Kisah Nabi Musa Dan Nabi Harun a.s
KISAH NABI MUSA DAN NABI HARUN a.s.
Yakub atau Israil tinggal di Mesir sejak ia datang untuk bertemu dengan anaknya,
Yusuf. Ketika beliau wafat mereka menguburnya di tempat di mana ia dilahirkan di
Palestina. Anak-anak Israil lebih memilih untuk hidup di Mesir di sisi Yusuf. Keadaan
Mesir, kebaikannya yang banyak, kelayakan tanahnya, dan keharmonisan iklimnya
merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka untuk tinggal di dalamnya. Anak-anak
Israil tinggal di Mesir dalam tempo yang lumayan. Mereka menikah sehingga jumlah
mereka bertambah banyak. Berlalulah tahun demi tahun dan kemudian Nabi Yusuf
meninggal. Nabi Yusuf telah mengubah Islam saat beliau memegang tampuk
kekuasaan. Nabi Yusuf memperjuangkan Islam dan setiap nabi yang diutus oleh Allah
s.w.t pasti memperjuangkan agama Islam sejak Nabi Adam as sampai Nabi
Muhammad saw. Pengertian Islam di sini ialah, mengesakan Allah s.w.t dan hanya
semata-mata menyembah-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan berdoa kepada-
Nya. Islam juga bererti menyerahkan niat dan amal hanya semata-mata kepada Allah
s.w.t. Demikianlah yang kita fahami atau yang kita maksud dari kata al-Islam, bukan
sistem sosial yang dibawa oleh Nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Sistem
ini merupakan kepanjangan dari sistem-sistem sosial yang dibawa para nabi. Jadi,
esensi akidah satu dan tidak berbeza dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw.
Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir dan ketua para menteri agama di Mesir
berubah menjadi agama tauhid atau Islam. Nabi Yusuf as menyeru manusia untuk
memeluk Islam saat beliau ada di dalam penjara ketika beliau mengatakan:
"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang
Maha Esa lagi Maha Perkasa (QS.Yusuf: 39)
Dan beliau berdoa pada suatu hari ketika mimpinya terwujud:
"Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-
orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)
Dan ketika Nabi Yusuf meninggal, Mesir mengubah sistem tauhid ke sistem multi tuhan
untuk kedua kalinya. Menurut dugaan kuat bahawa hal ini terwujud dengan adanya
campur tangan kelompok-kelompok elit yang berkuasa. Kelompok-kelompok elit ini -
ketika di bawah agama tauhid - mereka tidak mendapatkan suatu perlakukan istimewa
atau dibezakan dengan masyarakat umum, sehingga kerananya mereka mempunyai
kepentingan untuk mengembalikan sistem penyembahan multi tuhan. Kemudian
masyarakat mengikuti sistem penyembahan Fir'aun. Dan akhirnya, Mesir dipimpin
keluarga-keluarga Fir'aun dan mereka mengklaim bahawa mereka adalah tuhan atau
wakil-wakil tuhan atau orang-orang yang berbicara atas nama tuhan.
Pada dasarnya, masyarakat Mesir adalah masyarakat yang beradab. Mereka
disibukkan dengan pembangunan peradaban. Mereka memiliki kecenderungan
keagamaan yang kuat. Dan barangkali kelompok- kelompok dari masyarakat Mesir
meyakini bahawa Fir'aun bukan tuhan namun kerana mereka mendapat tantangan
keras dari Fir'aun dan Fir'aun tidak ingin dari kaumnya kecuali agar mereka
mentaatinya sehingga mereka pun terpaksa menyembunyikan keimanan dalam diri
mereka. Jadi, tuhan-tuhan berhala banyak sekali di Mesir. Hal yang bisa difahami
adalah, bahawa Fir'aun menguasai semua macam tuhan dan ia mengisyaratkan
dengannya dan berbicara atas namanya. Yang demikian ini adalah sangat jelas di
Mesir. Ketika terdapat sistem multi tuhan di Mesir - meskipun masyarakatnya meyakini
tuhan utama, yaitu Fir'aun - kelompok elit yang berkuasa membatasi untuk hanya
menyembah Fir'aun dan melaksanakan perintah-perintahnya serta membenarkan
tindakan semena-menanya. Kita akan mengetahui dan kita akan membuka lembaran-
lembaran Nabi Musa as bagaimana masyarakat Mesir hidup di zamannya. Majoriti
masyarakat saat itu mendapatkan kehinaan yang luar biasa dan diperlakukan secara
lalim. Mereka harus taat sepenuhnya kepada Fir'aun. Mereka selalu diancam oleh
algojo-algojo Fir'aun dan para tenteranya.
Allah s.w.t menceritakan Fir'aun yang hidup di zaman Nabi Musa dalam firman-Nya:
"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil
kaumnya (seraya berkata): 'Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.'" (QS. an-Nazi'at:
23-24)
Manusia saat itu benar-benar tunduk terhadap pernyataan orang-orang kafir. Mereka
mentaati - barangkali itu kerana terpaksa - perkataan Fir'aun. Mesir kembali
menggunakan sistem multi tuhan setelah sebelumnya disinari oleh tauhid yang
disuarakan oleh Nabi Yusuf. Sementara itu, anak-anak Yakub atau anak-anak Israil
mereka telah menyimpang dari tauhid. Mereka mengikuti orang-orang Mesir. Sedikit
sekali dari keluarga mereka yang masih mempertahankan agama tauhid secara tersembunyi.
Datanglah suatu masa atas Bani Israil di mana mereka semakin banyak dan semakin
menyebar. Mereka mengerjakan berbagai macam pekerjaan, dan mereka memenuhi
pasar-pasar Mesir. Berlalulah hari demi hari. Mesir diperintah oleh seorang raja yang
bengis di mana orang-orang Mesir menyembahnya. Raja yang jahat ini melihat Bani
Israil semakin banyak dan semakin berkembang serta mengambil posisi-posisi penting.
Raja mendengar pembicaraan Bani Israil tentang berita yang samar di mana dalam
berita itu dikatakan bahawa salah seorang anak Bani Israil akan menjatuhkan Fir'aun
Mesir dari singgahsananya. Barangkali berita itu berasal dari suatu mimpi dari mimpi-
mimpi hidup atau mimpi nyata yang mengelilingi hati kelompok minoriti yang tertindas,
dan mungkin itu merupakan berita gembira yang tersebut dalam kitab-kitab mereka.
Apa pun halnya, berita ini telah sampai di telinga Fir'aun.
Kemudian Fir'aun mengeluarkan perintah yang aneh, yaitu jangan sampai seorang pun
dari Bani Israil yang melahirkan anak. Maksud dari perintah ini adalah, hendaklah setiap
anak yang lahir dari jenis laki-laki dibunuh. Aturan ini mulai diterapkan. Tapi para pakar
ekonomi berkata kepada Fir'aun: Orang-orang tua dari Bani Israil akan mati sesuai
dengan ajal mereka, sedangkan anak-anak kecilnya disembelih maka ini akan berakhir
pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Fir'aun akan kehilangan kekayaan
dan aset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi budak-budaknya dan
wanita-wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik adalah, hendaklah
dilakukan suatu proses sebagai berikut: Anak laki-laki disembelih pada tahun yang
pertama dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya. Fir'aun sependapat
dengan fikiran ini kerana itu dianggap lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.
Ibu Musa mengandung Harun pada tahun di mana anak-anak kecil tidak dibunuh maka
ia melahirkannya secara terang-terangan. Ketika datang tahun yang ditetapkan di
dalamnya bahawa anak-anak kecil harus dibunuh, ia melahirkan Musa. Saat melahirkan
Musa, sang ibu merasakan ketakutan yang luar biasa. la mencemaskan bahawa
jangan-jangan anaknya akan dibunuh. Maka si ibu menyusuinya secara sembunyi-
sembunyi. Kemudian datanglah suatu malam yang penuh berkah di mana Allah s.w.t
mewahyukan kepadanya:
"Dam Kami ilhamkan kepada ibu Musa: 'Susuilah dia dan apabila khuatir terhadapnya
maka jatuh kalah ia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah
(pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'" (QS. al-Qashash: 7)
Mendengar wahyu Allah s.w.t itu dan mendengar panggilan yang penuh kasih sayang
dan suci ini, ibu Musa langsung mentaatinya. Ia diperintahkan untuk membuat peti kecil
bagi Musa. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia pergi ke
tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang ibu adalah hati yang paling
pengasih di dunia. Hatinya dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan anaknya di
sungai Nil, tetapi ia menyedari bahawa Allah s.w.t lebih Pengasih terhadap Musa
dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t lebih mencintainya dibandingkan dengan
dirinya. Allah s.w.t adalah Tuhannya dan Tuhan sungai Nil.
Belum lama peti itu menyentuh sungai Nil sehingga sang Pencipta mengeluarkan
perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang dan bersikap lembut terhadap bayi
yang dibawanya yang pada suatu hari akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah s.w.t
memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi
Ibrahim, begitu juga Allah s.w.t memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa Musa
dengan tenang dan penuh kelembutan sehingga menyerahkannya ke istana Fir'aun. Air
sungai nil membawa peti yang mulia ini ke istana Fir'aun. Di sana ombak
menyerahkannya kepada tepi pantai kemudian ia mewasiatkan kepada tepi pantai itu.
Dan angin berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti: Jangan engkau banyak
bergerak kerana Musa sedang tidur. Rumput itu pun mentaati perintah angin dan Musa
tetap tidur.
Pada hari itu, matahari menyinari istana Fir'aun. Isteri Fir'aun keluar berjalan-jalan di
kebun istana sebagaimana biasanya. Kita tidak mengetahui apa gerangan yang
menjadikannya berjalan-jalan dan menempuh jarak yang lebih jauh dari yang biasa di tempuhnya.
Isteri Fir'aun berbeza sekali dengan Fir'aun. Fir'aun adalah seorang kafir sementara
isterinya adalah seorang yang beriman. Fir'aun adalah seorang yang keras kepala
sementara isterinya adalah seorang yang penyayang. Fir'aun adalah seorang penjahat
sementara isterinya adalah seorang yang lembut dan penuh cinta. Di samping itu,
isterinya merasakan kesedihan yang dalam kerana ia belum mampu melahirkan anak.
Ia merindukan untuk mendapatkan anak. Isteri Fir'aun berhenti di sisi kebun kemudian
bau harum yang datang dari pohon itu menyebarkan perasaan sedih akan rasa
kesendirian. Pada saat yang sama, wanita-wanita yang membantunya sudah
memenuhi tempat-tempat air yang diambil dari sungai. Tiba-tiba mereka mendapati peti
di sisi kaki mereka. Mereka membawa peti itu seperti semula ke isteri Fir'aun. Ia
memerintahkan untuk membukanya lalu mereka pun membukanya. Betapa terkejutnya
isteri Fir'aun ketika melihat Musa di dalamnya. Maka ia pun merasakan bahawa ia
mencintainya seperti anaknya sendiri. Allah s.w.t menaruh dalam hatinya rasa cinta
kepada Musa sehingga air matanya berlinang.
Kemudian ia membawa peti mati itu. Isteri Fir'aun membolak-balikkan Musa sambil
menangis. Musa terbangun dan ia pun menangis. Musa tampak lapar ia membutuhkan
air susu pagi dan tetap menangis. Fir'aun duduk di atas meja makan. Ia menantikan
isterinya namun yang ditunggu belum hadir. Fir'aun mulai marah dan mencarinya. Tiba-
tiba ia dikejutkan dengan kedatangan isterinya dengan membawa Musa. Isteri Fir'aun
tampak sangat menyayanginya. Ia terus menciuminya dan air matanya berlinangan.
Fir'aun bertanya, "dari mana datangnya anak kecil ini?" Kemudian mereka
menceritakan kepadanya bahawa mereka menemukannya di sebuah peti di tepi sungai.
Fir'aun berkata: "Ini adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan peraturan, anak-
anak yang lahir tahun ini harus dibunuh." Mendengar keputusan Fir'aun itu, isteri Fir'aun
berteriak dan ia mendekap Musa lebih keras:
"Dan berkatalah isteri Fir'aun: '(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.
Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau
kita ambil ia jadi anak.'" (QS. al- Qashash: 9)
Fir'aun tampak kehairanan sekali melihat aksi isterinya yang mendekap anak kecil yang
mereka temukan di tepi sungai. Fir'aun tampak tercengang kerana isterinya menangis
dengan gembira di mana Fir'aun tidak pernah mendapati isterinya menangis kerana
gembira seperti ini. Fir'aun mulai mengetahui bahawa isterinya menyayangi anak ini
seperti anaknya sendiri. Fir'aun berkata dalam dirinya: Barangkali ia ingat bahawa ia
tidak mampu melahirkan anak dan menginginkan anak ini. Akhirnya, Fir'aun sepakat
atas apa yang dikatakan oleh isterinya. Fir'aun memenuhi keinginannya dan
menyetujuinya untuk mendidik anak ini di istananya.
Ketika mendengar persetujuan Fir'aun, tampaklah keceriaan yang luar biasa pada
wajah isterinya. Fir'aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti ini. Fir'aun telah
menghadirkan berbagai macam hadiah kepadanya, juga perhiasan dan budak tetapi ia
belum pernah tersenyum meskipun sekali. Fir'aun menyangka bahawa isterinya tidak
mengerti erti sebuah senyuman. Dan sekarang, Fir'aun melihat sendiri wajahnya
dipenuhi dengan senyum keceriaan. Sementara itu, Musa mulai menangis kerana lapar.
Isteri Fir'aun mengetahui bahawa Musa sedang lapar. Ia berkata kepada Fir'aun:
"Anakku yang kecil sedang lapar." Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadanya para
wanita yang menyusui." Kemudian didatangkanlah kepadanya seorang wanita yang
menyusui dari istana. Wanita itu mencuba untuk menyusui Musa tetapi apa yang
terjadi? Musa menolaknya. Lalu didatangkan wanita yang kedua sampai ketiga dan
sampai kesepuluh tetapi Musa tetap menangis dan tidak ingin menyusu kepada
seorang pun di antara mereka. Melihat kenyataan itu, isteri Fir'aun menangis kerana
tidak tahan melihat penderitaan anak kecil itu. Ia tidak mengetahui apa yang harus
dilakukannya.
Bukan hanya isteri Fir'aun satu-satunya yang merasa sedih dan menangis, ibu Musa
adalah wanita lain yang merasa sedih dan menangis. Ketika ia melemparkan Musa ke
sungai Nil, ia merasa bahawa ia sedang melemparkan buah hatinya di sungai. Lalu peti
yang dilemparkan itu hilang dibawa oleh air sungai dan beritanya pun tersembunyi. Dan
ketika datang waktu pagi, ibu Musa merasakan kesedihan yang selalu menghantuinya.
Hampir saja ia pergi ke istana Fir'aun untuk mendapatkan berita tentang anaknya kalau
bukan kerana Allah s.w.t menarah kedamaian dalam hatinya sehingga ia menyerahkan
urusan anaknya kepada Allah s.w.t. Alhasil, ia berkata kepada saudara perempuan
Musa: "Pergilah dengan tenang ke istana Fir'aun dan berusahalah untuk mendapatkan
berita tentang Musa dan hendaklah engkau hati-hati agar jangan sampai mereka
mengetahuimu." Kemudian saudara perempuan Musa pergi dengan tenang. Akhirnya,
ia mendengarkan kisah tentang Musa secara sempurna. Ia melihat Musa dari kejauhan
dan mendengarkan suara tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan kebingungan
di mana mereka tidak mengetahui bagaimana menyusuinya. Ia mendengar bahawa
Musa menolak setiap wanita yang mencuba menyusuinya.
Saudara perempuan Musa berkata kepada para pengawal Fir'aun: "Apakah kalian
mahu aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat menyusuinya dan dapat
mengasuhnya." Isteri Fir'aun menjawab: "Seandainya engkau dapat membawa kepada
kami wanita yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya nescaya kami akan
memberimu hadiah yang besar. Yakni sesuatu yang engkau inginkan akan kami
penuhi." Lalu saudara perempuan Musa itu kembali dan menghadirkan ibunya. Si ibu
menyusuinya dan Musa pun menyusu dengan tenang. Melihat hal itu, Isteri Fir'aun
sangat gembira dan berkata: "Bawalah dia sehingga masa penyusuannya selesai, lalu
kembalikanlah dia kepada kami dan kami akan memberimu suatu balasan yang besar
atas penyusuan dan pendidikan yang engkau berikan."
