manusia yang utama begitu juga Isa bin
Maryam di mana tidak ada nabi setelahku dan sesudahnya." Dalam berbagai riwayat
disebutkan bahawa Nabi Isa akan turun pada akhir zaman. Islam sangat memberikan
penghormatan kepada Isa yang sesuai dengan kedudukannya sebagai salah satu nabi
ulul azmi yang besar. Islam menamakannya Rasulullah dan Kalimatullah yang telah
diberikan kepada Maryam. Allah SWT berfirman:
"Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan
janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya
al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan)
kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-
Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu
mengatakan: '(Tuhan itu) tiga.' Berhentilah dari ucapan itu. (Itu) lebih baik
bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci dari mempunyai
anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah
untuk menjadi Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi
Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat malaikat yang terdekat (kepada Alah).
Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti
Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadanya. Adapun orang-orang yang
beriman dan berbuat amal soleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala
mereka dan menambah untuk mereka sebahagian dari kurnia- Nya. Adapun
orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyeksa
mereka dengan seksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri
mereka, pelindung dan penolong selain dari Allah. " (QS. an-Nisa': 171- 173)
Ibnu Katsir berkata dalam Qhisasul Anbiya': Para pengikut Nabi Isa berselisih pendapat
setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebahagian mereka mengatakan, di tengah-tengah
kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebahagian lagi mengatakan, dia
adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak Allah. Mereka berselisih
pendapat tentang Injil yang menyebutkan berbagai kebohongan di mana terdapat di
dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian. Al-Quran al- Karim telah
membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahawa Allah SWT Maha Suci dari
segala sekutu dan anak dan segala hal yang menyerupai-Nya serta segala bentuk
ingkarnasi, kejauhan, kedekatan dan pencapaian pandangan mata. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.'Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan
tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. " (QS. al-Ikhlash: 1-4)
Dan tentang Isa as Allah berfirman: "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi
Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah,
kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah ia." (QS. Ali 'Imran: 59)
"Mereka (orang-orang kafir) berkata: Allah mempunyai anak.' Maha Suci Allah,
bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua
tunduk kepadanya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya:
'Jadilah', lalu jadilah ia." (QS. al-Baqarah: 116-117)
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putera Allah' dan orang-orang Nasrani
berkata: Al-Masih itu putera Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka di laknat
oleh Allah; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. Al-Aubah: 30)
Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti
mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus pada
keyakinan penyaliban Isa, tentang tebusan dan kebangkitan Tuhan yang disembelih
serta penentangannya terhadap para pengikutnya setelah kematiannya.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya telah kafilah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu
ialah al-Masih putera Maryam.' Katakanlah: 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat
menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih
putera Maryam itu berserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi
semuanya?' Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu." (QS. al-Maidah: 17)
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah seorang dari
yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada selain dari Tuhan Yang Esa." (QS. al-Maidah: 73)
Demikianlah Al-Quran al-Karim menyebutkan sikap berbagai aliran yang saling
berlawanan yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Quran menjelaskan
bahawa al-Masih adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul yang diutus kepada Bani
Israil. Kata hamba dan rasul adalah kata yang sangat jelas ertinya, adapun yang
dimaksud dengan al-Kalimah dan ar- Roh, maka kedua kata tersebut perlu dijelaskan.