Demikianlah Allah s.w.t mengembalikan Musa kepada ibunya agar ia merasa gembira
dan hatinya menjadi tenang dan tidak bersedih serta agar ia mengetahui bahawa janji
Allah s.w.t benar dan bahawa perintah- Nya dan ketentuan-Nya pasti terlaksana
meskipun banyak rintangan dan tantangan. Allah s.w.t berfirman:
"Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia
menyatakan rahsia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya,
supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan
berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah dia.' Maka
kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dam
Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mahu
menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku
tunjukkan kepadamu ahlu bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka
dapat berlaku baik kepadanya?'. Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya,
supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahawa
janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
(QS. al-Qashash: 10-13)
Ibu Musa menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke rumah Fir'aun. Saat
itu Musa disenangi dan disukai semua orang. Allah s.w.t berfirman:
Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari- Ku; dan
supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS.Thaha: 39)
Tiada seorang pun yang melihat Musa kecuali ia akan mencintainya. Musa dididik di
istana terbesar di bawah bimbingan dan penjagaan Allah s.w.t. Pendidikan Musa
dimulai di rumah Fir'aun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para
pengajar. Mesir saat itu merupakan negara yang besar di dunia dan Fir'aun sebagai
raja yang paling kuat. kerana itu, secara sederhana Fir'aun mampu mengumpulkan
para pakar pendidikan dan para cendekiawan. Demikianlah hikmah Allah s.w.t
berkehendak agar Musa terdidik di bawah pendidikan yang besar dan ditangani pakar-
pakar pendidikan yang terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada
suatu hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah
Allah s.w.t.
Musa tumbuh di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu
kimia, dan bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan agama. Oleh kerana itu, Musa tidak
mendengar omongan kosong yang dikatakan oleh pendidik tentang ketuhanan Fir'aun.
Jarang sekali ia mendengar bahawa Fir'aun adalah tuhan. Beliau pun menepis
pernyataan dan anggapan ini. Beliau tinggal bersama Fir'aun di satu rumah. Beliau
mengetahui lebih daripada orang lain bahawa Fir'aun hanya sekadar manusia biasa
tetapi ia orang yang lalim. Musa mengetahui bahawa ia bukanlah anak dari Fir'aun.
Beliau adalah salah seorang dari Bani Israil. Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-
pengawal Fir'aun dan para pengikutnya menindas Bani Israil. Akhirnya, Musa tumbuh
besar dan mencapai kekuatannya.
Ketika para pengawal lalai darinya, Musa memasuki kota. Musa berjalan- jalan di
sekitar kota. Kemudian Musa mendapati seorang lelaki dari pengikut Fir'aun yang
sedang berkelahi dengan seseorang dari Bani Israil. Lalu seseorang yang lemah dari
kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Musa pun turut campur dalam urusan itu.
Musa mendorong dengan tangannya seorang lelaki yang berbuat aniaya itu. Ternyata
Musa membunuhnya. Saat itu Musa memang terkenal sebagai orang yang kuat sampai
pada batas di mana dengan sekali pukul saja untuk melerai musuhnya, ia justru
membunuhnya. Tentu Musa tidak sengaja untuk membunuh orang laki-laki itu. Tetapi
apa yang terjadi? Lelaki itu tersungkur dan kemudian mati. Musa berkata kepada
dirinya: Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang menyesatkan
dan nyata. Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya dan berkata: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku." Allah s.w.t pun
mengampuninya. Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah s.w.t berfirman:
"Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan
kepadanya hikmah kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota
(Memphis) ketika penduduknya sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu
dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil)
dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari
golongannya meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang yang dari
musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: 'Ini
adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang
menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa berdoa: 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri kerana itu ampunilah aku.'
Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. Musa berkata: 'Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-
orang yang berdosa.'" (QS. al-Qashash: 14-17)
Kemudian Nabi Musa menjadi takut di tengah-tengah kota dan merasa terancam.
Dalam ayat itu digambarkan bagaimana Nabi Musa merasakan ketakutan di mana ia
mengkhuatirkan kejahatan akan datang padanya pada setiap langkahnya, dan ia begitu
sensitif melihat gerak-geri di sekitarnya. Nabi Musa saat itu menampakkan
kegoncangan jiwa yang dahsyat. Sebenarnya Nabi Musa hanya ingin mempertahankan
dirinya saat menolong seseorang dari Bani Israil. Ketika itu Nabi Musa mendorong
dengan tangannya dan bertujuan memisahkan orang Mesir dari orang Israil tetapi ia
justru membunuhnya.
Dalam undang-undang positif dinyatakan bahawa pembunuhan semacam ini dianggap
sebagai pembunuhan kerana keteledoran atau kerana kesalahan bukan kerana faktor
kesengajaan sehingga kerananya yang bersangkutan tidak akan mendapatkan suatu
hukuman yang berat. Biasanya orang yang melakukan pembunuhan tanpa sengaja
akan mendapatkan keputusan yang meringankannya kerana ia membunuh tanpa
kesengajaan. Tentu kejadian semacam ini tidak dapat dianggap sebagai pembunuhan
dengan sengaja kerana yang bersangkutan tidak ingin mencelakakan orang lain. Nabi
Musa tidak memukul orang itu. Yang ia lakukan hanya mendorongnya. Atau dengan
kata lain, Nabi Musa hanya sekadar menyingkirkan orang tersebut. Kita akan
mengetahui bahawa Nabi Musa adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim. Kedua-duanya
dari kalangan ulul azmi, tetapi Nabi Ibrahim adalah cermin kesabaran dan kelembutan
sementara Nabi Musa adalah cermin dari kekuatan dan keperkasaan.
Musa menjadi takut dan terancam di tengah-tengah kota. Beliau berjanji di kemudian
hari bahawa beliau tidak akan lagi menjadi sahabat orang- orang yang berbuat jahat.
Beliau tidak akan lagi terlibat dalam pertengkaran dan permusuhan antara sesama
penjahat. Di tengah-tengah perjalanannya, Musa dikejutkan ketika melihat orang yang
ditolongnya kelmarin saat ini lagi-lagi memanggilnya dan minta tolong padanya. Lagi-
lagi orang itu terlibat permusuhan dan pertengkaran dengan seorang Mesir. Musa
mengetahui bahawa orang Israil ini berbuat aniaya. Musa mengetahui bahawa ia
termasuk salah seorang preman di situ. Akhirnya, Musa berteriak di depan wajah orang
Israil itu sambil berkata: "Sungguh ternyata engkau adalah orang yang jahat."
Musa mengatakan demikian sambil mendorong keduanya dan ia melerai pertengkaran
itu. Orang Israil itu mengira bahawa Musa akan mencelakakannya maka ia diliputi rasa
takut. Sambil meminta kasih sayang kepada Musa, ia berkata: "Wahai Musa apakah
engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh orang yang kelmarin.
Apakah engkau ingin menjadi seorang penguasa di muka bumi dan tidak ingin menjadi
orang yang memperbaiki bumi." Ketika mendengar orang Israil yang mengatakan
demikian, Musa berhenti dan amarahnya mereda. Musa mengingat apa yang
dilakukannya kelmarin dan bagaimana ia meminta ampun dan bertaubat serta berjanji
untuk tidak menjadi pembantu orang-orang yang berbuat jahat. Musa kemudian kembali
dan meminta ampun kepada Tuhannya.
Orang Mesir yang berkelahi dengan orang Israil itu mengetahui bahawa Musa adalah
pembunuh orang Mesir yang mayatnya mereka temukan kelmarin. Petugas keamanan
Mesir tidak berhasil menyingkap kasus pembunuhan itu. Akhirnya, rahsia Musa
tersingkap lalu seorang lelaki Mesir yang beriman datang dari penjuru kota. Ia
membisikkan kepada Musa bahawa ada suatu rencana untuk membunuhnya. Ia
menasihati Musa agar meninggalkan Mesir secepatnya.
Allah s.w.t berfirman:
"kerana itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan
khuatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan
kelmarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya:
'Sesungguhnya kamu benar- benar orang yang sesat yang nyata (kesesatannya).
Maka tat-kala Musa memegang dengan keras orang yang menjadi musuh
keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa apakah kamu bermaksud untuk
membunuhku, sebagaimana kamu kelmarin telah membunuh seorang manusia?
Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat
sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah
seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.' Dan datanglah seorang
laki-laki dari ujung kota tergesa- gesa seraya berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya
pembesar sedang berunding tentang kamu. Sesungguhnya aku termasuk orang-
orang yang memberi nasihat kepadamu.'" (QS. al-Qashash: 18-20)
Allah menyembunyikan kepada kita nama laki-laki yang datang mengingatkan Musa itu.
Tetapi menurut hemat kami, ia adalah seorang lelaki Mesir yang tentu memiliki jabatan
penting. Sesuai dengan ayat tersebut, ia mengetahui adanya persengkongkolan untuk
menyingkirkan Musa dari kedudukan yang tinggi. Seandainya ia orang yang biasa-biasa
saja maka orang itu tidak mengenalnya. Orang itu mengetahui bahawa Musa tidak
berhak untuk mendapatkan hukum bunuh atas dosanya. Musa membunuh kerana
faktor kesalahan, bukan kerana faktor kesengajaan. Kesalahan semacam itu menurut
undang-undang Mesir yang dahulu dihukum dengan penjara. Lalu, mengapa timbul
keinginan untuk membunuh Musa? Kalau kita memperhatikan nasihat orang Mesir itu
terhadap Musa maka kita akan menemukan jawapannya. Yaitu perkataannya: "Para
pembesar merencanakan persekongkolan untuk menyingkirkanmu."
Al-Mala' adalah para penguasa atau para pembesar yang bertanggungjawab pada
keamanan. Mereka menyiapkan persekongkolan untuk menyingkirkan Musa. Apa yang
dilakukan oleh Musa - kalau memang dianggap sebagai suatu kesalahan - adalah
kejahatan biasa yang hanya dituntut dengan hukuman penjara. Lalu siapakah yang
membuat rencana yang demikian, dan siapakah yang mendorong untuk melakukan
persekongkolan untuk membunuhnya? Kami kira bahawa kepala keamanan Mesir tidak
menyukai Musa. Ia mengetahui bahawa Musa adalah anggota Bani Israil. Ia
mengetahui bahawa sampainya peti di istana Fir'aun merupakan suatu rekayasa yang
dirancang oleh musuh- musuhnya yang menginginkan kedudukannya. Ini bererti kerana
keteledorannya dan ketelodaran anak-anak buahnya. Berapa kali orang itu menasihati
dan menganjurkan agar Musa dibunuh tetapi Fir'aun justru menampik fikiran itu. Dan
ketika datang saat yang ditentukan untuk membunuh Musa, Fir'aun justru tunduk
terhadap Isterinya yang sangat mencintai Musa.
Akhirnya, kesempatan emas ada di depannya. Para pembantunya mengatakan
kepadanya bahawa Musalah yang membunuh orang Mesir yang mereka temukan
jasadnya kelmarin. Selesailah urusan ini. Kemudian datanglah perintah dan
kesempatan untuk membunuh Musa. Orang-orang yang membenci Musa mulai
mendapatkan angin kegembiraan di mana mereka akan melihat Musa terbunuh, tetapi
Allah s.w.t mengirim seorang Mesir yang baik untuk mengingatkan Musa agar berlari
dari kejaran orang-orang yang lalim.
Allah s.w.t berfirman:
"Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu- nunggu dengan
khuatir, dia berdoa: 'Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim
itu.'" (QS. al-Qashash: 21)
Musa meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Musa segera keluar dalam
keadaan takut dan sambil waspada Musa selalu berdoa dalam hatinya: "Ya Tuhanku,
selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim." Kaum itu memang benar-benar orang-
orang yang lalim. Mereka ingin menerapkan hukuman bagi pembunuh dengan sengaja
atas Musa, padahal Musa tidak melakukan selain berusaha memisahkan orang yang
berkelahi tetapi dengan tidak sengaja ia membunuhnya. Musa segera keluar dari Mesir.
Beliau tidak lagi pergi ke istana Fir'aun dan tidak mengganti pakaiannya, dan beliau
tidak membawa makanan untuk perjalanan. Beliau tidak membawa binatang
tunggangan yang dapat menghantarkannya. Beliau tidak pergi bersama suatu kafilah.
Beliau langsung pergi ketika mendapatkan khabar dari seorang mukmin yang
mengingatkannya dari ancaman Fir'aun.
Musa melalui jalan yang tidak lazim dilalui orang biasa. Musa memasuki gurun dan ia
menuju ke suatu tempat yang di situ Allah s.w.t membimbingnya. Ini adalah pertama
kalinya beliau keluar dan mengharungi gurun pasir sendirian. Kemudian sampailah
Musa di suatu tempat yang bernama Madyan. Musa istirahat dan duduk-duduk di dekat
sumur yang besar di mana di situ orang-orang mengambil air untuk memberi minum
kepada binatang-binatang tunggangan mereka dan binatang-binatang gembalaan
mereka. Musa tidak membawa makanan selain daun-daun pohon. Musa minum dari
sumur-sumur yang ditemukannya di tengah jalan. Sepanjang perjalanan Musa
merasakan ketakutan; jangan-jangan Fir'aun mengirim orang untuk menangkapnya.
Ketika Musa sampai di kota Madyan Musa berbaring di sisi pohon dan istirahat. Musa
merasa lapar dan keletihan. Sandal yang dipakainya tampak mulai rosak. Beliau tidak
mempunyai wang yang cukup untuk membeli sandal baru, dan beliau juga tidak
mempunyai wang yang cukup untuk membeli makanan dan minuman.
Nabi Musa memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk
kambing-kambing mereka. Musa ingat bahawa ia sedang lapar dan haus. Ia berkata
dalam dirinya: Aku tidak dapat memenuhi perutku dengan air selama aku tidak memiliki
wang yang cukup untuk membeli makanan. Musa berjalan menuju tempat air. Sebelum
sampai, ia mendapati dua orang perempuan yang sedang menyendirikan kambing-
kambingnya agar jangan sampai tercampur dengan kambing orang lain. Melalui ilham,
Musa merasa bahawa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Musa lupa terhadap
rasa hausnya, lalu beliau menuju ke arah mereka dan bertanya, apakah ia dapat
membantu mereka? Lalu seorang gadis yang paling tua berkata: "Kami menunggu
sampai selesainya para gembala itu mengambil air untuk binatang gembalaan mereka."
Musa bertanya: "Mengapa kalian tidak mengambil air sekarang?" Gadis yang paling
kecil berkata: "Kami tidak mampu untuk berdesak-desakan dengan kaum lelaki." Nabi
Musa kehairanan kerana mengetahui kedua gadis itu menggembala kambing.
Seharusnya yang mengembala kambing adalah kaum lelaki. Ini adalah tugas yang
berat dan sangat melelahkan. Musa bertanya: "Mengapa kalian menggembala
kambing?" Masih kata gadis yang paling kecil: "Orang tua kami sudah tua di mana
kesehatannya tidak dapat membantunya untuk keluar dari rumah dan menggembala
kambing setiap hari." Musa berkata: "Kalau begitu, aku akan membantu kalian untuk
mengambil air tersebut."
Musa berjalan menuju tempat air. Musa mengetahui bahawa para penggembala
meletakkan di atas bibir air suatu batu besar yang tidak bisa digerakkan kecuali oleh
sepuluh orang. Musa merangkul dan mengangkatnya dari bibir sumur. Otot-otot Musa
tampak menonjol saat memindahkan batu itu. Musa adalah seorang lelaki yang kuat.
Akhirnya, Musa berhasil mengambilkan air bagi remaja puteri itu, dan kemudian ia
mengembalikan batu itu ke tempatnya. Musa kembali duduk di bawah naungan pohon.
Saat itu Musa lupa untuk minum. Perut Musa menempel ke punggungnya kerana
saking laparnya. Musa mengingat Allah s.w.t dan memanggil-Nya dalam hatinya:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang
Engkau turunkan kepadaku." (QS. al-Qashash: 24)
"Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): 'Mudah-
mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.' Dan tatkala ia sampai di
sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang
meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua
orang wanita yang sedang menambat (ternaknya) Musa berkata: 'Apakah
maksudmu (dengan berbuat begitu)?' Kedua wanita itu menjawab: 'Kami tidak
dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu
memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut
umurnya.' Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya,
kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan
kepadaku.'" (QS. al-Qashash: 22-24)
Marilah kita tinggalkan sejenak Nabi Musa yang sedang duduk di bawah naungan
pohon untuk kemudian kita melihat apa yang terjadi pada kedua gadis itu. Kedua gadis
itu kembali ke rumah ayahnya. Si ayah bertanya: "Hari ini kalian kembali lebih cepat
dari biasanya?" Gadis yang paling tua berkata: "Sungguh hari ini kami sangat
beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang lelaki yang mulia yang
mengambilkan air bagi haiwan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya." Si ayah
berkata: "Alhamdulillah." Gadis yang paling kecil berkata: "Saya kira wahai ayahku dia
datang dari tempat yang jauh dan tampak ia sedang lapar. Saya melihat dia dalam
keadaan kecapaian meskipun ia seorang lelaki yang kuat."
Si ayah berkata kepada anak perempuannya: Pergilah engkau padanya dan katakan,
sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk memberimu upah atas jasamu
mengambilkan air untukku. Kemudian anak perempuan itu pergi menemui Musa dalam
keadaan hatinya berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di depan Musa dan
menyampaikan surat dari ayahnya. Musa bangkit dari tempat duduknya dan
pandangannya tertuju ke bawah. Musa tidak bermaksud mengambilkan air untuk
mereka dengan tujuan mengharapkan upah dari mereka. Beliau membantu mereka
hanya semata-mata kerana Allah s.w.t. Beliau merasakan dalam dirinya bahawa Allah
s.w.t-lah yang mengarahkan beliau untuk membantu mereka.
Gadis itu berjalan di depan Musa kemudian bertiuplah angin dan menyentuh
pakaiannya sehingga Musa menundukkan pandangan matanya kerana merasa malu.
Musa berkata kepadanya: "Saya akan berjalan di depanmu dan tunjukkanlah jalan
kepadaku." Mereka pun sampai di kediaman si ayah. Sebahagian ahli tafsir
mengatakan bahawa si ayah ini adalah Nabi Syu'aib. Beliau memperoleh usia yang
panjang setelah kematian kaumnya. Ada juga yang mengatakan bahawa si ayah adalah
putera dari saudara Syu'aib. Ada yang mengatakan bahawa ia adalah anak dari
pamannya, dan ada juga yang mengatakan bahawa ia adalah seorang lelaki mukmin
dari kaumnya. Yang jelas, ia adalah seorang tua yang soleh. Orang tua itu
menghidangkan kepada Nabi Musa makanan siang dan bertanya kepadanya dari mana
ia datang dan kemudian ke mana ia akan pergi.
Musa mengungkapkan ceritanya. Orang tua itu berkata kepadanya, jangan khuatir dan
jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang yang lalim. Negeri ini tidak tunduk
pada Mesir dan mereka tidak akan sampai di sini. Mendengar ucapan itu, Musa menjadi
tenang dan bangkit untuk pergi. Salah seorang anak perempuan itu berkata kepada
ayahnya dengan berbisik: "Wahai ayahku, berilah dia upah." Sesungguhnya engkau
akan memberikan upah kepada seorang yang kuat dan jujur. Si ayah bertanya
kepadanya: "Bagaimana engkau mengetahui dia seorang lelaki yang kuat?" Anak
perempuannya menjawab: "Saya lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu
diangkat oleh sepuluh orang lelaki." Si ayah bertanya lagi: "Bagaimana engkau
mengetahui bahawa dia seseorang yang jujur." Perempuan itu menjawab: "Ia menolak
untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak melihatku
saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku berbincang- bincang padanya, dia
selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab yang baik
darinya."
Kemudian orang tua itu memandangi Musa dan berkata padanya: "Wahai Musa, aku
ingin menikahkanmu dengan salah satu puteriku. Dengan syarat, hendaklah engkau
bekerja menggembala kambing bersamaku selama delapan tahun. Seandainya engkau
menyempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah kemurahan darimu. Aku tidak ingin
menyusahkanmu. Sungguh insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-
orang yang saleh." Musa berkata: "Ini adalah kesepakatan antar aku dan engkau dan
Allah s.w.t sebagai saksi atas kesepakatan kita, baik aku melaksanakan pekerjaan
selama delapan tahun mahupun sepuluh tahun. Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke
mana saja."
Allah s.w.t berfirman:
"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan, ia berkata: 'Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami.' Maka
tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita
(mengenai dirinya), Syu'aib berkata: 'Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat
dari orang-orang yang lalim itu.' Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:
'Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), kerana
sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita)
ialah orang yang kuat lagi dapat dipercayai. Berkatalah dia (Syu'aib):
'Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari
kedua anakku ini, atas dasar bahawa kamu bekerja denganku delapan tahun dan
jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu,
maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya-Allah akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.' Dia (Musa) berkata: 'Itulah
(perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu
aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah
adalah saksi atas apa yang aku ucapkan.'" (QS. al-Qashash: 25-28)
Ketika sampai pada kisah ini, banyak pena bertebaran untuk mendapatkan jawapan
dari pertanyaan-pertanyaan yang mencuba menerobos kesamaran. Mereka bertanya
tentang anak perempuan yang menikahi Musa: apakah anak perempuan yang paling
besar ataukah anak perempuan yang paling kecil, dan Musa memilih masa bekerja
delapan tahun atau sepuluh tahun. Bahkan mereka menyampaikan berbagai macam
riwayat dan kisah yang mereka yakini kebenarannya. Kami sendiri meyakini bahawa
Musa menikah dengan salah satu anak perempuan dari orang tua itu tetapi kita tidak
mengetahui siapa dia dan siapa namanya. Kami meyakini bahawa beliau menikah
dengan gadis yang memanggilnya untuk menemui ayahnya. Kemudian gadis itulah
yang menganjurkan ayahnya agar memberikan upah padanya.
Al-Quran al-Karim melalui konteks ayatnya menyingkap bentuk kekaguman yang
tersembunyi di balik gadis itu terhadap Musa. Barangkali orang tuanya mengetahui
bahawa anak perempuannya menaruh rasa cinta kepada Musa, dan boleh jadi ketika
berbicara tentang pernikahan kepada Musa, ia menyerahkan sepenuhnya kebebasan
Musa untuk memilih. Mungkin Musa memilih sendiri gadis mana yang diminatinya.
Tetapi, siapa gadis yang dipilih oleh Musa: apakah gadis yang paling tua atau gadis
yang paling kecil? Yang jelas Al-Quran tidak menyebutkan hal tersebut, meskipun ia
hanya memberikan isyarat kepadanya dalam firman-Nya:
"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan. " (QS. al-Qashash: 25)
Begitu juga Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan waktu yang dihabiskan oleh Musa
saat ia bekerja: apakah sepuluh tahun atau beliau merasa cukup dengan delapan
tahun. Kami sendiri meyakini sesuai dengan kebiasaan Musa dan kemurahannya serta
kenabiannya serta kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi bahawa beliau
memilih masa yang paling lama, yaitu sepuluh tahun. Pendapat itu juga didukung oleh
hadis Ibnu Abas.
Demikianlah Nabi Musa mengabdi kepada orang tua itu selama sepuluh tahun penuh.
Pekerjaan Nabi Musa terbatas pada keluar dari rumah di waktu pagi untuk
menggembala kambing. Kami kira bahawa sepuluh tahun masa yang dihabiskan oleh
Nabi Musa di Madyan merupakan suatu ketentuan yang dirancang oleh Allah s.w.t.
Musa berdasarkan agama Yakub. Kakek beliau adalah Yakub dan Yakub sendiri adalah
cucu dari Ibrahim. Dengan demikian, Musa adalah cucu dari Ibrahim dan setiap nabi
yang datang setelah Ibrahim berasal dari sulbinya. Maka dari sini kita memahami
bahawa Musa berada di atas agama ayah-ayahnya dan datuk- datuknya.
Nabi Musa berdasarkan Islam dan agama tauhid. Nabi Musa menghabiskan masa
sepuluh tahun itu dalam keadaan jauh dari kaumnya dan keluarganya. Masa sepuluh
tahun ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupannya. Ia merupakan masa
persiapan yang besar. Pada setiap malam Musa merenungkan bintang-bintang. Musa
mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap siang Musa memikirkan
tumbuh-tumbuhan: bagaimana ia membelah tanah dan mekar. Musa memperhatikan
air: bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi itu mati, lalu bumi itu menjadi
tempat yang indah dan subur. Musa memperhatikan alam yang luas dan ia tampak
tercengang dan kagum dengan ciptaan Allah s.w.t.
Sebenarnya pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan tersebut jauh-jauh hari
sudah tersembunyi di dalam dirinya dan menetap di dalam jiwanya. Bukankah Musa
telah terdidik di istana Fir'aun. Ini bererti bahawa beliau menjadi seorang Mesir yang
mempunyai wawasan yang luas; orang Mesir yang menunjukkan kekuatan fizikalnya;
orang Mesir dengan segala makanannya dan minumannya. Jadi, segala hal yang ada
pada Musa berbau Mesir. Musa siap-siap untuk menerima wahyu Ilahi dari bentuk yang
baru. Yaitu wahyu Ilahi yang langsung datang tanpa perantara seorang malaikat di
mana Allah s.w.t akan berbicara dengannya tanpa perantara.
Oleh kerana itu, sebelum datangnya wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan
moral, sedangkan persiapan fizik telah selesai dilaluinya di Mesir. Musa tumbuh di
istana yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu pemerintahan
yang paling kaya di bumi. Musa menjadi seorang pemuda yang kuat di mana hanya
sekadar memisahkan seseorang yang berkelahi, ia justru membunuhnya. Setelah
persiapan fizik yang sangat kuat, kini Musa harus melewati persiapan mental yang
seimbang. Yaitu persiapan yang dilakukan melalui pengasingan yang sempurna di
mana beliau hidup di tengah-tengah gurun dan tempat penggembalaan yang beliau
belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang
asing yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.
Sering kali Musa mendapatkan kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu.
Allah s.w.t mempersiapkan hal tersebut kepada nabi- Nya agar setelah itu beliau
mampu memegang amanat yang besar dari Allah s.w.t. Datanglah suatu hari atas
Musa. Selesailah masa yang ditentukan. Kemudian Musa merasakan kerinduan untuk
kembali ke Mesir. Dengan berlalunya waktu, hukuman yang harus dijalaninya dengan
sendirinya gugur. Musa mengetahui hal itu, tetapi beliau juga mengetahui bahawa
undang-undang di Mesir sebenarnya terletak pada kekuatan penguasa; jika penguasa
berkehendak maka Musa dapat menerima hukuman dan jika tidak berkehendak maka
dia akan memaafkannya, meskipun yang bersangkutan berhak mendapatkan hukuman.
Alhasil, Musa menyedari hal itu, Musa tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat ketika
beliau menginjakkan kakinya di Mesir seperti keyakinannya bahawa beliau selamat di
tempatnya sekarang. Meskipun demikian, rasa rindunya untuk melakukan perjalanan
kembali ke tempatnya mendorong Musa segera menuju ke Mesir. Musa tepat
mengambil keputusan.
Musa berkata kepada Isterinya: "Besok kita akan memulai perjalanan ke Mesir."
Isterinya berkata dalam dirinya: "Di dalam perjalanan terdapat seribu macam bahaya
tetapi ketenangan tetap menghiasai wajah Musa." Isteri Musa tetap taat kepada Musa.
Nabi Musa sendiri tidak mengetahui rahsia tentang keputusannya yang cepat untuk
kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun beliau pergi melarikan diri, lalu mengapa
sekarang ia kembali ke sana? Apakah beliau rindu kepada ibunya dan saudaranya?
Apakah beliau berfikir untuk mengunjungi Isteri Fir'aun yang telah mendidiknya
layaknya ibunya dan sangat mencintainya layaknya ibunya sendiri? Tidak ada seorang
pun yang mengetahui apa yang terlintas dalam diri Musa saat beliau berkeinginan untuk
kembali ke Mesir. Hanya saja, yang kita ketahui bahawa Nabi Musa terbimbing dengan
ketetapan- ketetapan Ilahi sehingga beliau tidak melangkahkan kakinya kecuali
berdasarkan ketetapan tersebut.
Musa keluar bersama keluarganya dan melakukan perjalanan. Bulan bersembunyi di
balik gumpalan awan yang tebal, dan kegelapan rnenyelimuti sana-sini. Sementara itu,
petir menyambar sangat keras dan langit menurunkan hujan. Cuaca tampak tidak
bersahabat. Di tengah- tengah perjalanannya, Musa tersesat. Musa mendapatkan dua
potongan batu kemudian beliau memukulkan kedua-nya dan menggesek-gesekan
keduanya agar mendapatkan api darinya sehingga beliau dapat berjalan. Tetapi
sayang, beliau tidak mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang
memadamkan api kecil itu.
Nabi Musa berdiri dalam keadaaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di tengah-
tengah keluarganya. Kemudian Nabi Musa mengangkat kepalanya dan menyaksikan
sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang sangat besar yang
menyala-nyala dari kejauhan. Maka hati Musa dipenuhi dengan rasa gembira. Ia
berkata kepada keluarganya: "Aku melihat api di sana." Lalu beliau memerintahkan
kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke api itu. Barangkali
di sana beliau mendapatkan suatu berita atau akan menemukan seseorang yang dapat
memberinya petunjuk sehingga beliau tidak tersesat, atau beliau dapat membawa
sebahagian api yang menyala sehingga tubuh mereka menjadi hangat.
Keluarganya melihat api yang diisyaratkan oleh Musa tetapi sebenarnya mereka tidak
melihat sesuatu pun. Mereka tetap mentaatinya dan duduk sambil menunggu
kedatangan Musa. Musa bergerak menuju ke tempat api. Musa segera berjalan untuk
menghangatkan tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya dan
tubuhnya tampak basah kuyup kerana hujan. Nabi Musa tetap berjalan sampai ia
mencapai suatu lembah yang bernama Thua'. Beliau menyaksikan sesuatu yang unik di
lembah ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak ada angin yang bertiup. Yang
ada hanya keheningan. Nabi Musa mendekati api. Belum lama beliau mendekatinya
sehingga beliau mendengar suara panggilan:
"Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: 'bahawa telah diberkati orang-
orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan
Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 8)
Tiba-tiba Nabi Musa berhenti dan badannya menggigil. Suara itu tampak terdengar dan
datang dari segala tempat dan tidak berasal dari tempat tertentu. Musa melihat api dan
beliau kembali merasa menggigil. Beliau mendapati suatu pohon hijau dari duri dan
setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api darinya maka pohon itu justru semakin
hijau. Seharusnya pohon itu berubah warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi
anehnya api justru meningkatkan warna hijaunya. Musa tetap menggigil meskipun
beliau merasakan kehangatan dan tampak mulai berkeringat.
Lembah yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa meletakkan kedua
tangannya di atas kedua matanya kerana saking dahsyatnya cahaya. Beliau melakukan
yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua matanya. Kemudian Musa
bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba beliau tersungkur ke tanah
sebagai wujud rasa takut, lalu Allah s.w.t memanggil:
"Wahai Musa." (QS. Thaha: 11)
Musa mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya." Allah berkata:
"Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu." (QS. Thaha: 12)
Musa semakin menggigil dan berkata: "Benar wahai Tuhanku."