Kaum Muslim memahami bahawa al-Kalimah adalah petunjuk Allah SWT yang
diberikan-Nya kepada Maryam sedangkan ar-Roh adalah menunjukkan atau
mengisyaratkan kepada Roh Kudus, yaitu Jibril as. Allah SWT telah menguatkannya
atau menguatkan Nabi Isa dengan roh yakni Jibril:
"Dan (ingatlah) ketika Aku dukung kamu dengan Ruhul Kudus." (QS. al-Maidah:110)
Setelah mengemukakan keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir
dari kehidupannya dan setelah menjelaskan kebenaran yang Allah SWT ceritakan
kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari kehidupan yang dialami oleh Nabi
Isa, kita ingin mengetahui apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dalam
hubungan mereka dengan orang-orang Masehi serta keyakinan mereka. Islam
menetapkan atau menyampaikan nas-nas yang jelas yang mengkhususkan agama
Masehi - di antara agama-agama yang lain - dengan kecintaan. Al-Qu'ran mengingkari
ketuhanan al-Masih; ia juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa yang
dilakukannya. Namun Al-Quran menegaskan dalam nasnya bahawa agama Nasrani
merupakan agama yang lebih dekat kecintaannya kepada Islam. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya
terhadap orang-orang yang beriman ialah orang- orang Yahudi dan orang-orang
musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya
dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:
'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan kerana di
antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-
rahib, (juga) kerana sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (QS. al-Maidah: 82)
Allah SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas petunjuknya. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan
kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (keadaan tidak menikah
dan mengurung diri di biara) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka
tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keredhaan Allah." (QS. al-Hadid: 27)
Tidak terdapat kontradiksi dari dua sikap tersebut. Pengingkaran Al- Quran terhadap
ketuhanan al-Masih dan pengakuannya terhadap kecintaan kaum Nasrani serta
pujiannya terhadap orang-orang yang mengikuti Nabi Isa mengandung makna lebih dari
satu: Pertama, bahawa Masehi berdasarkan pada agama Tauhid dan sangat sulit bagi
para pengikutnya untuk meninggalkan tauhid, dan hanya Allah SWT yang mengakui
hakikat apa yang terpendam dalam hati; kedua, dalam kalangan orang-orang Nasrani
terdapat para pendeta dan para rahib yang tidak bersikap congkak di hadapan Allah
SWT tetapi mereka sangat patuh dan tunduk kepadanya; ketiga, sebahagian pengikut
Nabi Isa memiliki hati yang dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat. Tentu rahmat
dan kasih sayang tersebut tidak tumbuh kecuali dari keimanan terhadap hari akhir.
Allah SWT telah menetapkan perintah-Nya kepada kaum Muslim agar mereka
memperlakukan ahlul kitab dengan perlakuan yang mulia dan baik, sebagaimana Islam
menjamin kebebasan untuk menentukan keyakinan pada setiap manusia. Allah SWT berfirman:
"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di
muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya
mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (QS. Yunus: 99)
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang salah." (QS. al- Baqarah: 256)
"Katakanlah: 'Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita
sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan
tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan
selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka:
'Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada
Allah).'" (QS. Ali 'Imran: 64)
Kita perhatikan bahawa ayat-ayat tersebut berbicara tentang cara memperlakukan
kaum Masehi sebagai individu sebagaimana ia berbicara tentang bagaimana kita
memperlakukan keyakinan mereka. Sehubungan dengan kaum Masehi sebagai
individu, kita menyaksikan ayat-ayat tersebut memerintahkan untuk membalas
kecintaan yang mereka perlihatkan di mana nas tersebut dengan tegas mengatakan
bahawa mereka lebih dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman. Jika Allah
SWT yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus membalas
kebaikan dan kecintaan yang ditunjukkan oleh kaum Nasrani. Adapun sehubungan
dengan keyakinan mereka, di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang melarang
untuk memaksa manusia dalam bentuk apa pun. Allah SWT berfirman:
"Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang
ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir." (QS. al-Kahfi: 29)
Yang demikian itu, kerana keimanan yang didahului dengan paksaan adalah bukan
keimanan kerana ia berarti mencabut ikhtiar atau kebebasan manusia, padahal itu
adalah syarat dari keimanan. Dan barangkali inilah yang menunjukkan kesempurnaan
Islam di lihat dari sikapnya yang demikian indah. Kami kira tanpa kita harus
memaksakan tafsiran kita kepada ayat-ayat tersebut dan memohon kepada Allah SWT
dari kesalahan dan kebodohan bahawa Islam dengan sikapnya itu ingin menjauhkan
para pengikutnya dari kalangan awam dari perdebatan yang panjang dan melelahkan
seputar keyakinan orang lain. Tentu perdebatan tersebut tidak akan berhujung dan
akan menjadi seperti debat kusir saja. Namun tugas tersebut hanya di emban oleh para
ulama, di mana mereka membahas sebagaimana mereka kehendaki berbagai
keyakinan-keyakinan keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi
tanggung jawab dalam hal itu. Lagi pula, perselisihan antara keyakinan dan aliran-
aliran di kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan orang- orang awam,
maka itu hanya memboroskan waktu dan hanya membuat lelah saja.
Islam akan kembali menjadi asing dan akan kembali menjadi asing seperti pertama kali
terbit. Dalam suasana keasingan Islam yang pertama, orang-orang Muslim berhasil
membangun suatu individu Muslim yang kukuh. Dan ketika bangunan tersebut telah
selesai, maka sempurnalah pembangunan pemerintahan Islam. Kita tidak mendengar
bahawa salah seorang di antara mereka terlibat dalam perdebatan yang sengit yang
tidak berhujung sekitar keyakinan orang lain. Sesungguhnya memberi petunjuk kepada
orang lain sehingga orang tersebut mengetahui jalan menuju Allah SWT adalah
perbuatan yang indah, tetapi hidayah tersebut didahului dengan tekad seseorang untuk
memberikan petunjuk kepada dirinya sendiri. Seandainya orang-orang Islam
membimbing mereka menuju jalan Allah SWT nescaya Allah SWT memberi petunjuk
melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.