Allah s.w.t berkata: "Maka lepaskanlah kedua sandalmu sesungguhnya engkau berada
di lembah yang suci yang bernama Thua'." Musa tertunduk dan rukuk sementara
tubuhnya tampak gementar dan beliau mulai melepas sandalnya Allah s.w.t berkata:
Maka tinggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah
yang suci, Thuwa'. " (QS. Thaha: 12)
Musa rukuk dan melepas kedua sandalnya. Kemudian Allah s.w.t kembali berkata:
"Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan
(kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali
janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu
binasa." (QS. Thaha: 13-16)
Musa semakin gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan
Allah s.w.t. Allah s.w.t yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang berkata:
"Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa?" (QS. Thaha: 17)
Bertambahlah kehairanan Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya
berbicara dan tentu Dia lebih mengetahui daripada Musa tentang apa yang
dipegangnya, lalu mengapa Allah s.w.t bertanya kepadanya jika memang Dia lebih
mengetahui darinya. Tak ragu lagi bahawa di sana ada hikmah yang tinggi. Musa
menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak mengigil:
"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya
untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." (QS. Thaha: 18)
Allah berfirman:
"Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS. Thaha: 19)
Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya dan rasa hairannya semakin menjadi-
jadi. Tiba-tiba Musa dikejutkan ketika melihat tongkat itu menjadi ular yang besar. Ular
itu bergerak dengan cepat. Musa tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Musa
merasa tubuhnya bergetar kerana rasa takut. Musa membalikkan tubuhnya kerana
takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah s.w.t
memanggilnya:
"Hai Musa, janganlah kamu takut, sesungguhnya orang yang menjadikan rasul,
tidak takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10)
"Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu
termasuk orang-orang yang aman. " (QS. al- Qashash: 31)
Musa kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itu
pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada Musa:
"Peganglah ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada
keadaannya semula. " (QS. Thaha: 21)
Musa menghulurkan tangannya ke ular itu dalam keadaan menggigil. Musa belum
sempat menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah Allah
s.w.t terjadi dengan cepat. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepadanya:
"Masukanlah tanganmu ke leher bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan
kerana penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan. " (QS.
al-Qashash: 32)
Musa meletakkan tangannya di kantongnya lalu ia mengeluarkannya dan tiba-tiba
tangan itu bersinar bagaikan bulan. Kembali rasa kagum Musa bertambah. Lalu ia
meletakkan tangannya di dadanya sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t padanya
sehingga rasa takutnya benar-benar hilang.
Musa merasa tenang dan terdiam. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepadanya -
setelah beliau melihat kedua mukjizat ini, yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat -
untuk pergi menemui Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan penuh kelembutan dan
kasih sayang dan Allah s.w.t memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan Bani Israil
dari Mesir. Musa menampakkan rasa takutnya kepada Fir'aun. Musa berkata bahawa ia
telah membunuh seseorang di antara mereka dan beliau khuatir mereka akan
membunuhnya dan membalasnya. Musa meminta kepada Allah s.w.t dan memohon
kepada-Nya agar mengirim saudaranya Harun bersamanya. Allah s.w.t menenangkan
Musa dengan mengatakan bahawa Dia akan selalu bersama mereka berdua. Dia
mendengar dan menyaksikan gerak-geri dan perbuatan mereka. Meskipun Fir'aun
terkenal dengan kejahatannya dan kekuatannya, namun kali ini Fir'aun tidak akan
mampu mengganggu atau menyakiti mereka. Allah s.w.t memberitahu Musa bahawa
Dia-lah yang akan menang. Musa berdoa dan memohon kepada Allah s.w.t agar
melapangkan hatinya dan memudahkan urusannya serta memberinya kekuatan dalam
berdakwah di jalan-Nya.
Allah s.w.t berfirman:
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa ? Ketika ia melihat api, lalu
berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku
melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau
aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat
api itu ia dipanggil: Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Maka
tinggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang
suci, Thuwa'. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk
mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan
(waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan.
Maka sekali-kali janganlah kamu kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak
beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang
menyebabkan kamu binasa. Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa,
'Ini adalah tongkatku, aku bertelehan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya
untuk kambingmu, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.' Allah
berfirman: Lemparkanlah ia, hai Musa!' Lalu dilemparkanlah tongkat itu, maka
tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Peganglah ia dan
janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan
kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, nescaya ia ke luar menjadi putih cemerlang
tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.
Pergilah kepada
Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: 'Ya Tuhanku,
lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
lepaskanlah kekakuan dari lidah, supaya mereka mengerti perkataanku, dan
jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku,
teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku,
supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau.
Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.' Allah berfirman:
'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.' Dan
sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu
ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu:
Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil),
maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-
Ku dan musuhnya.' Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang
datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (Yaitu) ketika
saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun):
'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?' Maka
Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka
cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu
dari kesusahan dan Kami telah mencubamu dengan beberapa cubaan; maka
kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu
datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk
diri-Ku. " (QS. Thaha: 9-41)
Kita tidak mengetahui apa yang kita akan katakan dan apa yang kita komentar
berkaitan dengan firman Allah s.w.t kepada salah seorang hamba-Nya: "Dan Aku telah
memilihmu untuk diri-Ku." Allah s.w.t telah memilih Musa. Itu adalah salah satu puncak
kemuliaaan di mana tidak ada seseorang pun di zaman itu yang mampu mencapainya
selain Musa. Nabi Musa kembali untuk menemui keluarganya setelah Allah s.w.t
memilihnya sebagai Rasul atau utusan untuk berdakwah ke Fir'aun. Akhirnya, Nabi
Musa beserta keluarganya berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah s.w.t yang
mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas di dalam diri Musa saat beliau
mengayunkan langkahnya menuju ke Mesir.
Selesailah masa-masa perenungan dan dimulailah hari-hari kedamaian dan
kebahagiaan, dan akhirnya datanglah hari-hari yang sulit. Demikianlah Nabi Musa
memikul amanat kebenaran dan pergi untuk menyampaikannya kepada salah satu
penguasa yang paling bengis dan paling kejam dan paling jahat di zamannya. Nabi
Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah orang yang jahat. Fir'aun akan berusaha
memberhentikan langkah dakwahnya dan Fir'aun akan menentangnya tetapi Allah s.w.t
memerintahkannya untuk pergi ke Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan
kelembutan dan kasih sayang. Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa bahawa Fir'aun
tidak akan beriman tetapi Nabi Musa tidak peduli dengan hal itu. Beliau diperintahkan
untuk melepaskan Bani Israil yang sedang diseksa oleh Fir'aun.
Allah s.w.t berkata kepada Musa dan Harun:
"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah:
'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani
Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka." (QS. Thaha: 47)
Inilah tugas yang ditentukan, yaitu tugas yang akan berbenturan dengan ribuan
tantangan. Fir'aun menyeksa Bani Israil dan menjadikan mereka budak-budak dan
memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Fir'aun juga menodai
kehormatan wanita-wanita mereka dan menyembelih anak laki-laki mereka. Nabi Musa
mengetahui bahawa rejim Mesir berusaha untuk memperbudak Bani Israil dan
mengeksploitasi mereka di luar kemampuan mereka demi kepentingan penguasa.
Tetapi Nabi Musa tetap memperlakukan dan menghadapi Fir'aun dengan penuh
kelembutan dan kasih sayang sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah s.w.t padanya:
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)
Musa bercerita kepada Fir'aun tentang siapa sebenarnya Allah s.w.t, tentang rahmat-
Nya, tentang syurganya, dan tentang kewajipan mengesakan-Nya dan menyembah-
Nya. Beliau berusaha mem-bangkitkan aspek-aspek kemanusiaan Fir'aun melalui
pembicaraan tersebut. Fir'aun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Musa dengan
penuh kebosanan. Fir'aun membayangkan bahawa seseorang yang di hadapannya
adalah orang gila yang nekad untuk menentang dan menggoyang kedudukannya.
Kemudian Fir'aun mengangkat tangannya dan berbicara: "Apa yang engkau inginkan,
hai Musa?" Musa menjawab: "Aku ingin agar engkau membebaskan Bani Israil." Fir'aun
bertanya: "Mengapa aku harus membebaskan mereka bersamamu sementara mereka
adalah budak- budakku?" Musa menjawab: "Mereka adalah hamba-hamba Allah s.w.t,
Tuhan Pengatur alam semesta." Dengan nada mengejek Fir'aun bertanya: "Bukankah
engkau mengatakan bahawa namamu Musa?" Musa menjawab: "Benar." Fir'aun
berkata: "Bukankah engkau yang kami temukan di sungai Nil saat engkau masih kecil
yang tidak mempunyai daya dan kekuatan? Bukankah engkau Musa yang aku didik di
istana ini, lalu engkau memakan makanan kami dan meminum air kami, dan engkau
menikmati kebaikan- kebaikan dari kami? Bukankah engkau yang membunuh
seseorang lalu setelah itu engkau lari? Tidakkah engkau ingat semua itu? Bukankah
mereka mengatakan bahawa pembunuhan merupakan suatu kekufuran? Kalau begitu,
engkau seorang kafir dan engkau seorang pembunuh. Jadi engkau adalah Musa yang
lari dari hukum Mesir. Engkau adalah seseorang yang lari dan menghindari keadilan.
Lalu sekarang engkau datang kepadaku dan berusaha berbicara denganku. Engkau
berbicara tentang apa hai Musa. Sungguh aku telah lupa."
Musa mengerti bahawa Fir'aun mengingatkan padanya tentang masa lalunya dan
Fir'aun berusaha menunjukkan kepadanya bahawa ia telah mendidiknya dan berlaku
baik padanya. Musa juga memahami bahawa Fir'aun mengancamnya dengan
pembunuhan. Musa memberitahu Fir'aun, bahawa ia bukan seorang kafir ketika
membunuh seorang Mesir tetapi saat itu beliau melakukannya dengan tidak sengaja.
Musa memberitahu Fir'aun bahawa ia lari dari Mesir kerana khuatir akan pembalasan
mereka. Pembunuhan yang dilakukan olehnya bersifat tidak sengaja. Musa tidak
bermaksud untuk membunuh seseorang. Musa telah memberitahu Fir'aun bahawa
Allah s.w.t telah memberinya hikmah dan menjadikannya salah seorang Rasul. Allah
s.w.t menceritakan sebahagian dialog antara Musa dan Fir'aun dalam surah as-Syuara'
sebagaimana firman-Nya:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): 'Datangilah
kaum yang lalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?
Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahawa mereka akan
mendustakan aku. Dan (kerananya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku
maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku
takut mereka akan membunuhku.' Allah berfirman: 'Janganlah takut (mereka tidak
akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-
ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan
(apa-apa yang mereka katakan). Maka datanglah kamu berdua kepada Fir'aun dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah
Bani Israil (pergi) beserta kami.' Fir'aun menjawab: 'Bukankah kami telah
mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan
kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu, dan kamu telah
berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk
golongan orang-orang yang tidak membalas guna.' Berkata Musa: 'Aku telah
melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu
aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku
memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara
rasul-rasul. " (QS. as-Syu'ara: 10-21)
Kemudian bangkitlah emosi Nabi Musa ketika Fir'aun mengingatkan bahawa ia telah
berbuat baik kepada Musa. Musa bangkit dan berbicara kepadanya:
"Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah
memperbudak Bani Israil." (QS. asy-Syu'ara: 22)
Musa ingin berkata kepadanya, apakah engkau mengira bahawa nikmat yang engkau
berikan kepadaku lalu engkau merasa telah berbuat baik padaku, di mana aku adalah
salah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil? Apakah nikmat ini sebanding dengan
cara-caramu memperlakukan bangsa yang besar ini di mana engkau memperbudak
mereka; engkau memperkerjakan mereka dengan cara yang semena-mena. Jika ini
memang demikian maka logik mengatakan bahawa kita seimbang: tiada yang
berhutang dan tiada yang meminjam. Jika tidak demikian maka siapa yang memberikan
bahagian yang lebih besar?
Alhasil masalahnya adalah dakwah di jalan Allah s.w.t, yaitu satu urusan yang aku tidak
membawa kepadamu dari diriku sendiri. Aku bukan utusan dari bangsa Bani Israil. Aku
bukan juga utusan dari diriku sendiri tetapi aku adalah seorang utusan dari Allah s.w.t.
Aku adalah utusan Tuhan Pengatur alam semesta. Sampai pada tahap ini Fir'aun mulai
memasuki pembicaraan lebih serius: Fir'aun bertanya:
"Siapakah Tuhan semesta alam itu?" (QS. asy-Syu'ara': 23) Musa Menjawab:
"Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antaranya keduanya (itulah
Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya." (QS. asy-
Syu'ara': 24)
Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak
mendengarkan?" (QS. asy-Syu'ara': 25)
Musa berkata dan tidak mempedulikan ejekan Fir'aun itu:
"Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu. " (QS. asy-Syu'ara': 26)
Fir'aun berkata kepada mereka yang datang bersama Musa dari Bani Israil:
"Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar- benar orang gila."
Musa kembali berkata dan tidak memperhatikan tuduhan Fir'aun dan ejekannya:
"Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya:
(Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal. " (QS. asy-Syu'ara': 28)
Allah s.w.t menceritakan sebahagian dialog yang terjadi antara Fir'aun dan Musa dalam
surah as-Syu'ara':
"Fir'aun bertanya: 'Siapakah Tuhan semesta alam itu?' Musa Menjawab: 'Tuhan
Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika
kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.' Berkata Fir'aun kepada orang-orang
sekelilingnya: 'Apakah kamu tidak mendengarkan?' Musa berkata: "Tuhan kamu dan
Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.' Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya
Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.' Musa
berkata:'Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara
keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.'" (QS. asy-Syu'ara':
23-28)
Allah s.w.t mengingatkan dalam surah Thaha sebahagian dari peristiwa pertemuan
antara Fir'aun dan Nabi Musa. Allah s.w.t berfirman:
"Maka datanglah kamu kedua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah:
'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani
Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami
telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari
Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti
petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa seksa itu
(ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.' Berkata Fir'aun:
'Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa.' Musa berkata: 'Tuhan kami ialah
(Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya,
kemudian memberinya petunjuk.' Berkata Fir'aun: 'Maka bagaimanakah keadaan-
keadaan umat-umat yang dahulu? Musa menjawab: 'Pengetahuan tentang itu ada
di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak
akan salah (pula) lupa.'" (QS. Thaha: 47-52)
Kita perhatikan bahawa Fir'aun tidak bertanya kepada Nabi Musa tentang Tuhan
Pengatur alam atau Tuhan Musa dan Harun dengan maksud bertanya sesungguhnya
atau pertanyaan yang bermaksud untuk mengetahui kebenaran tetapi perkataan yang
dilontarkan Fir'aun semata- mata hanya untuk mengejek. Nabi Musa as menjawabnya
dengan jawapan yang sempurna dan mengena. Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya
Tuhan kami adalah Dia yang memberi sesuatu ciptaannya kemudian Dia membimbing
ciptaannya. Dialah sang Pencipta. Dia menciptakan berbagi macam makhluk dan Dia
juga yang membimbingnya sesuai dengan kebutuhannya sehingga makhluk-makhluk
tersebut dapat menjalani kehidupan dengan baik. Allah s.w.t-lah yang mengarahkan
segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menguasai segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang
mengetahui segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menyaksikan segala sesuatu." Al-
Quran al-Karim mengungkapkan semua itu dalam ungkapan yang sederhana namun
padat ertinya, yaitu dalam firman-Nya:
"Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-
tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha:50)
Kemudian Fir'aun bertanya, "lalu bagaimana keadaan manusia-manusia yang hidup di
abad-abad pertama di mana mereka tidak menyembah Tuhanmu ini?" Fir'aun masih
ingkar dan mengejek dakwah Nabi Musa. Nabi Musa menjawab: "bahawa masa-masa
yang dahulu di mana mereka tidak menyembah Allah s.w.t adalah masalah yang semua
itu berada di sisi Allah s.w.t. Atau dalam kata lain, semua itu diketahui oleh Allah s.w.t.
Keadaan di masa-masa yang dahulu tercatat dalam kitab Allah s.w.t. Allah s.w.t
menghitung apa yang mereka kerjakan di dalam kitab. Allah s.w.t tidak pernah lupa."
Jawapan Nabi Musa tersebut berusaha menenangkan Fir'aun tentang orang-orang
yang hidup di masa-masa pertama. Jadi Allah s.w.t mengetahui segala sesuatu dan
mencatat apa saja yang dilakukan manusia dan Allah s.w.t tidak menyia-nyiakan pahala
mereka. Kemudian Nabi Musa kembali menyempurnakan dan menyelesaikan
pembicaraannya tentang sifat Tuhannya:
"Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah
menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan.
Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan.
Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang
demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan darinya Kami akan
mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang
lain. " (QS. Thaha: 53-55)
Nabi Musa menarik perhatian Fir'aun tentang tanda-tanda kebesaran Allah s.w.t di alam
semesta. Nabi Musa menunjukkan kepadanya bagaimana gerakan angin, hujan, dan
tumbuh-tumbuhan. Kemudian Nabi Musa juga menunjukkan bagaimana pengaruh
semua itu pada bumi. Musa memberitahu kepada Fir'aun bahawa Allah s.w.t
menciptakan manusia dari tanah dan setelah itu Dia akan mengembalikan padanya
dengan kematian lalu mengeluarkan manusia darinya di hari kebangkitan. Jadi, di sana
terjadi hari kebangkitan dan pada hari kiamat manusia akan menghadap kepada Allah
s.w.t. Tidak ada seseorang pun yang dikecualikan dari hal itu. Semua hamba Allah s.w.t
akan berdiri dihadapan-Nya pada hari kiamat, termasuk Fir'aun.
Musa datang kepada Fir'aun sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan, tetapi peringatan dari Musa ini tidak membikin Fir'aun merenung dan
mendapatkan pelajaran namun justru dialog antara dirinya dan Musa semakin
menajam. Bisa dikatakan bahawa dialog di antara mereka menjadi pertentangan.
Ketajaman dialog mulai menghangat. Kemudian berubahlah bahasa dialog itu. Musa
berusaha menyampaikan argumentasi yang sangat kuat kepada Fir'aun. Musa
berusaha membawa argumentasi rasional tetapi Fir'aun berusaha keluar dari ruang
lingkup dialog yang berdasarkan logik yang sehat. Fir'aun berusaha menggunakan
dialog dalam bentuk yang baru, yaitu suatu cara yang Musa tidak mampu lagi
melawannya. Ia mulai menyerang Musa dan mengancamnya.
Fir'aun menunjukkan penentangannya kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa.
Fir'aun acuh tak acuh terhadap dakwah Nabi Musa. Fir'aun mulai menyerang peribadi
Musa. Ia mulai mempersoalkan pakaian Musa dan kedudukan sosialnya bahkan ia pun
menyerang cara Musa berbicara. Setelah menghina Musa sedemikian rupa, Fir'aun
sengaja memakai metode kekuatan mutlak. Fir'aun bertanya kepada Musa, bagaimana
ia berani menentang penyembahan terhadap dirinya; bagaimana Musa menyembah
selain dirinya; tidakkah Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah tuhan? Bagaimana
Musa tidak mengetahui hakikat ini padahal ia terdidik di istana Fir'aun dan sangat
mengenal lingkungan di sekitar Fir'aun? Setelah Fir'aun menyampaikan tentang
ketuhanan-nya secara mendasar, ia bertanya kepada Musa, bagaimana Musa berani
menyembah tuhan selain dirinya. Ini bererti bahawa Musa ingin dimasukan ke dalam
penjara. Tiada ketentuan di sisi kami bagi orang yang menyembah selain Fir'aun
kecuali penjara adalah tempatnya:
"Fir'aun berkata: 'Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar
aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.'" (QS. asy-Syu'ara':29)
Musa mengetahui bahawa argumentasi-argumentasi rasional tidak lagi bermanfaat.
Dialog yang tenang dan sehat berubah menjadi ejekan dan hinaan serta pada akhirnya
menjadi ancaman hukuman penjara. Musa mengetahui bahawa telah tiba waktunya
untuk menunjukkan mukjizat yang dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke
dalam penjara, ia berkata kepada Fir'aun:
"Musa berkata: 'Dan apakah (kamu akan melakukan ini) kendatipun aku tunjukkan
kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30)
Musa menantang kepada Fir'aun dan Fir'aun menerima tantangannya. Fir'aun ingin
tahu sejauh mana kebenaran Musa.
"Fir'aun berkata: 'Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu
adalah termasuk orang-orang yang benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)
Musa melemparkan tongkatnya di ruangan yang besar itu. Mula-mula Fir'aun
menganggap bahawa tongkat yang dibawanya jatuh kerana Musa gementar
menghadapinya. Setelah Fir'aun meminta padanya bukti atas kebenaran dakwahnya,
tiba-tiba tongkat yang menyentuh tanah itu berubah menjadi ular yang besar yang
bergerak dengan cepat dan gesit. Ular itu menuju ke arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat
kerana takut. Ia tampak gementar di kerusinya kemudian ia berteriak agar mereka
menjauhkan ular itu darinya. Nabi Musa menghulurkan tangannya ke ular itu lalu ular itu
kembali menjadi tongkat yang ada di tangannya sebagaimana semula. Setelah
peristiwa itu, keheningan menyeliputi istana Fir'aun. Nabi Musa kembali menunjukkan
kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, mukjizatnya yang kedua. Musa
memasukkan tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba tangan itu menjadi
putih seperti bulan; tangan itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang memenuhi penjuru
istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ merasakan kekaguman yang luar
biasa sedangkan Fir'aun wajahnya tampak menghijau kerana saking takutnya.
Allah s.w.t berfirman:
"Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular
yang nyata. Dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), maka tiba-tiba
tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang- orang yang melihatnya." (QS. asy-
Syu'ara': 32-33)
Keheningan semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua mukjizat yang dibawa
oleh Nabi Musa tertanam pada jiwa orang-orang yang hadir di situ. Pertama-tama
mereka merasakan ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa mengembalikan
tangannya ke sakunya lalu tangannya kembali seperti semula.
Fir'aun berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan
perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana. Fir'aun tampak
terpukul atas peristiwa itu. Fikirannya mulai berputar-putar. Ia membayangkan apa yang
terjadi di istananya dan di wilayah kekuasaannya seandainya berita tentang dua
mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu manusia mulai membicarakan
tentang Musa dan Harun. Fir'aun mengeluarkan perintahnya agar orang- orang yang
melihat peristiwa itu tidak membuka hal itu kepada masyarakat umum, tetapi para
pembantu istana dan sebahagian dari Bani Israil menyaksikan dua peristiwa itu.
Akhirnya, mulailah terjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat ramai tentang
dua mukjizat itu. Fir'aun benar-benar terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang
dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya
merasa takut dan gementar, kini menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu kepada
menterinya dan para pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada mereka tanpa
sebab yang diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangannya dan
meningggalkan dirinya sendirian.
Fir'aun berusaha untuk menghadapi masalah itu dengan lebih tenang. Fir'aun meminum
beberapa gelas dari minuman keras tetapi rasa marahnya belum hilang juga. Kemudian
ia mengeluarkan perintah untuk mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua para
menteri di istana serta para pemimpin di Mesir. Fir'aun mengeluarkan perintahnya
kepada Haman salah satu ketua para menterinya untuk mengepalai pertemuan
tersebut. Kemudian para pembesar dari kaum Fir'aun berkumpul. Fir'aun memasuki
ruang pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas sekali Fir'aun tidak mahu
menerima dengan mudah adanya tuhan lain yang disembah orang-orang Mesir selain
dirinya. Fir'aun cukup berbahagia ketika ia menguasai Mesir dari memerintah dengan
semahunya. Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan kedatangan Musa yang ingin
menghancurkan apa saja yang telah dibangunnya. Musa mengatakan pada dirinya
bahawa di sana ada Tuhan yang Esa yang tiada Tuhan lain selain-Nya di alam
semesta. Ini bererti bahawa Fir'aun adalah seorang pembohong. Pemikiran ini
menghantui kepala Fir'aun sehingga Fir'aun menoleh kepada ketua para menterinya
yaitu Haman akhirnya pertemuan bersejarah itu diadakan.
Tidak ada seorang pun yang berani membuka mulutnya. Fir'aun membuka pertemuan
itu dengan secara tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan kepada Haman: "Apakah aku
seseorang pembohong wahai Haman?" Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang
berani menentang Fir'aun?" Fir'aun berkata dengan marah: "Musa." Bukankah ia
mengatakan bahawa ada tuhan lain di langit." Dengan mantap Haman menjawab:
"Sungguh wahai tuanku, Musa berbohong." Fir'aun berkata dalam keadaan memutar
wajahnya ke arah yang lain: "Aku mengetahui bahawa ia berbohong." Kemudian Fir'aun
kembali menoleh ke Haman:
"Dan berkatalah Fir'aun: 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang
tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu- pintu langit, supaya aku
dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang
pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)
Fir'aun mengeluarkan perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan
tinggi di mana ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan
peradaban Mesir yang lagi maju di mana mereka cenderung membangun bangunan
yang spektakuler. Namun Fir'aun lupa pada aturan-aturan teknik pembangunan.
Meskipun demikian, Haman bersikap munafik, padahal ia mengetahui kemustahilan
membangun sesuatu bangunan semegah dan setinggi itu. Haman berkata: "Saya ingin
melaksanakan perintah untuk mendirikan bangunan itu sesegera mungkin, tetapi wahai
tuanku dan izinkanlah aku untuk pertama kalinva aku menentang perintahmu. Sungguh
engkau tidak akan mendapati sesuatu pun di langit. Tidak ada di sana Tuhan selain
dirimu." Fir'aun mendengar penolakan ketua para menterinya itu dengan sangat puas,
seakan-akan ia mendengarkan suatu hakikat yang ditetapkan. Kemudian dalam
perkumpulan yang terkenal itu, Fir'aun melontarkan kata-katanya yang bersejarah:
"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (QS. al-
Qashash: 38)
Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju. Di antara mereka
terdapat dua orang atau tiga orang yang masih memiliki akal sehat. Ketiga orang itu
mengetahui bahawa sebenarnya Fir'aun adalah seorang pembohong. Meskipun
demikian, mereka membiarakan kebohongan itu dan memilih apa yang disetujui oleh
Fir'aun. Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus membayar
mahal hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar istana, dan para
dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun. Fir'aun berkata dengan maksud bertanya
kepada para penasihatnya: "Apa yang kalian katakan tentang Musa?" Haman berkata:
"Ia adalah seorang yang pembohong."
Salah seorang menteri yang lain berkata: "Saya kira ia adalah seorang yang gila."
Sementara itu salah seorang dukun berkata: " - Tampaknya ia khuatir mereka akan
mencurigainya jika ia tidak mengatakan sesuatu pun kepada mereka - saya kira ia
terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan mengatakan:
"Sungguh kalian menggambarkan Musa macam-macam, namun kalian belum
menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya maunya Musa? Apa sebenarnya
persekongkolan yang disembunyikannya." Para penasihat terdiam kerana rasa takut
dan sebagai bentuk kemunafikan terhadap Fir'aun. Mereka hanya menunggu Fir'aun
mengucapkan kalimat-kalimat tertentu lalu mereka menirukannya dengan mulut-mulut
mereka layaknya burung beo. Setelah keheningan menyelimuti ruangan itu, Fir'aun
berkata: "Aku kira bahawa Musa adalah salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin
mengeluarkan kalian dari negeri kalian dengan sihirnya. Lalu persekongkolan apa yang
kalian siapkan?"
Adalah hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang dihadiri
oleh para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat sesama mereka
bererti hanya sekadar untuk mengulang-ulang dan menerima keputusan mutlak dari
penguasa. Para penasihat berkata - setelah Fir'aun memberi mereka kesempatan untuk
mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Fir'aun. Musa
adalah seorang tukang sihir. Kalau begitu, masalahnya telah selesai. Kita akan
mengembalikan Musa dan saudaranya, dan kita akan menyebarkan perintah Fir'aun di
Mesir untuk menghadirkan tukang sihir. Jika para tukang sihir telah datang dan berdiri
di hadapan Musa, maka mereka akan dapat membuktikan bahawa Musa memang
tukang sihir dan mereka akan mampu mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita
dapat memperdayanya di hadapan orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil."
Perundingan bersejarah itu sepakat untuk melaksanakan hal itu. Sepuluh orang dari
pembantu Fir'aun keluar dari istana, Fir'aun dengan menunggangi kenderaan mereka
dan mereka segera berpencar di seluruh penjuru Mesir. Kemudian diumumkan pada
hari kedua di pasar-pasar Mesir bahawa seluruh jago-jago sihir hendaklah menuju ke
istana Fir'aun untuk mendengarkan suatu perintah atau suatu urusan yang penting.
Fir'aun memanggil Nabi Musa dan berusaha mengancamnya dan menakut- nakutkan
tetapi Nabi Musa tampak tenang. Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "Sesungguhnya
engkau seorang tukang sihir, dan aku menetapkan untuk menyingkap kedokmu di
hadapan semua orang. Tidak lama lagi para tukang sihir akan datang." Nabi Musa
bertanya: "Kapan aku akan bertemu dengan tukang sihir itu?" Fir'aun berkata: "Di sana
terdapat suatu pertemuan atau acara yang sebentar lagi akan dimulai yang dihadiri oleh
banyak orang. Yaitu hari di mana angin bertiup dengan sepoi-sepoi; hari di mana bumi
berhias diri menyambut kedatangan musim semi. Sungguh itu suatu pertemuan yang
menakjubkan dan engkau akan dikalahkan. Sekarang aku beri kesempatan kamu untuk
mencabut dakwahmu. Aku memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk
menyelamatkan kehormatanmu."
Musa berkata dengan tidak memperhatikan perkataan Fir'aun yang terakhir: "Kami
sepakat atas pertemuan itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan
berkumpul di pagi hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan datang?" Musa berkata:
"Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di permulaan siang."
Allah s.w.t berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda
kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima
kebenaran). Berkata Fir'aun: 'Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir
kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa! Dan kami pun pasti akan
mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu
untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan
tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Berkata Musa:
"Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah
dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah naik.'" (QS. Thaha: 56-59)
Nabi Musa pergi dalam keadaaan tenang. Kemudian para utusan tukang sihir datang ke
istana Fir'aun. Ketika semua berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua
menemuinya. Ketika masuk menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud kepadanya.
Fir'aun memerintahkan mereka untuk berdiri, kemudian Fir'aun mulai berjalan-jalan di
antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian mereka. Fir'aun tampak
terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri dan berkata: "Wahai para tukang
sihir, kami sekarang menghadapi masalah yang kecil dan kami telah memerintahkan
agar kalian dihadirkan untuk memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu
menundukkan kepalanya dan mereka mendengarkan dengan hikmat. Fir'aun kembali
berkata: "Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan Allah s.w.t;
seorang lelaki yang bernama Musa dan bersama saudaranya, Harun. Musa ini adalah
tukang sihir yang mahir, lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu,
kalian harus mengalahkannya dengan kekalahan yang teruk sehingga ia tidak mampu
lagi mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir tetap menundukkan
kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa seseorang di antara kalian
tidak bertanya kepadaku tentang sihirnya Musa." Salah seorang tukang sihir dengan
tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang agung menceritakannya kepada kami.
Kami tidak ingin memutus pembicaraanmu wahai tuan."
Dengan nada marah, Fir'aun berkata: "Musa melemparkan tongkatnya dan tiba-tiba
tongkatnya itu menjadi ular yang sangat besar lalu ia mencabut tangannya dan tiba-tiba
tangannya menjadi putih yang menakjubkan orang-orang yang melihatnya." Tampak
senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang sihir dan salah seorang mereka
berkata: "Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini adalah permainan kuno; permainan tongkat
yang berubah menjadi ular. Sesungguhnya itu hanya sekadar imaginasi yang menipu
orang-orang yang melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak padahal ia tetap di
tempatnya."
Fir'aun berkata: "Aku tidak ingin untuk memasuki perdebatan sekitar masalah
pembuatan sihir. Yang aku inginkan agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah
sepakat untuk bertemu pada hari ketika musim semi akan tiba. Masyarakat Mesir
semuanya akan berkumpul. Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian
mengalahkannya. Oleh kerana itu, kalian harus dapat mengalahkannya."
Selesailah perkataan Fir'aun. Ia menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi
mereka masih berdiri. Salah seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita Fir'aun tidak
berbicara kepada kita tentang urusan yang lebih penting seandainya kita dapat
mengalahkan Musa?" Dengan kehairanan Fir'aun bertanya: "Apa sesuatu yang lebih
penting itu?" Salah seorang tukang sihir berkata: "Tentu kami minta upah jika kami
menang." Dengan tertawa, Fir'aun berkata: "Jangan khuatir, aku akan memuaskan
kalian. Kalian akan menjadi orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan
pekerjaan-pekerjaan baru di istana bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir.