Al-Quran menetapkan dua mukjizat kepada Nabi Isa yang tidak disebutkan dalam kitab
Injil: pertama mukjizat yang berupa pembicaraannya saat ia masih menyusui di buaian.
Dan yang kedua mukjizat makanan yang turun dari langit kepada kaum Hawariyin.
Sebagaimana Al-Quran menetapkan kemuliaan yang diperoleh oleh Nabi Isa saat ia
diselamatkan dari tangan-tangan jahat orang-orang Yahudi yang ingin menyeksanya
atau membunuhnya sehingga Nabi Isa terselamatkan dan dia diangkat ke langit.
Rasulullah saw mewasiatkan kepada sahabatnya agar mereka memperlakukan orang-
orang Masehi dengan penuh kebaikan, bahkan beliau menikahi Maria al-Qibthiya. Ibnu
Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa seseorang lelaki dari Bani Salim bin Auf
yang bernama al-Hasin mempunyai dua orang anak yang masih Kristen, lalu ia masuk
Islam dan bertanya kepada Rasulullah saw bagaimana seandainya ia harus memaksa
kedua anaknya untuk memeluk Islam sedangkan mereka berdua menolak agama lain
selain agama Masehi? Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi:
"Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam)." (QS. al-Baqarah: 256)
Ketika para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah untuk
berunding dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah dari masjidnya agar
mereka dapat melaksanakan solat dengan cara mereka di dalamnya. Pada suatu hari
Rasulullah saw berdiri untuk melakukan solat kepada seseorang jenazah lalu dikatakan
kepadanya bahawa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah menjawab:
"Bukankah ia adalah manusia." Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa yang mengganggu secara aniaya seorang Yahudi atau seorang Nasrani,
maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat." Terkadang kekuasaan akan langgeng
meskipun disertai dengan kekufuran tetapi ia tidak akan abadi ketika disertai dengan kezaliman.
Para ulama Islam berselisih pendapat berkaitan dengan keadaan Nabi Isa setelah
pengangkatannya. Mereka sepakat bahawa beliau tidak disalib tetapi Allah SWT
mengangkatnya di sisi-Nya. Tetapi ketika ia tidak disalib, maka bagaimana keadaannya
setelah itu: apakah ia masih hidup, ataukah ia mati seperti matinya nabi yang lain?
Majoriti mengatakan bahawa Allah SWT mengangkat Isa dengan fiziknya dan rohnya di
sisi- Nya. Mereka mengambil zahir dari firman-Nya:
"Tetapi Allah mengangkatnya di sisi-Nya." (QS. an-Nisa': 158)
Juga sebahagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, kelompok yang
lain dari kalangan mufasirin, dan ini adalah kelompok yang minoriti, mereka
mengatakan bahawa Nabi Isa hidup sehingga Allah SWT mematikannya sebagaimana
Dia mematikan nabi-nabi-Nya lalu Dia mengangkat rohnya di sisi-Nya sebagaimana roh
para nabi diangkat, begitu juga roh para shidiqin (orang-orang yang benar) dan
syuhada. Mereka mengambil zahir firman-Nya:
"(Ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai ha, sesungguhnya Aku akan
menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku
serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran: 55)
Kami sendiri lebih memilih pendapat yang pertama kerana ia sangat sesuai - sebagai
mukjizat yang luar biasa - dengan kelahiran Isa di mana kelahiran tersebut dipenuhi
dengan mukjizat yang luar biasa, juga sesuai dengan kehidupannya dan kesuciannya.
Jadi, kedua-duanya merupakan mukjizat yang luar biasa.
NABI ISA a.s. DENGAN ORANG MABUK CINTA
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari
Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air dikebun.
Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat Nabi Isa a.s berada di hadapannya
maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia
memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s,
"Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah,
maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda
itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya
Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa
a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang
lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat
berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-
lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ
bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa
kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda
itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu
yang berada di antara gunung- ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar,
matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu
tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian
Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat
mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar
setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku,
kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Pengajaran
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara
yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat
sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani
merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima
dan lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al- Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
Komentar
Posting Komentar