Tenanglah kerana kalian akan menerima upah yang layak."
Fir'aun tertawa melihat kepercayaan para tukang sihir kepada diri mereka, kemudian ia
memerintahkan agar mereka meninggalkan tempatnya. Lalu ia sendiri menuju ke meja
makan siang. Fir'aun duduk sambil makan. Ia berkata sambil menyantap paha kambing
yang besar: "Semenjak Musa datang selera makanku terganggu. Namun sekarang,
kehancuran Musa sudah dekat."
Allah s.w.t berfirman:
"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan
dari Tuhan alam semesta, wajib atasku tidak mengatakannya sesuatu terhadap
Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa
bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama
aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka
datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Dan
dia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih
bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum
Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang
bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata): 'Maka
apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab: 'Beritahulah ia dan
saudara-saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan
mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli
sihir yang pandai.' Dan beberapa ahli sihir telah datang kepada Fir'aun
mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah
yang menang Fir'aun menjawab: 'Ya dan sesungguhnya kamu benar-benar akan
termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf: 104-114)
Kemudian datanglah hari yang dijanjikan. Orang-orang berbondong- bondong keluar
dari rumah. Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa dan Fir'aun.
Mereka menuju ke tempat perayaan sejak pagi hari. Tidak ada seorang pun di Mesir
yang tidak mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para
tukang sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun
datang, namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun
datang. Tempat perayaan itu diadakan di tempat terbuka yang hanya ditutupi oleh
payung Fir'aun yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Fir'aun berdiri di tengah-
tengah tenteranya. Ia memakai emas dan permata. Sementara itu, Nabi Musa berdiri
dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t.
Keadaan saat itu benar-benar hening. Kemudian para tukang sihir maju menemui
Musa. Mereka berkata kepada Musa: "Apakah engkau yang pertama kali melempar
atau kami yang pertama kali melempar." Musa berkata: "Kalianlah yang pertama kali
melempar." Para tukang sihir berkata: "Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguhnya kami
akan menang." Musa berkata: "Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada
Allah s.w.t nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli
hakikat berkata: "Nabi Musa menoleh dan kemudian ia melihat Jibril di sebelah
kanannya." Jibril berkata kepadanya: "Wahai Musa, hendaklah kamu bersikap sopan
kepada wali-wali Allah s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu
datang dengan maksud menyimpangkan agama Fir'aun." Jibril kembali berkata:
"Bersikap lembutlah terhadap wali-wali Allah s.w.t. Mereka saat ini sampai salat Ashar
berada di sisimu dan setelah salat Ashar mereka akan berada di syurga."
Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat mereka dan tali-tali mereka.
Tiba-tiba arena itu dipenuhi dengan ular-ular. Mereka menipu dan menyihir pandangan
orang-orang yang melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir itu merasa takut kerana
mereka mendatangkan sihir yang besar. Orang-orang merasa gembira dan Fir'aun pun
menampakkan senyumnya. Ia berkata dalam dirinya: Sungguh hari ini adalah hari
pembalasan atas Musa. Mukjizatnya berupa tongkat yang ada di tangannya yang dapat
berubah menjadi ular, sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir
di mana tongkat-tongkat dan tali-tali yang ada di tangan mereka pun berubah menjadi
ular. Senyuman Fir'aun pun semakin melebar.
Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa
takut. Nabi Musa ingat apa yang dikatakan oleh Jibril dan ia mulai merasakan
ketakutan. Bagaimana mungkin para tukang sihir itu akan masuk syurga dan mereka
akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada
seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam benak Nabi Musa
saat ia berdiri dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan
kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika Musa
merasakan ketakutan tersebut, maka cahaya yang terang menembus dalam dirinya dan
Allah s.w.t berkata kepadanya:
"Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling
unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia
akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka
perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang
sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)
Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa
dapat mengendalikan dirinya, kemudian beliau mengangkat tongkatnya dan
melemparkannya. Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu
mukjizat. Orang-orang dan para tukang sihir Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri
menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka saksikan di dunia. Biasanya seorang
tukang sihir dapat menipu pandangan manusia dan memperdaya mereka seolah-olah
ada ular yang bergerak padahal ia tetap di tempatnya. Tetapi apa yang terjadi saat itu
adalah sesuatu yang benar-benar berbeza. Belum sampai tongkat Nabi Musa
menyentuh tanah sehingga ia berubah menjadi ular yang besar dan sangat gesit.
Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka yang
bergerak dan ia mulai memakannya satu persatu. Tongkat Nabi Musa memakan tali-tali
tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka dengan cepat. Belum berselang beberapa
minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka.
Tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi Musa.
Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan
tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir mengetahui
bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya adalah tokoh-
tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi apa yang mereka
saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat dari Allah s.w.t.
Akhirnya, para tukang sihir itu sujud di atas tanah. Mereka berkata: "Kami beriman
kepada Tuhan Pengatur alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun."
Orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang
mengagumkan ini. Mereka melihat bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud
kepada Musa dan Harun. Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan
Musa dan Harun. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berteriak di depan tukang sihir:
"Bagaimana kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian." Para
tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun berkata: "Kalau begitu ini
adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa adalah guru kalian yang
mengajari kalian sihir. Sungguh tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus
dan kalian akan disalib di pohon kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas."
Para tukang sihir berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami
tidak memilihmu dan kami tidak mengutamakanmu atas mukjizat Ilahi ini.
Sesungguhnya kami beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kami dan
menghapus kesalahan-kesalahan kami. Apa yang engkau berikan terhadap kami
adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih
abadi. Seandainya engkau menyeksa kami dan membunuh kami dan menyalib kami,
maka engkau hanya dapat menyeksa kami di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan
dunia tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Kami hanya ingin
mendapatkan pengampunan dari Allah s.w.t dan memasuki syurga." Kemudian Fir'aun
mengeluarkan perintahnya untuk menyalib semua tukang sihir. Ketika menyaksikan
peristiwa tersebut, orang-orang menjadi ketakutan. Kemudian Nabi Musa dan Nabi
Harun meninggalkan tempat itu dan Fir'aun kembali ke istananya. Allah s.w.t
menceritakan dalam surah al-A'raf apa yang dialami tukang sihir dan Musa dalam firman-Nya:
"Ahli-ahli sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih
dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?' Musa menjawab: 'Lemparkanlah
(lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang
dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang
besar (menakjubkan). Dan Kami mewahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah
tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa yang mereka
sulapkan. kerana itu nyatalah yang benar dan gagallah yang selalu mereka
kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang
hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka
berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (Yaitu) Tuhan Musa dan
Harun. Fir'aun berkata: 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi
izin kepadamu?' Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah
kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya;
maka kelah kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku
akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik,
kemudian sungguh- sungguh aku akan menyalib kamu semuanya. Ahli-ahli sihir
itu menjawab: 'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak
membalas dendam dengan menyeksa kami, melainkan kerana kami telah beriman
kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka
berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah
kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf: 115-126)
Para tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan mempercayai ajaran yang dibawa
oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah s.w.t. Akhirnya, mereka dinaikkan di
batang-batang pohon kurma untuk disalib dan dipotong tangan-tangan mereka dan
kaki-kaki mereka. Mereka meminta kepada Allah s.w.t agar mereka dimatikan sebagai
orang-orang Muslim.
Kemudian Musa memahami apa yang diucapkan oleh Jibril as: Mereka sejak saat ini
sampai salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika
memasuki waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib
oleh para tentera Fir'aun. Fir'aun menghadapi masalah baru. Fir'aun mengadakan
serangkaian pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun memanggil
penanggung jawab tentera dan pasukan. Fir'aun juga memanggil apa saat ini
dinamakan dengan kepala intelejen. Bahkan Fir'aun juga memanggil para menteri dan
para penjabat serta tukang-tukang dukun. Jadi, Fir'aun memanggil semua yang
mempunyai kekuatan untuk mengubah jarum sejarah.
Fir'aun bertanya kepada kepala intelejennya: "Apa yang dikatakan orang- orang?" Ia
berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara khalayak dan mereka mendapat
informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan itu kerana ia berhasil
membikin suatu konspirasi bersama para tukang sihir." Kemudian Fir'aun bertanya
kepada salah seorang ketua keamanan: "Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang
sihir?" Ia berkata: "Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan di pasar-pasar
untuk menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh
setiap orang yang memiliki persekongkolan." Lalu Fir'aun bertanya kepada komandan
pasukan: "Apa yang dikatakan oleh pasukan?" Ia menjawab: "Mereka menginginkan
agar mendapatkan perintah untuk bergerak di tempat mana pun yang ditentukan oleh
Fir'aun." Fir'aun berkata: "Belum datang giliran pasukan maka akan datang gilirannya."
Fir'aun kemudian terdiam. Lalu Haman salah seorang ketua para menteri bergerak dan
mengangkat tangannya dan ia mulai meminta untuk berbicara, dan Fir'aun mengizinkan
kepadanya. Haman berkata: "Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk
membuat kerosakan di muka bumi dan mereka mengalihkan ibadah kepada selainmu?"
Fir'aun berkata: "Sungguh engkau dapat membaca fikiranku wahai Haman. Kita akan
membunuh anak-anak mereka dan akan mempermalukan perempuan-perempuan
mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas mereka."
Pasukan Fir'aun pergi untuk membunuh anak-anak laki dari Bani Israil dan menodai
kehormatan wanita-wanita mereka, serta memenjarakan siapa pun yang menentang.
Musa berdiri menyaksikan apa yang terjadi tanpa mampu turut campur dan tanpa
mampu mencegahnya. Yang beliau lakukan hanya memerintahkan kaumnya untuk
bersabar. Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t
dan bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan
bagi mereka di mana tukang sihir Mesir itu mampu menahan derita di jalan Allah s.w.t
tanpa berkeluh kesah. Nabi Musa memberitahu mereka bahawa tentera-tentera Fir'aun
berbuat aniaya di muka bumi yang seakan-akan bumi adalah milik khusus mereka.
Sebenarnya Allah s.w.t akan mewariskan bumi kepada orang-orang yang bertakwa.
Kemudian intimidasi yang dilakukan Fir'aun sangat mempengaruhi jiwa Bani Israil
sehingga mereka merasakan kekalahan dan pesimis. Mereka berkata kepada Musa:
"Wahai Musa kami sangat menderita sebelum kedatanganmu dan sesudah
kedatanganmu, anak-anak dibunuh sebelum kedatanganmu dan sesudah
kedatanganmu." Seakan-akan mereka berkata kepada Musa bahawa keberadaanmu
tidak memberikan manfaat sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian. Musa
menolak kebodohan mereka ini. Ia memberitahu mereka bahawa Allah s.w.t akan
menghancurkan musuh-musuh mereka, kemudian Allah s.w.t akan menjadikan bumi
dikuasai oleh mereka. Tetapi lagi-lagi mereka tetap mengadu kepada Musa dan tampak
bahawa mereka tidak kuat lagi menahan penderitaan yang mereka alami.
Musa menghadapi keadaan yang sulit. Beliau berusaha melawan kemarahan Fir'aun
dan konspirasinya. Pada saat yang sama, Nabi Musa mendengar keluhan kaumnya. Di
tengah-tengah keadaan yang demikian, Qarun bergerak. Qarun adalah seorang putera
Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa tetapi ia justru menentang Musa. Kekayaannya
dan status sosialnya menjadikannya lebih dekat kepada rejim Fir'aun. Allah s.w.t
menceritakan kepada kita tentang kekayaan Qarun. Allah s.w.t berkata kepada kita
bahawa kunci-kunci kamar yang menyimpan kekayaannya sangat sulit dipikul oleh
sekelompok laki-laki yang kuat sekalipun. Seandainya kita ingin mengetahui kunci-kunci
kekayaan ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat membayangkan kekayaan itu
sendiri. Qarun memiliki berbagai macam kekayaan dan dalam jumlah yang banyak.
Bahkan saking kayanya, pelana kudanya terbuat dari kulit yang dihiasi oleh perak dan emas.
Jika Qarun keluar dengan membawa pesona dunia yang diikuti oleh rombongannya dan
disinari oleh matahari, maka emas-emas yang dibawanya tampak menyala di bawah
sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi orang-orang
yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun membuatnya bersikap angkuh
sehingga tidak mudah baginya untuk menerima nasihat. Tampak bahawa kekayaannya
dan kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun
menjadi tertawa yang paling terkenal di kalangan Bani Israil, dan kebenarannya
menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman. Kedua orang itu (Fir'aun dan Haman)
menguasai Mesir secara keseluruhan, sedangkan Qarun hanya mengusai sebahagian dari Mesir.
Orang-orang yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia berfikir sejenak tentang
akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya: "Sesungguhnya tak seorang
pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara keseluruhan dan menempuh jalan
orang-orang yang zuhud tetapi mereka menasihatimu agar engkau tidak melupakan
bahagianmu dari dunia. Sebagaimana mereka menasihatimu agar jangan sampai
engkau melupakan bahagianmu dari akhirat."
Qarun hanya merasa puas dengan bahagiannya dari dunia. Imaginasi akalnya
mengatakan bahawa kekayaan ini datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia
menduga kekayaannya adalah tanda bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira
bahawa ia lebih utama dan lebih mulia dari Musa. Musa adalah seorang yang fakir
sedangkan Qarun adalah seorang yang kaya, maka bagaimana seorang yang fakir
yang tidak memakai satu pun gelang dari emas dapat memperoleh kedudukan yang
mulia di sisi Allah dibandingkan dengan seorang yang kaya yang mampu membuat
pelana kudanya dari emas. Demikianlah pandangan Qarun dan Fir'aun terhadap Musa.
Allah s.w.t berfirman:
"Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak
dapat menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf: 52)
Demikianlah pernyataan Fir'aun kepada Musa. Terdapat kesesuaian antara pendapat
Fir'aun dan Qarun terhadap Musa. Sesuai dengan kedudukan sosial dan kekayaannya,
Qarun menjadi sahabat Fir'aun dan mendukung rejim kekuasaannya. Bukan hanya
Qarun, Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini, bahkan kaum Fir'aun
pun memiliki pendapat yang sama. Yakni, bagi orang-orang Mesir, Musa hanya sekadar
seorang tukang sihir yang mengalahkan jaguh-jaguh sihir lainnya. Namun ini tidak
bererti bahawa masyarakat Mesir tidak memiliki keutamaan sedikit pun. Di tengah-
tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada Nabi Musa
namun ia menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan Fir'aun.
Di sana juga ada orang yang bertanya-tanya dengan kebodohan: Jika Allah s.w.t
memang mencintai Musa lalu mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi
fitnah atau cubaan di tengah-tengah kaumnya dan juga bagi orang-orang Mesir. Ketika
Qarun keluar dengan membawa pesona dunianya maka orang-orang yang
menginginkan kehidupan dunia berkata:
"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita
mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)
Sedangkan orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah mereka sedikit - mereka
memandang bahawa kekayaan Qarun yang begitu luar biasa tidak bererti sedikit pun di
sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak jika jiwa manusia
menjadi gelap kerananya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian sulit, Nabi Musa
menghadapi Qarun yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti
menunjukkan sikap yang baik dan kesucian yang agung. Tampaknya Qarun sepakat
dengan Fir'aun untuk berusaha menjatuhkan Musa di depan pengikutnya dengan
tuduhan yang berlawanan dengan kesuciannya.
Akhirnya, pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu tuduhan di mana ada
seorang wanita yang menuduhnya berbuat tidak senonoh kepadanya dan mengatakan
bahawa Musa pernah tidur bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget
dengan tuduhan ini dan beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya atau
bagaimana beliau membela dirinya menghadapi tuduhan seperti itu. Kemungkinan
besar beliau salat dan menghadap Allah s.w.t. Kemudian beliau menemui wanita itu
dan bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak benar. Tiba-tiba
wanita itu menangis dan meminta ampun kepada Musa. Ia memberitahu Musa bahawa
Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang ditebarkannya terhadap
Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun. Kemudian Allah s.w.t
berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat yang menjelaskan
kepada manusia bahawa Dia Maha kuasa, Maha kuat, dan Maha Perkasa, dan bahawa
harta hanya sebahagian ujian dan fitnah, bukan sebagai suatu keutamaan yang
dengannya manusia dapat dinilai.
Mukjizat yang Allah s.w.t turunkan adalah membinasakan Qarun dan menenggelamkan
rumahnya dan hartanya. Qarun keluar untuk menemui kaumnya dengan menampakkan
pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun tersungkur di
bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa yang pertama kali terjadi atau itu
adalah gempa yang Allah s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita
ketahui adalah bahawa bumi terbelah dan ia menelan Qarun. Bumi menenggelamkan
istana-istana Qarun, hewan-hewan ternaknya, emasnya, peraknya dan semua
kekayaannya serta orang dekatnya.
Sebahagian dongeng mengatakan bahawa itu terjadi di Fuyum, dan danau Qarun
adalah yang dikenal orang-orang Mesir dengan nama ini. Ia adalah tempat yang dihuni
oleh Qarun dan menjadi tempat istananya dan tempat menyimpan hartanya. Alhasil, Al-
Quran al-Karim tidak menentukan tempat datangnya azab ini dan tidak juga menyebut
kapan itu terjadi. Al-Quran hanya menceritakan apa yang terjadi.
Nabi Musa berjalan bersama kaumnya menuju Baitul Maqdis. Nabi Musa
memerintahkan kaumnya untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada di
dalamnya serta berusaha menguasai tempat itu. Demikianlah telah datang ujian terakhir
kepada mereka setelah mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat Allah s.w.t serta
hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka untuk berperang -
kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum penyembah berhala.
Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki tanah suci. Nabi Musa berusaha
menyedarkan mereka dengan menceritakan bagaimana nikmat Allah s.w.t yang turun
kepada mereka; bagaimana Allah s.w.t menjadikan di tengah-tengah mereka para nabi
dan menjadikan mereka raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana
mereka diberi suatu kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh
seseorang pun di dalam dunia.
Kaum Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa di dalamnya
terdapat kaum yang perkasa dan mereka tidak akan masuk ke tanah suci sehingga
orang-orang yang kuat itu keluar darinya. Kitab-kitab kuno mengatakan bahawa mereka
keluar dalam jumlah enam ratus ribu. Nabi Musa tidak dapat mendapatkan seseorang
pun di antara mereka yang siap melakukan peperangan kecuali dua orang. Kedua
orang ini berusaha untuk menyedarkan kaum agar mereka memasuki tanah suci itu dan
berperang. Mereka berdua berkata: "Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu
darinya maka kalian akan mendapatkan kemenangan." Tetapi Bani Israil menampakkan
ketakutan dan tubuh mereka tampak gementar.
Pada kali yang lain - sesuai dengan tabiat mereka - mereka merindukan menyembah
berhala ketika melihat ada kaum yang menyembah berhala. Mereka telah rosak dan
mereka telah kalah dari dalam diri mereka; mereka telah biasa mendapatkan kehinaan
sehingga mereka tidak mampu berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu
untuk bersikap tidak sopan pada Nabi Musa as dan kepada Tuhannya. Kaum Nabi
Musa berkata kepadanya dalam kalimat yang terkenal:
"Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua,
sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. al-Maidah: 24)
Mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa
malu. Nabi Musa mengetahui bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah
mati tetapi pengaruhnya tetap tertanam dalam jiwa mereka di mana untuk
mengubatinya memerlukan waktu yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya
dan memberitahu-Nya bahawa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan
saudaranya. Nabi Musa berdoa buruk kepada kaumnya agar Allah s.w.t memisahkan
antara dirinya dan mereka. Allah s.w.t menurunkan keputusan-Nya kepada generasi ini
yang telah rosak fitrahnya. Yaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan selama
empat puluh tahun sehingga generasi ini mati atau mereka mencapai usia senja dan
kemudian akan lahir generasi yang baru; generasi yang belum rosak jiwanya dan
mereka akan dapat berperang dan memperoleh kemenangan.
Allah s.w.t berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah
nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-
Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikannya kepadamu apa yang belum
pernah diberikan-Nya kepada seseorang pun di antara umat-umat yang lain.' Hai
kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu,
dan janganlah kamu lari ke belakang (kerana takut kepada musuh) maka kamu
menjadi orang-orang yang rugi. Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di
dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami
sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka
keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkatalah dua orang di antara
orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas
keduanya: 'Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila
kamu memasukinya nescaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah
hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka
berkata: 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak memasukinya selama-lamanya selagi
mereka ada di dalamnya, kerana itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini
saja.' Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan
saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.
'Allah berfirman: '(Jika demikian), maha sesungguhnya negeri itu diharamkan
atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar
kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati
(memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. al-Maidah: 20-26)
Dimulailah hari-hari kesesatan. Mereka melewati tempat yang tertutup. Mereka memulai
dari tempat yang mereka akhiri dan sebaliknya. Alhasil, mereka berjalan tanpa tujuan
sepanjang siang-malam, pagi-sore. Mereka memasuki daratan di daerah Saina'. Nabi
Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu di dalamnya untuk pertama kalinya
dengan kalimat- kalimat Allah s.w.t. Bani Israil turun dari at-Thur, dan Nabi Musa
mendaki gunung sendirian. Di sana diturunkan Taurat dan Tuhannya berdialog
dengannya. Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan
saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai
wakilnya yang bertanggungjawab untuk mengurus kaumnya. Dan Musa pun pergi
menuju Tuhannya.
Allah s.w.t berfirman:
"Dan telah Kami jadikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu
waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan
sepuluh (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan
Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu
Harun: 'Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan
janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)
Orang-orang dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh hari
sepanjang malam dan siang tanpa mencecah makanan sedikit pun kemudian Nabi
Musa tidak ingin untuk berdialog kepada Tuhannya sementara mulutnya dalam
keadaan seperti mulut orang yang berpuasa. Lalu beliau memakan sedikit dari tanaman
bumi dan beliau mengunyahnya. Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau
berbuka?" Musa menjawab: "Ya Tuhanku, aku tidak ingin berbicara denganmu kecuali
mulutku dalam keadaan baik baunya." Allah s.w.t menjawab: "Tidakkah engkau
mengetahui wahai Musa bahawa mulut orang yang berpuasa di sisi-Ku lebih baik
daripada bau misik. Kembalilah engkau berpuasa selama sepuluh hari kemudian
datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as pun melaksanakan perintah-Nya.
Kami tidak mengetahui secara pasti, mengapa Nabi Musa berpuasa selama empat
puluh malam, bukan tiga puluh hari. Yang kita ketahui bahawa Allah s.w.t menambah
sepuluh hari yang lain. Setelah itu, turunlah Taurat; turunlah kepadanya sepuluh wasiat:
1. Perintah untuk hanya menyembah kepada Allah s.w.t dan tidak menyekutukan-
Nya.
2. Larangan untuk bersumpah bohong atas nama Allah s.w.t.
3. Menjaga kehormatan pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari
Sabtu sebagai hari ibadah.
4. Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5. menyedari bahawa Allah s.w.t yang dapat memberi dan membagi.
6. Janganlah engkau membunuh.
7. Janganlah engkau berzina.
8. Janganlah engkau mencuri.
9. Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10. Jangan engkau merasa tertipu atau terpikat kepada rumah temanmu atau
Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.
Para ulama salaf mengatakan bahawa kandungan sepuluh wasiat ini telah terdapat
dalam dua ayat dalam Al-Quran, yaitu dalam firman-Nya:
"Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu,
yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah
terhadap kedua ibu dan bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak
kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada
mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang
tampak di antaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu
kepadamu supaya kamu memahaminya. Dan janganlah kamu mendekati harta
anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia
dewasa. Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak
memikulkan beban kepada seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Dan
apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah
kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)
Allah s.w.t menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa ketika ia pergi untuk
menemui janji dengan Tuhannya. Musa ketika berpuasa selama empat puluh malam
bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika Allah s.w.t berdialog
dengannya, maka Musa merasakan cinta yang semakin bergelora kepada Tuhannya.
Kami tidak mengetahui perasaan apa yang ada di hati Musa ketika ia meminta kepada
Tuhannya agar dapat melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia
mendorong dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana bayangan
Anda terhadap cinta yang berhubungan dengan cinta kepada Allah s.w.t. Ia adalah
hakikat cinta. Kedalaman perasaan Nabi Musa kepada Tuhannya dan kecintaannya
kepada sang Pencipta, semua ini mendorongnya untuk meminta kepada Allah s.w.t
agar dapat melihatnya.
Allah s.w.t berfirman:
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah
Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah
Musa: 'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat
kepada Engkau.'" (QS. al- A'raf: 143)
Demikianlah dorongan cinta dari para pencinta sejati. Musa bertanya dan meminta
kepada Tuhannya sesuatu yang menakjubkan tetapi Allah s.w.t menjawabnya:
"Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf: 143)
Seandainya Allah s.w.t hanya mengatakan demikian maka ini pun sebagai bentuk
keadilan dari-Nya, tetapi keadaan di sini adalah keadaan cinta Ilahi dari Musa.
Dorongan cinta yang dibalas dengan dorongan cinta. Demikianlah Nabi Musa
mendapatkan rahmat dari Tuhannya. Allah s.w.t memberitahunya bahawa ia tidak akan
mampu melihat-Nya kerana tak satu pun dari makhluk yang tidak dapat "menangkap
cahaya" dari Allah s.w.t. Allah s.w.t memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika
gunung itu masih menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya.
Allah s.w.t berfirman:
"Tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala)
nescaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada
gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan.
(QS. al-A'raf: 143)
Tiada seorang pun yang dapat "menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa mengetahui
hakikat ini dan menyaksikan sendiri. Ash'aq adalah al-Maut (kematian) atau al-Ighma'
(keadaan tidak sedarkan diri atau pengsan). Kami tidak mengetahui bagaimana
keadaan yang dialami Nabi Musa ketika ia kehilangan kehidupannya atau kesedarannya.
"Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku
bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'" (QS. al-A'raf: 143)
Para mufasir klasik cukup serius meneliti dan memperbincangkan ayat- ayat ini.
Misalnya, mereka bertanya-tanya: bagaimana Nabi Musa meminta kepada Allah s.w.t
agar dapat melihat-Nya, padahal ia tahu bahawa itu adalah hal yang tidak mungkin atau
mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan saling adu argumentasi.
Mu'tazilah memiliki pendapat yang lain dan Ahlusunah pun memiliki pendapat yang lain
lagi. Pokok pembicaraan semuanya berkisar pada: bagaimana seorang nabi tidak
mengetahui - padahal ia adalah makhluk Allah s.w.t yang paling dekat dengan-Nya -
bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang sangat mustahil?
Kami kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan
kedalaman dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah yang
dilalui oleh Nabi Musa. Kita sekarang berada di hadapan puncak cinta kepada Allah
s.w.t. Dan seorang pencinta tidak menginginkan selain melihat "wajah" kekasihnya.
Menurut logik akal bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang mustahil, tetapi kapan
cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa terdorong untuk mendapatkan
pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang kayaknya ia sengaja melakukannya
untuk mewakili kita semua. Nabi Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia
lebih dahulu merasakan keadaan tidak sedarkan diri dan ia telah membuktikan kepada
kita dengan tubuhnya yang mulia dan rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat
"menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa dalam keadaan tak sedarkan diri lalu
ketika bangun ia memuja-muja Allah s.w.t dan bertaubat serta meminta ampun kepadaNya:
"Dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau.'" (QS. al-A'raf:143)
Mengapa Nabi Musa bertaubat? Orang-orang sufi berkata: Ia bertaubat dari dorongan
cinta yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil, padahal ia menyedari itu
adalah mustahil. Ini adalah tafsiran yang memuaskan yang didukung oleh konteks ayat-
ayat tersebut. Perhatikanlah ayat-ayat (tanda-kebesaran) Allah s.w.t dan bagaimana
Dia mengingatkan Musa terhadap apa-apa yang diterimanya dari berbagai macam
nikmat. Allah s.w.t berkata kepada Musa:
"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang
lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung
dengan-Ku. Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan
kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Dan telah
Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran
dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): 'Berpeganglah
kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-
perintahnya) dengan sebaik-baiknya.'" (QS. al-A'raf: 144-145)
Ahli tafsir memperhatikan firman Allah s.w.t kepada Musa: "Sesungguhnya Aku memilih
(melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan
untuk berbicara langsung dengan-Ku."
Kemudian dilakukanlah perbandingan antara Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain.
Dikatakan bahawa pemilihan ini dikhususkan hanya kepadanya dan di zamannya saja,
dan tidak berlaku di zaman sebelumnya kerana ada Nabi Ibrahim di zaman itu,
sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga pemilihan ini tidak
berlaku pada zaman setelahnya kerana ada Nabi Muhammad bin Abdullah saw dan ia
lebih baik dari mereka berdua.
Kami ingin menghindari perdebatan ini, bukan kerana kami percaya bahawa semua
nabi sama. Memang Allah s.w.t memberitahu kita bahawa Dia mengutamakan
sebahagian nabi atau sebahagian yang lain dan mengangkat darjat sebahagian mereka
atau sebahagian yang lain, tetapi pengutamaan ini adalah hal yang tidak boleh kita
sentuh. Hendaklah kita beriman kepada seluruh nabi dan kita harus menunjukkan
penghormatan kita kepada mereka semua. Adalah bukan hal yang sopan jika kita
mencuba membanding-bandingkan di antara para nabi. Yang utama adalah, hendaklah
kita meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah perjumpaan Musa
dengan Tuhannya. Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan
marah dan jengkel. Di alam wujud tidak ada seorang manusia yang memiliki
kelembutan dan kerelaan hati yang begitu besar seperti Nabi Musa, tetapi ia diberitahu
oleh Tuhannya bahawa kaumnya telah menyimpang dari jalannya. Oleh kerana itu, ia
kembali dalam keadaan marah dan jengkel kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:
"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa? Berkata Musa:
'Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku,
agar supaya Engkau redha (kepadaku). Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya,
Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah
disesatkan oleh Samiri. Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah
dan bersedih hati. " (QS. Thaha: 83-86)
Musa turun dari gunung dan membawa papan Taurat. Rasa-rasanya hatinya mendidih
dan jengkel. Kita dapat membayangkan bagaimana emosi yang membakar Nabi Musa
saat ia mengayunkan langkahnya menuju kaumnya. Betapa tidak, belum lama Nabi
Musa meninggalkan kaumnya dan menemui Tuhannya, mereka mendapatkan fitnah
melalui Samiri. Fitnah ini adalah, bahawa Bani Israil - ketika keluar dari Mesir -
membawa banyak dari harta perhiasan orang-orang Mesir dan emas-emas mereka.
Mereka mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam pesta perayaan mereka.
Kemudian mereka selamat kerana mukjizat pembelahan lautan di mana lautan
menenggelamkan Fir'aun dan tenteranya sehingga harta mereka yang berupa emas
dimiliki oleh Bani Israil.
Harun mengetahui bahawa emas tersebut bukan milik mereka lalu Harun memintanya
dari mereka dan menimbunnya di tanah. Bani Israil tidak memerlukannya kerana saat
ini mereka sedang tersesat. Mereka berjalan di tengah-tengah gurun sehingga tidak
bermanfaat bagi mereka emas- emas itu. Harun, saudara kandung Musa, menggali
tanah dan meletakkan emas-emas itu lalu menimbunkan di atasnya tanah. Samiri
melihat apa yang dilakukan oleh Harun. Setelah itu, dia mengeluarkannya dan
membuat sebuah patung sapi yang menyerupai sapi Ibis sesembahan orang-orang
Mesir. Samiri adalah seorang pemahat yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi
yang menarik di mana ketika dia meletakkannya di arah angin maka akan masuk
darinya udara dari celah bahagian belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri
membuat suara yang menyerupai suara sapi yang sebenamya.
Konon, rahsia kehebatan sapi ini adalah kerana Samiri telah mengambil segenggam
tanah yang dilalui Jibril ketika ia turun ke bumi dalam peristiwa mukjizat pembelahan
laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi Musa. Kemudian
dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui seorang utusan (Jibril) dan
meletakkannya bersama emas. Samiri membuat darinya anak sapi. Jibril as tidak
berjalan di atas sesuatu kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika Samiri menambahkan
tanah itu ke emas lalu membuat darinya anak sapi maka anak sapi itu dapat bersuara
seperti anak sapi yang sebenarnya. Demikianlah kisah Samiri. Kita mengetahui
sekarang bahawa jika tanah ditambahkan ke emas dan melebur maka tanah itu akan
terpisah dari emas dan akan meninggalkan bekas (lubang) di tempat terpisahnya itu.
Diduga kuat bahawa Samiri menggunakan tanah itu seperti tanah yang lain dalam
usaha untuk mengeringkan bahagian dalam dari anak sapi di mana patung itu berubah
menjadi patung yang mempunyai suara.
Setelah itu, Samiri keluar menemui Bani Israil dengan membawa apa yang dibuatnya.
Mereka bertanya kepadanya: "Apa ini, hai Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan
kalian dan tuhan Musa." Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui
Tuhannya?" Samiri menjawab: "Musa telah lupa ia pergi untuk menemui tuhannya di
sana, padahal sebenarnya tuhannya ada di sini." Akhirnya, Bani Israil menyembah anak sapi ini.
Barangkali pembaca akan merasa hairan terhadap fitnah ini. Bagaimana akal kaum itu
dapat tunduk sampai pada keadaan seperti ini? Bukankah mereka telah menyaksikan
mukjizat yang besar? Bagaimana mereka dengan mudah menyembah berhala?
Kebingungan tersebut segera hilang ketika kita lihat keadaan kejiwaan kaum yang
menyembah anak sapi itu. Mereka telah terdidik di Mesir pada saat mereka
menyembah berhala dan sangat mengkultuskan anak sapi Ibis. Mereka terdidik di
bawah kehinaan dan perbudakan sehingga jiwa mereka menjadi ternoda dan fitrah
mereka menjadi tercemar. Mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat dari Allah s.w.t tetapi
mukjizat itu berbenturan dengan jiwa-jiwa yang putus asa. Mukjizat ini tidak mampu
memuaskan mereka untuk mempercayai kebenaran. Mereka masih saja dihinggapi
keinginan untuk menyembah berhala. Mereka adalah para penyembah berhala seperti
tokoh-tokoh Mesir yang dahulu. Oleh kerana itu, mereka menyembah anak sapi. Sikap
mereka ini tidak terlalu mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka menyaksikan
mukjizat pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang menyembah berhala,
lalu mereka minta kepada Nabi Musa agar menjadikan tuhan bagi mereka seperti kaum
yang menyembah berhala itu.
Jadi, masalahnya adalah masalah klasik. Pada hakikatnya, hasrat untuk menyembah
berhala bererti menyembah berhala itu sendiri. Apa yang dilakukan Samiri adalah, ia
memanfaatkan kerinduan kaum untuk menyembah berhala. Kemudian Samiri memilih
agar anak sapi yang diciptakannya berbentuk emas kerana ia mengetahui bahawa
umumnya Bani Israil lemah (mudah terpedaya) pada emas. Akhirnya, fitnah yang
ditimbulkan oleh Samiri tersebar di sana sini. Harun sangat terpukul ketika mengetahui
Bani Israil menyembah anak sapi dari emas. Mereka terbagi menjadi dua kelompok:
minoriti dari mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan
kebohongan semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap
melampiaskan kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah-
tengah kaumnya dan mulai menasihati mereka. Ia berkata kepada mereka:
"Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri telah
memanfaatkan kebodohan kalian dengan menciptakan anak sapi itu. Lembu itu bukan
tuhan kalian dan bukan juga tuhan Musa:
"Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah ahu
dan taatilah perintahku." (QS. Thaha: 90)
Para penyembah anak sapi menolak nasihat Harun. Kelompok orang- orang yang
bodoh itu tidak mahu lagi menerima nasihat. Harun kembali memperingatkan mereka
dan menceritakan kembali kepada mereka bagaimana mukjizat-mukjizat Allah s.w.t
dapat menyelamatkan mereka, dan bagaimana Allah s.w.t memuliakan dan menjaga
mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan menolak segala nasihatnya. Mereka justru
melemahkan posisi Harun dan nyaris saja membunuhnya. Adalah jelas bahawa Harun
lebih lemah daripada Musa, sehingga para kaum tidak takut lagi. Harun khuatir jika ia
menggunakan kekuatan dan menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah,
maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah kaum dan akan tercipta perang saudara.
Akhirnya, Harun memilih untuk menunda hal itu sampai kedatangan Musa. Harun
mengetahui bahawa Musa seorang yang kuat yang mampu mengatasi fitnah ini tanpa
harus menumpahkan darah. Sementara itu, Bani Israil terus menari di sekitar anak sapi.
Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t melaknatnya - adalah penyebab fitnah ini, dan ia
menari-nari serta berputar-putar di sekeliling berhala.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya pada juz kesebelas menyebutkan fitnah yang timbulkan
oleh Samiri. Qurthubi berkata: "Imam Abu Bakar at-Thurthusi ditanya: "Apa yang
dikatakan oleh pemimpin kita al-Faqih tentang kelompok lelaki yang memperbanyak
zikrullah dan menyebut Muhammad saw. Sebahagian mereka menari-nari sehingga
pengsan. Mereka menghadirkan sesuatu dan memakannya. Apakah hadir bersama
mereka boleh atau tidak? Berilah kami fatwa, mudah-mudahan engkau diberi pahala."
Qurthubi menjawab pertanyaan ini dengan menukil penjelasan gurunya: "Mazhab sufi
(yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang menari-nari yang dipraktikkan oleh
sebahagian aliran sufi untuk mengekspresikan zikir) berdasarkan kebodohan dan
kesesatan serta sesuatu yang sia-sia. Islam hanya berdasarkan Kitab Allah s.w.t dan
sunah Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu adalah sesuatu yang pertama kali
diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri ketika mereka menjadikan anak sapi sebagai
tuhan mereka. Mereka menari-nari di sekitarnya dan berkumpul di situ. Itu adalah
agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak sapi."
Nabi saw duduk bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat
burung, kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa dan
wakilnya mencegah orang-orang itu untuk hadir di masjid dan selainnya. Dan tidak
diperkenankan bagi seorang pun yang beriman kepada Allah s.w.t dan hari kemudian
untuk hadir bersama orang-orang itu atau membantu kebatilan mereka. Ini adalah
pendapat mazhab Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain dari
para imam kaum Muslim.
Demikianlah pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda dapat
membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana
ketakwaannya. Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun
dari gunung untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum
saat mereka menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat Nabi
Musa muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka. Nabi
Musa berteriak dan berkata:
"Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati,
berkatalah dia: 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah
kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)
Musa berjalan menuju ke Harun, lalu ia meletakkan papan Taurat dengan tangannya di
atas tanah. Tampaknya api kemarahan telah membakamya. Musa memegang Harun
dari rambut kepalanya sampai rambut janggutnya sambil berkata:
"Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,
(sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja)
menderhakai perintahku?" (QS. Thaha: 92-93)
Musa bertanya, "Apakah Harun tidak mentaati perintahnya, bagaimana ia mendiamkan
fitnah ini; bagaimana ia tetap bersama mereka dan tidak meninggalkan mereka serta
berlepas diri dari perbuatan mereka; bagaimana ia tetap diam dan tidak berusaha
melawan mereka, bukankah orang yang diam atau membiarkan suatu kesalahan itu
bertanda bahawa ia merestuinya atau bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan
semakin meningkat ketika gelora api kemarahan Musa semakin membara. Harun
berbicara kepada Musa dan meminta kepadanya untuk melepaskan kepalanya dan
janggutnya kerana mereka berdua berasal dari ibu yang satu. Harun mengingatkan
Musa akan kedekatan hubungannya melalui ibu, bukan melalui ayah agar hal itu lebih
dapat membuat Musa merasa kasihan kepadanya:
"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan
jangan (pula) kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)
Harun memberi pengertian kepada Musa bahawa ia sama sekali tidak bermaksud
menentang perintahnya, dan ia pun tidak menunjukkan sikap merestui penyembahan
anak sapi, tetapi ia khuatir jika ia meninggalkan mereka dan pergi lalu Musa bertanya
kepadanya, mengapa ia tidak tetap tinggal bersama mereka? Mengapa seorang yang
bertanggungjawab kepada mereka justru meninggalkan mereka? Di samping itu, ia juga
khuatir jika ia memerangi mereka dengan kekerasan maka terjadi peperangan di antara
mereka. Lalu Musa akan bertanya kepadanya, mengapa ia membikin perpecahan di
antara mereka dan mengapa ia tidak menunggu kembalinya Musa:





























NABI MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ
'Auj bin Unuq adalah manusia yang berumur sehingga 4,500 tahun. Tinggi tubuh
badannya di waktu berdiri adalah seperti ketinggian air yang dapat menenggelamkan
negeri pada zaman Nabi Nuh a.s. Ketinggian air tersebut tidak dapat melebihi lututnya.
Ada yang mengatakan bahawa dia tinggal di gunung. Apabila dia merasa lapar, dia
akan menghulurkan tangannya ke dasar laut untuk menangkap ikan kemudian
memanggangnya dengan panas matahari. Apabila dia marah atas sesebuah negeri,
maka dia akan mengencingi negeri tersebut hinggalah penduduk negeri itu tenggelam
di dalam air kencingnya.
Apabila Nabi Musa bersama kaumnya tersesat di kebun teh, maka 'Auj bermaksud
untuk membinasakan Nabi Musa bersama kaumnya itu. Kemudian 'Auj datang untuk
memeriksa tempat kediaman askar Nabi Musa a.s., maka dia mendapati beberapa
tempat kediaman askar Nabi Musa itu tidak jauh dari tempatnya. Kemudian dia
mencabut gunung-gunung yang ada di sekitarnya dan diletakkan di atas kepalanya
supaya mudah untuk dicampakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s.
Sebelum sempat 'Auj mencampakkan gunung-gunung yang dijunjung di atas kepalanya
kepada askar-askar Nabi Musa a.s, Allah telah mengutuskan burung hud-hud dengan
membawa batu berlian dan meletakkannya di atas gunung yang dijunjung oleh 'Auj.
Dengan kekuasaan Allah, berlian tersebut menembusi gunung yang dijunjung oleh 'Auj
sehinggalah sampai ke tengkuknya. 'Auj tidak sanggup menghilangkan berlian itu,
akhirnya 'Auj binasa disebabkan batu berlian itu.
Dikatakan bahawa ketinggian Nabi Musa a.s adalah empat puluh hasta dan panjang
tongkatnya juga empat puluh hasta dan memukulkan tongkatnya kepada 'Auj tepat
mengenai mata dan kakinya. Ketika itu jatuhlah 'Auj dengan kehendak Allah S.W.T dan
akhirnya tidak dapat lari daripada kematian sekalipun badannya tinggi serta memiliki kekuatan yang hebat.
















NABI MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH
Menurut riwayat sementara ahli tafsir, bahawasanya tatkala Nabi Musa berada di Mesir,
ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat
digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai
tuntunan bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia
dan bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada
Allah. Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan
haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan
yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.
Maka setelah perjuangan menghadapi Fir'aun dan kaumnya yang telah tenggelam
binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab
suci untuk menjadi pedoman dakwah dan risalahnya kepada kaumnya. Lalu Allah
memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh,
iaitu semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan
diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang diminta.
Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus menghadap
kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan akan bermunajat
dengan Tuhannya dalam keadaan mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya.
Maka ia menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya
menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas
perintah Allah. Berkatalah malaikat itu kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau
harus menggosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut
anggapanmu kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang
berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka
akibat tindakanmu itu, Allah memerintahkan kepadamu berpuasa lagi selama
sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari."
Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih di antara pengikutnya untuk
menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi Harun sebagai wakilnya
mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina
mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh
Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia
menjawab:"Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai Tuhanku. Aku cepat-
cepat datang lebih dahulu untuk mencapai redha-Mu."
Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhanku, nampakkanlah
zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu"
Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat bukit
itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya
engkau akan dapat melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan
pandangannya kejurusan bukit yang dimaksudkan itu yang seketika itu juga
dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas.
Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh
pengsan. Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah
ia seraya memohon ampun kepada Allah atas kelancangannya itu dan berkata:
"Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku
dan aku akan menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu."
Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa kitab suci
"Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara
ahli tafsir yang di dalamnya tertulis segala sesuatu secara terperinci dan jelas mengenai
pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai oleh Allah.
Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya: "Wahai Musa,
sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di
masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-
Ku. Aku telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan dapat bercakap-
cakap langsung dengan Aku, maka bersyukurlah atas segala kurnia-Ku
kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu.
Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran
yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan
membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu
Bani Isra'il agar mematuhi perintah-perintah- Ku jika mereka tidak ingin Aku
tempatkan mereka di tempat-tempat orang- orang yang fasiq."
Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah
"Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~
"83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~
Berkata Musa: "Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera
kepadamu ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 }
"142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu
waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan
sepuluh {malam lagi}, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya
empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, iaitu Harun: "Gantilah
aku dalam {memimpin} kaumku dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti
jalan orang-orang yang membuat kerosakan". 143~ Dan tatkala Musa datang
untuk {munajat} dengan {Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan
telah berfirman {langsung} kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku
nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau."
Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke
bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat
melihat-Ku." Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar
kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku
orang yang pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya
Aku memilih kamu lebih dari manusia yang lain {di masamu} untuk membawa
risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang
teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk
orang-orang yang bersyukur." 145~ Dan Kami telah tuliskan untuk Musa luluh
{Taurat} segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman:
"Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang
kepada {perintah-perintahnya} yang sebaik-baiknya, nanti Aku akan
memperlihatkan kepadamu negeri orang- orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~ 145 }




























JANGGUT NABI HARUN a.s. BERWARNA DUA
Nabi Musa Alaihisalam telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wataala supaya pergi
ke bukit Sina untuk menerima wahyu. Semasa pemergian Nabi Musa, segala urusan
telah diserahkan kepada saudaranya Nabi Harun a.s. Pemergian Nabi Musa mengambil
masa selama 40 hari dan 40 malam.
Ketiadaan Nabi Musa a.s telah mengembirakan seorang musuh dalam selimut bernama
Samiri. Dia telah memunafaat masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi Musa yang
selama ini telah bersusah payah membentuk dan memberi keimanan kepada mereka.
Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah setelah pulang dari Mesir, kaki kuda
yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah tenggelam dalam pasir di tengah lautan yang
kering itu. Dengan segala usaha yang dilakukan oleh Nabi Musa, kuda yang
ditungganginya tetap tidak mahu meneruskan perjalanan untuk menyeberangi Laut Merah.
Kerana itu Allah telah mengutuskan malaikat Jibrail dengan menunggang kuda betina.
Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah mengejar kuda
yang ditunggangi oleh Malaikat Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam rombongan
tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi
oleh Jibrail dan disimpannya untuk dijadikan azimat.
Apabila tiba masa yang sesuai iaitu semasa Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina, Samiri
membuat patung seekor lembu daripada emas murni. Setelah siap, patung itu diisinya
dengan pasir yang di ambil dari bekas tapak kaki kuda Jibrail. Dalam waktu yang
singkat sahaja patung lembu tersebut dapat mengeluarkan suara. Melihat keadaan
tersebut, umat Nabi Musa datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri memimpin
mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu.
Nabi Harun sangat marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu berusaha
mencegah umatnya daripada terus syirik kepada Allah bahkan umatnya mengancam
Nabi Harun untuk membunuhnya jika Nabi Harun terus melarang mereka menyembah
patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat apa-apa untuk melarang
mereka daripada terus menyembah patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit
Sina, Nabi Musa sangat marah kerana melihat umatnya telah murtad.
Nabi Harun telah di persalahkan dalam hal ini. Dalam keadaan marah yang tidak dapat
dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun menyebabkan janggut yang
dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih manakala janggut yang tidak
terkena tangan Nabi Musa kekal berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi Harun
mempunyai dua warna iaitu putih dan hitam.
Komentar
Posting Komentar